Minggu, 26 Juni 2016

Coryza, Penyakit Bakterial yang Bandel



 Penyakit pada unggas ini disebabkan oleh Haemophillus paragallinarum yang saat ini lebih dikenal dengan Avibacterium paragallinarum.  Bakteri penyebab snot atau coryza ini memiliki ciri berupa gram negative, pleomorphic, non motil dan negative terhadap uji katalase.  Biasa menyerang pada unggas umur 18-23 minggu, saat ayam mulai berproduksi dan menghasilkan telur sehingga dapat merugikan peternak.   Kerugian yang dapat ditimbulkan antara lain adalah penurunan produksi telur sebesar 5 -10% dari total produksi, pada ayam petelur dara dapat menyebabkan pengafkiran hingga dapat mencapai 40%.  Snot dapat bersifat akut maupun kronis, dikatakan kronis karena memang setiap unggas yang telah sembuh dari infeksi bakteri dapat bersifat carrier. 
            Gejala yang dapat ditimbulkan dari infeksi bakteri ini awalnya berupa bersin-bersin, mata sedikit bengkak dan berair, sumbatan pada nostril dan sinus (biasanya diikuti adanya cairan yang bening).  Gejala selanjutnya yang timbul yaitu berupa perubahan cairan di nostril dan hidung menjadi lebih kental, kuning dan berbau khas.  Eksudat semakin mengental sehingga menyumbat nostril dan sinus yang menyebabkan timbulnya gejala pembengkakkan pada wajah dan mata, terkadang unggas juga mengalami pembengkakan di pial.  Eksudat pada hidung akan menyebabkan debu dan kotoran di kandang yang bertebaran di udara nempel pada lubang hidung sehingga terlihat kotor.   Peningkatan konsumsi air juga terjadi ketika infeksi sedang berlangsung, maka gejala seperti diare terlihat karena yang sebenarnya terjadi adalah wet droop yaitu kotoran yang berair karena banyak minum.  Kondisi banyak minum dan sakit menyebabkan penurunan intake pakan, masalah yang lebih komplek akan terjadi seperti nutrisi tidak tercukupi, metabolisme terganggu dan seluruh organ tubuh terpengaruh, termasuk saluran reproduksi yang akhirnya menyebabkan penurunan produksi telur.
            Penyakit coryza bersifat sangat kontagius/menular, dengan angka kesakitan sangat tinggi hingga mencapai 100 %.  Penularan dapat terjadi secara horizontal melalui udara maupun pencemaran kandang sehat oleh material maupun orang dari kandang yang sudah terinfeksi atau pernah terinfeksi.  Masa inkubasi dari coryza berkisar antara 1-3 hari, dan proses penyembuhan dapat berlangsung selama dua minggu.  Ayam yang sembuh dari penyakit akan menjadi kebal terhadap coryza selama kurang lebih 12 bulan.
             Pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan vaksin coryza.  Vaksin coryza tidak membuat ayam kebal terhadap infeksi bakteri coryza melainkan untuk mengurangi gejala dan menurunkan penyebaran dan pelepasan bakteri.  Vaksinasi sesuai dengan anjuran produsen dapat dilakukan dua kali, yaitu sekali pada umur 6-8 minggu dan yang kedua diulang 6-8 minggu kemudian, sebelum perkiraan terjadinya kasus coryza yang biasanya menyerang pada umur 16-18 minggu.
            Ayam yang telah positif terinfeksi bakteri penyebab coryza dapat diobati dengan menggunakan antibiotik, tetapi sebelum melakukan pengobatan maka yang pertama harus dilakukan adalah memisahkan ayam yang terinfeksi dari ayam yang sehat.  Ayam yang terinfeksi, secara individu dapat diobati dengan menggunakan INTERTRIM LA dengan dosis 0,2 ml/kg berat badan, sedangkan apabila terjadi outbreak dan seluruh kandang terinfeksi maka pengobatan secara massal perlu dilakukan dengan memberikan INTERTRIM-500 ORAL melalui air minum dengan dosis 1 ml : 4 liter, atau dapat pula dengan menggunakan COTRIMAZINEdengan dosis 1 gram : 2 liter air minum selama 3 sampai 5 hari.  Sebenarnya cara penularan coryza yang mudah dapat dicegah dengan penyemprotan desinfektan secara rutin menggunakan SPECTARAL,SPECTARAL-25maupun BENZAKLIN.  Untuk mengembalikan kondisi dan kualitas saluran reproduksi maka pemberian vitamin E dan selenium berupa INTROVIT-E-SELEN WS dosis 1 gram : 2 liter dan INTROVIT AD3E WS dosis 1 gram : 4 liter selama 5 hari berturut-turut sangat dibutuhkan sehingga ayam dapat berproduksi secara optimal.

Reaksi:

0 komentar: