Kamis, 15 Oktober 2009

Menghitung Index Performance (IP) Ayam Broiler

Menghitung Index Performance (IP) Ayam Broiler

Penghitungan Index Performance (IP) merupakan salah satu parameter keberhasilan
pemeliharaan ayam broiler. Sedangkan pencapaian kinerja pemeliharaan ayam broiler yang
utama dilakukan melalui pengukuran 5 (lima) parameter, yaitu :
1) Pencapaian bobot badan atau Body Weight (BW);
2) Tingkat konsumsi pakan atau Feed Coversion Ratio (FCR);
3) Rata-rata Umur atau Age saat dipanen (A/U);
4) Tingkat kematian atau Mortality (M);
5) Nilai Produksi (NP)/Indek Performance (IP).

Pengukuran dan penilaian kelima parameter kinerja pemeliharaan mencerminkan kualitas
pemeliharaan ayam broiler. Cara mengukur/menghitung kelima parameter prestasi
pemeliharaan ayam broiler adalah seperti berikut :

Tulisan Lengkap Klik Disini

Rabu, 14 Oktober 2009

Metode Sexing Pada Anak Ayam (DOC)


Sexing DOC bisa dilakukan dengan dua metode: 1) sexing kloaka atau 2) sexing bulu. Setiap metode memiliki kesulitannya masing-masing sehingga jarang digunakan oleh pemilik peternakan skala kecil. Sexing kloaka didasarkan pada identifikasi visual jenis kelamin berdasarkan bentuk organ seksual. Sexing bulu didasarkan pada perbedaan antara karakteristik pada saat menetas.

Sexing kloaka pada ayam saat menetas memiliki tingkat kesulitan tersendiri yang menjadikannya cenderung lebih susah dibandingkan menentukan jenis kelamin jenis hewan lainnya. Alasannya karena organ seksual unggas terletak di dalam tubuhnya dan tidak mudah dibedakan. Organ kopulatori ayam bisa diidentifikasi apakah berjenis kelamin jantan atau betina dari bentuknya, namun ada lebih dari 15 perbedaan bentuk untuk diperhatikan. Oleh karena itu, hanya ada beberapa orang memiliki pengalaman dalam menentukan jenis kelamin unggas karena proses yang sulit tersebut. Kebanyakan dari mereka dilatih dan dipekerjakan di hatchery komersial. Pelatihan menjadi chick sexer ini sangat sulit dan terlalu panjang sehingga rata-rata pemilik peternakan unggas jarang menggunakannya.
Sexing bulu berdasarkan ada karakteristik yang membedakan antara ayam jantan dan betina. Metodenya sangat mudah dipelajari oleh anak kandang, namun kemunculan bulu ditentukan oleh sifat-sifat genetik terseleksi yang biasanya tampak pada strain ayam. Kebanyakan strain ayam tidak memiliki karakteristik sexing bulu dan pertumbuhan bulu dari kedua jenis kelamin muncur identikal (hampir sama).


Metode paling sesuai dari sexing ayam yang dilakukan oleh para pemilik peternakan yaitu memelihara unggas sampai mulai menunjukkan karakteristik sekunder alami dari ujenis kelaminnya. Pada jantan, jengger dan pialnya akan lebih besar dibandingkan betina dan kepala jantan akan lebih cekung dan terlihat maskulin. Betina akan tumbuh lebih lambat dibanding jantan dan lebih jernih serta terlihat feminin. Pada beberapa varietas, bulu dari tiap jenis kelamin akan berkembang sesuai karakteristik pola warna yang mengidentifikasinya. Varietas unggas ini sama dengan strain sexing bulu yang disebutkan di atas. Sexing berdasarkan karakteristik seksual sekunder biasanya tampak saat ayam berumur 4 hingga 6 minggu

Sumber: Missisipi State University (2008)
http://cjfeed.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=333&Itemid=202

Senin, 12 Oktober 2009

JUDUL : PENGARUH PEMBERIAN PROBIOTIK KOMBUCHA TERHADAP PERSENTASE KARKAS, BOBOT LEMAK ABDOMEN DAN ORGAN DALAM PADA AYAM BROILER

PUSTAKA IPTEK

Jurnal Saint dan Teknologi BPPT

PENGARANG : Sindu Akhadiarto

V4.n5.27

Abstract

Fermented tea of kombucha is one of natural feed additive which as probiotics and to prevent bacterial pathogen. Material contains of kombucha like organics acids, enzym, vitamin, live microrganism, and another nutrient will be advantage for broiler chicken. Purpose of this reseach is to evaluate kombucha as feed additive for carcass quality, body fat and edible offal. One hundred day old chicken (DOC) used for 3 treatment : comercial feed type 511 from PT Charoen Phokphan, Selfmade feed (local feed) and local feed plus kombucha (1% of water). Percentage of carcass, boy fat and edible offal (Heart, gizzard, lever, and caecum) measured when 35 day old broiler chicken. Percentage of carcass increase 2% when kombucha fed into water, but kombucha doesnt effect for edible offal and body fat (abdominal and surround the upper and lower parts of the digestive tract). Comercial feed result high percentage of carcass because its has high value at body fat.

Katakunci : Feed Additive , pakan lokal, kombucha.

Sumber :
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol.4, No.5, (Agustus 2002), hal. 190-193 Humas-BPPT/ANY

PENDAHULUAN

Biaya pakan dalam usaha budidaya ternak unggas (ayam broiler), merupakan komponen terbesar, yaitu sekitar 70%. Mahalnya biaya pakan ini disebabkan karena sebagian besar bahan bakunya masih diimport. Di sisi lain, ketersediaan yang tidak menentu dan tidak adanya jaminan stabilitas kualitas bahan pakan dalam negeri, menyebabkan penggunaan bahan baku impor meningkat. Oleh karena itu penggunaan bahan baku pakan impor akan selalu diusahakan berkurang dengan menggunakan bahan pakan lokal yang berpotensi dan memiliki jumlah yang cukup banyak. Beberapa bahan pakan lokal memiliki kandungan nutrisi rendah dan adanya zat anti nutrisi, oleh karena itu diperlukan usaha untuk mengolah dan menambah bahan pakan imbuhan ( feed additive ) untuk membantu meningkatkan pemanfaatan pakan berbahan baku lokal.

Feed additive (pakan tambahan) terdiri dari vitamin, mineral, antibiotik, kontrabiotik, dan faktor lain seperti hormon pertumbuhan yang umumnya digunakan untuk meningkatkan efisiensi pakan dan performan unggas. Beberapa pakan tambahan seperti hormon dan antibiotik telah dilarang penggunaannya di Indonesia karena terkait dengan isu global peternakan unggas saat ini yaitu adanya cemaran residu yang berbahaya bagi konsumen, resistensi bakteri tertentu dan isu lingkungan. Hanya beberapa jenis antibiotik yang masih dapat dipergunakan, diantaranya avilamycin dan flavomycin.

Ayam broiler memerlukan pakan yang berkualitas tinggi untuk menopang pertumbuhan-nya. Disamping itu, keberadaan pakan tambahan dalam pakan terbukti dapat meningkatkan efisiensi pakan, sehingga dapat menguntungkan para peternak ayam broiler.

Beberapa masalah akan muncul dengan pemberian pakan berkualitas tinggi dan penggunaan pakan tambahan khususnya antibiotik pada ayam broiler. Kandungan lemak yang tinggi dan adanya residu antibiotik dalam karkas ayam broiler merupakan dua masalah utama yang perlu ditanggulangi agar dapat menghasilkan produk yang aman dikonsumsi. Akumulasi antibiotik dalam tubuh manusia dapat menyebabkan sejumlah mikroflora menjadi resisten terhadap antibiotik, sehingga untuk jangka panjang membahayakan kesehatan manusia, sedangkan akumulasi lemak dalam tubuh ternak dapat menurunkan nilai komoditi dari ternak tersebut. Dalam upaya menghasilkan produk peternakan yang sehat, maka diperlukan alternatif penggunaan pakan tambahan yang bersifat alami.

Kombucha adalah teh fermentasi yang telah lama dikenal sebagai biofarmasi untuk manusia di beberapa negara. Teh fermentasi kombucha mengandung beberapa mikroorganisme menguntungkan yaitu Acetobacter xylinium , Bacterium glucocum , Acetobacter kategonum, Picha fermentans serta Sacharomyces (2) . Hasil fermentasinya berupa suspensi yang dapat menghasilkan asam glukoronat, asam laktat, vitamin, bahan antibiotik, dan produk lainnya (3).

KESIMPULAN

Hasil penelitian secara umum menunjukkan bahwa teh fermentasi kombucha dapat diberikan pada ayam broiler dan tidak berpengaruh negatif. Penambahannnya berpengaruh meningkatkan persentase karkas sebesar 2 %. Persentase organ dalam pada perlakuan pakan lokal dengan pakan lokal ditambah kombucha tidak nyata berbeda pada organ hati, seka, gizard dan jantung, demikian pula dengan lemak abdomen dan lemak organ dalamnya.

Perbedaan antara pakan komersial dan pakan lokal sangat nyata pada setiap parameter yang diukur. Persentase karkas pakan komersial lebih besar dibandingkan dengan pakan lokal karena dipengaruhi oleh komposisi lemak abdomen dan organ dalam.

Disarankan penelitian penggunaan teh fermentasi kombucha dilanjutkan pada level penggunaan yang lebih bervariasi untuk mengetahui pengaruhnya secara lebih rinci.

sumber : http://www.iptek.net.id/ind/?mnu=8&ch=jsti&id=303

RESPON AYAM PEDAGING TERHADAP RANSUM YANG MENGANDUNG TEPUNG CACING TANAH (Lumbricus rubellus)

HETI RESNAWATI
Balai Penelitian Ternak, PO Box 221, Bogor 16002
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005

ABSTRAK
Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh tepung cacing tanah dalam ransum terhadap
penampilan ayam pedaging. Sebanyak 80 ekor ayam umur sehari strain Arbor Acre (AA) dibagi atas 4
perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan terdiri dari ransum yang mengandung berbagai taraf tepung cacing tanah
yaitu 0, 5, 10 dan 15%, diberikan pada ayam umur 0-5 minggu. Pertambahan bobot hidup per ekor per
minggu pada masing-masing perlakuan berturut-turut adalah 280,2; 282,5; 266,0 dan 280,3 g; konsumsi
ransum adalah 506,95; 512,32; 515,46 dan 501,67 g; konversi ransum adalah 2,05; 1,96; 2,02 dan 2,05g.
Hasil percobaan memperlihatkan bahwa pertambahan bobot hidup, konsumsi ransum, konversi ransum, bobot
karkas, bobot bagian karkas dan organ dalam tidak nyata (P>0,05) dipengaruhi oleh perlakuan ransum.
Keadaan ini mengindikasikan bahwa ransum yang mengandung tepung cacing tanah 5-15% sampai umur 5
minggu dapat direkomendasikan untuk mencapai penampilan optimal ayam pedaging.
Kata Kunci: Tepung Cacing Tanah, Penampilan, Broiler

Dokumen Lengkap Klik disini

Rabu, 30 September 2009

PENANGANAN PRA PANEN AYAM PEDAGING

Dr. Ir. Nurul Huda, MSi
Pusat Studi Pangan dan Gizi
Universitas Bung Hatta
Disampaikan Pada Seminar dan Pelatihan Penanganan
Daging Ayam Broiler, Hotel Muara, Padang
31 Oktober 2002

Sebagai sebuah negara yang terbuka, Pemerintah Indonesia tidak dapat mencegah dari masuknya pengaruh kebudayaan dan teknologi asing di segala aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Salah satu contohnya adalah pengaruh masuknya kebudayaan makanan instant (fast food), terutama dilingkungan masyarakat kota dan kaum muda. Produk Burger, Pizza, Fried Chicken, Donut, Kentang goreng yang tak pernah dikenal sebelumnya, pada saat ini sangat mudah mendapatkannya di pusat-pusat perbelanjaan dan aktifitas masyarakat kota. Diantara beragam jenis fast food yang berkembang pesat di negara kita terseburt, fast food ayam goreng (fried chicken) merupakan jenis fast food yang paling populer dan pesat perkembangannya Pusat-pusat penjualan Kentucky Fried Chicken, McDonald, Texas Fried Chicken, California Fried Chicken dan lain-lain seakan-akan sudah mendominasi penjualan ayam goreng dan menjadi bagian dari gaya hidup modern.
Pada umumnya, pusat penjualan tersebut merupakan usaha franchaise dari luar negeri dan dimiliki oleh pemodal kuat. Produk yang mereka hasilkan sudah memiliki standar tertentu dengan jaminan mutu yang tinggi. Harga yang ditawarkan cenderung hanya terjangkau oleh golongan masyarakat berpenghasilan menengah ke atas. Kekosongan pemasaran ayam goreng untuk konsumen golongan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah mulai dilirik oleh pengusaha lokal yang bermodal kecil dan sederhana. Dengan menggunakan peralatan dan fasilitas pemasaran yang sederhana, pengusaha kecil ini mencoba memanfaatkan derasnya perobahan gaya hidup modern ini dengan mendirikan warung-warung ayam goreng dipinggir jalan. Keadaan ini juga sudah terjadi di Sumatera Barat, khususnya Kota Padang sebagai Ibu Kota Propinsi.Aktivitas Industri Peternakan.
Bertambah pesatnya perkembangan industri penjualan ayam goreng ini memberikan implikasi positif terhadap perkembangan industri peternakan. Peningkatan ini juga diiringi dengan tututan akan mutu bahan baku. Ayam yang dikehendaki bukan saja harus berada pada suatu ukuran tertentu, namun proses paska panennyapun juga harus dilakukan dengan prosedur yang sesuai dengan memperhatikan mutu daging ayam yang akan dihasilkan. Semakin terpenuhi
tuntutan ini akan semakin tinggi mutu bahan baku ayam yang dihasilkan dan akan semakin tinggi pula nilai jual yang dapat diperoleh. Sebaliknya semakin rendah kemampuan peternak memenuhi tuntutan ini, akan semakin rendah nilai jual dari daging ayam yang dihasilkan.
Proses pra panen merupakan proses setelah hewan diputuskan untuk disembelih, transportasi ketempat penyembelihan, penyembelihan, pemisahan bagian-bagian, pembersihan dan penyimpanan. Sedangkan pascapanen meliputi proses perubahan dari bahan mentah (segar atau beku) menjadi produk yang siap untuk dikonsumsi. Dalam proses pra panen dan pasca panen ini terdapat beberapa istilah yang sepatutnya diketahui oleh seorang peternak penghasil daging ayam yaitu:

Artikel Lengkap klik disini

Minggu, 23 Agustus 2009

Khasiat hati ayam broiler

Hasil penelitian mengungkapkan sebanyak 85% daging dan 37% hati ayam broiler di Jabotabek mengandung residu kelompok antibiotik penisilin cukup besar. Jika daging dan hati ayam itu dikonsumsi dalam jangka waktu cukup panjang berisiko munculnya berbagai penyakit.

Hal itu diungkapkan dua peneliti, Rusiana dan DN Iswarawanti, pada Seminar SEAMO (Southeast Asian Ministers of Education Organization) dan Tromed RCCN (Tropical Mendicine Regional Center for Community Nutrition) Universitas Indonesia di Jakarta, Senin (22/12).

Kepada Media, Rusiana yang juga menjabat Kepala Seksi Penilaian Produk Pangan Fungsional Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) mengatakan telah melakukan penelitian ayam broiler di Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi). Sebanyak 80 ekor ayam broiler dijadikan sampel untuk penelitian.

Berdasarkan hasil penelitiannya, ternyata hasilnya 85% daging ayam broiler dan 37% hati ayam broiler itu mengandung residu antibiotik. Rusiana menjelaskan dari sampel daging dan hati broiler itu terdapat residu antibiotik tylosin, penicillin, oxytetracycline, dan kanamycin.

Penelitian sampel kelompok antibiotik menggunakan metode Bioassay dan hasil analisisnya dinilai berdasarkan Codex Alimentarius Commission (CAC) atau standar pangan yang digunakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Pangan Dunia (FAO), dan standar European Economic Community (EEC).

“Berdasarkan hasil penelitian terungkap bahwa kelompok antibiotik penisilin merupakan residu yang paling banyak ditemukan di hati ayam,” kata Rusiana.

Sementara itu, Iswarawanti menambahkan hati ayam broiler mengandung lebih banyak antibiotik kelompok penisilin dibandingkan daging. Kandungan antibiotik penisilin mencapai 41,3% jika dihitung berdasarkan maximum residue limit–MRL per batas maksimal residu). Angka itu masih di bawah 45% kandungan MRL residu penisilin.

Namun, dia mengingatkan bahwa sebenarnya kelompok antibiotik penisilin itu bukan digunakan untuk ternak ayam, melainkan untuk pengobatan manusia. Jadi, jika daging dan hati ayam broiler itu dikonsumsi dalam jangka waktu panjang sangat membahayakan kesehatan manusia.

Iswarawanti menjelaskan penyakit yang ditimbulkan akibat mengonsumsi daging dan hati ayam broiler yang mengandung antibiotik itu secara berkepanjangan bisa menyebabkan teratogenic effect, carcinogenic effect, mutagenic effect dan resisten terhadap antibiotik sendiri.

Rusiana menjelaskan bahwa teratogenic effect adalah kandungan antibiotik bisa menyebabkan efek buruk untuk ibu yang mengandung, terutama untuk janinnya. Ibu yang mengandung bisa mengalami keguguran atau bayi yang dilahirkan cacat.

Kalau carcinogenic effect, antibiotik yang masuk ke dalam tubuh dapat menyebabkan munculnya penyakit kanker. Sedangkan mutagenic effect, antibiotik dapat menimbulkan mutasi bagi mikroorganisme seperti bakteri.

Sementara itu, bagi mereka yang banyak mengonsumsi daging dan hati ayam yang mengandung antibiotik, tubuhnya akan mengalami resistan terhadap reaksi antibiotik. Maka, obat antibiotik yang dikonsumsi orang yang banyak makan hati ayam yang mengandung antibiotik tidak akan menimbulkan efek apa pun.

“Antibiotik itu juga bisa menimbulkan alergi seperti menimbulkan bintik-bintik dan gatal-gatal pada kulit,” tambah Rusiana.

Dia menjelaskan, untuk daging yang kandungan antibiotiknya rendah relatif aman. Tetapi, hati ayam yang banyak ditemukan mengandung lebih banyak antibiotik penisilin sudah perlu hati-hati untuk mengonsumsinya. ”Padahal, selama ini banyak orang yang mengharapkan mendapat asupan zat besi dengan memakan hati ayam. Tetapi, hati ayamnya ternyata belum aman,” katanya.
Hasil penelitian mengungkapkan sebanyak 85% daging dan 37% hati ayam broiler di Jabotabek mengandung residu kelompok antibiotik penisilin cukup besar. Jika daging dan hati ayam itu dikonsumsi dalam jangka waktu cukup panjang berisiko munculnya berbagai penyakit.

Hal itu diungkapkan dua peneliti, Rusiana dan DN Iswarawanti, pada Seminar SEAMO (Southeast Asian Ministers of Education Organization) dan Tromed RCCN (Tropical Mendicine Regional Center for Community Nutrition) Universitas Indonesia di Jakarta, Senin (22/12).

Kepada Media, Rusiana yang juga menjabat Kepala Seksi Penilaian Produk Pangan Fungsional Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) mengatakan telah melakukan penelitian ayam broiler di Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi). Sebanyak 80 ekor ayam broiler dijadikan sampel untuk penelitian.

Berdasarkan hasil penelitiannya, ternyata hasilnya 85% daging ayam broiler dan 37% hati ayam broiler itu mengandung residu antibiotik. Rusiana menjelaskan dari sampel daging dan hati broiler itu terdapat residu antibiotik tylosin, penicillin, oxytetracycline, dan kanamycin.

Penelitian sampel kelompok antibiotik menggunakan metode Bioassay dan hasil analisisnya dinilai berdasarkan Codex Alimentarius Commission (CAC) atau standar pangan yang digunakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Pangan Dunia (FAO), dan standar European Economic Community (EEC).

“Berdasarkan hasil penelitian terungkap bahwa kelompok antibiotik penisilin merupakan residu yang paling banyak ditemukan di hati ayam,” kata Rusiana.

Sementara itu, Iswarawanti menambahkan hati ayam broiler mengandung lebih banyak antibiotik kelompok penisilin dibandingkan daging. Kandungan antibiotik penisilin mencapai 41,3% jika dihitung berdasarkan maximum residue limit–MRL per batas maksimal residu). Angka itu masih di bawah 45% kandungan MRL residu penisilin.

Namun, dia mengingatkan bahwa sebenarnya kelompok antibiotik penisilin itu bukan digunakan untuk ternak ayam, melainkan untuk pengobatan manusia. Jadi, jika daging dan hati ayam broiler itu dikonsumsi dalam jangka waktu panjang sangat membahayakan kesehatan manusia.

Iswarawanti menjelaskan penyakit yang ditimbulkan akibat mengonsumsi daging dan hati ayam broiler yang mengandung antibiotik itu secara berkepanjangan bisa menyebabkan teratogenic effect, carcinogenic effect, mutagenic effect dan resisten terhadap antibiotik sendiri.

Rusiana menjelaskan bahwa teratogenic effect adalah kandungan antibiotik bisa menyebabkan efek buruk untuk ibu yang mengandung, terutama untuk janinnya. Ibu yang mengandung bisa mengalami keguguran atau bayi yang dilahirkan cacat.

Kalau carcinogenic effect, antibiotik yang masuk ke dalam tubuh dapat menyebabkan munculnya penyakit kanker. Sedangkan mutagenic effect, antibiotik dapat menimbulkan mutasi bagi mikroorganisme seperti bakteri.

Sementara itu, bagi mereka yang banyak mengonsumsi daging dan hati ayam yang mengandung antibiotik, tubuhnya akan mengalami resistan terhadap reaksi antibiotik. Maka, obat antibiotik yang dikonsumsi orang yang banyak makan hati ayam yang mengandung antibiotik tidak akan menimbulkan efek apa pun.

“Antibiotik itu juga bisa menimbulkan alergi seperti menimbulkan bintik-bintik dan gatal-gatal pada kulit,” tambah Rusiana.

Dia menjelaskan, untuk daging yang kandungan antibiotiknya rendah relatif aman. Tetapi, hati ayam yang banyak ditemukan mengandung lebih banyak antibiotik penisilin sudah perlu hati-hati untuk mengonsumsinya. ”Padahal, selama ini banyak orang yang mengharapkan mendapat asupan zat besi dengan memakan hati ayam. Tetapi, hati ayamnya ternyata belum aman,” katanya.

Ditanya kenapa daging dan ayam brolier mengandung antibiotik terutama penisilin, Iswarawanti mengatakan kemungkinan ketidaktahuan dan tidak adanya penyuluhan bagi peternak ayam. Mereka hanya mengharapkan ayamnya sehat, maka disuntik atau diberi pakan yang mengandung antibiotik.
Sumber : http://masenchipz.com/khasiat-hati-ayam-broiler

Selasa, 02 Juni 2009

KONTROL LALAT DALAM MENCEGAH PENYEBARAN PENYAKIT

KONTROL lalat dalam suatu farm merupakan hal yang mendasar dalam manajemen pengendalian penyakit. Lalat dapat menimbulkan berbagai masalah di suatu peternakan, diantaranya dapat menyebarkan penyakit, menganggu pekerja kandang, menurunkan produksi, menurunkan kualitas telur dan mencairkan kotoran ayam (menimbulkan ammonia tinggi).
Serangga satu ini memiliki keunikan di bandingkan dengan serangga lain, yakni biasa meludahi makanannya sendiri. Lalat hanya bisa makan dalam kondisi cair. Reaksi lalat terhadap makanan yang dihadapi akan mengeluarkan enzim, agar makanan tersebut menjadi cair, setelah cair makanan akan disedot masuk ke dalam perut sehingga akan mudah bakteri dan virus turut masuk ke dalam saluran pencernaannya dan berkembang di dalamnya.
Penyakit yang disebabkan lalat dan larvanya :
• Lalat menjadi vektor : penyakit gastrointestinal pada mamalia dan feses.
• NDV telah diisolasi pada lalat dewasa lalat rumah kecil (Fannia canicularis) dan larva lalat rumah (Musca domestica).
• Larva dan lalat dewasa (M. Domestica) sering termakan ayam, kemudian menjadi “Hospes Intermedier” cacing pita pada ayam dan kalkun.
• Lalat rumah (M. domestica) yang makan darah ayam yang tercemar kolera unggas dapat menyebarkan penyakit tersebut ke ayam lain.
Suksesnya program control dilakukan dengan suatu metode pendekatan terintegrasi yakni ada 4 strategi manajemen dasar.
1. Memelihara kotoran tetap kering.
2. Metode biologi, seperti menggunakan pemangsa yang menguntungkan (merangsang pertumbuhan musuh alami lalat yang biasanya banyak ditemui di kotoran dan musuh lalat ini dapat tumbuh baik jika kotoran kering).
Kotoran kering akan membantu mendukung berkembangnya pemangsa dan benalu dari perkembangbiakan lalat. Populasi predator dan parasit terutama terdiri dari kumbang, kutu dan lebah. Pertumbuhan musuh lalat ini umumnya lebih lambat dibanding lalat itu sendiri. Populasi yang cukup tinggi pada hakekatnya bermanfaat bagi pengendalian lalat dan dapat dikendalikan hanya dengan jalan tidak mengganggu kotoran dalam jangka waktu yang lama. Untuk memelihara populasi serangga, maka pindahkan kotoran yang berlebih di minggu-minggu awal atau saat musim dingin (saat lalat kurang aktif), seperti halnya memperkecil penggunaan insektisida pada kotoran.
Di Denmark telah ditemukan penemuan baru berupa pemangsa lalat dari lalat itu sendiri. Prinsip yang dipakai adalah jika kepadatan lalat makin tinggi, maka lalat ini dapat menjadi pemangsa bagi lalat lain. Asal pemangsa yang digunakan ini ditemukan di Kenya, termasuk genus Ophyra Aeenses yang dapat memangsa lalat yang tidak
diinginkan.Serangga Kenya ini bertelur di kotoran dan dapat berhenti bereproduksi ketika temperatur dibawah 15 – 17 0C.
Pada kantong yang terkenamatahari langsung, Ophyra Aeenses tidak bisa bertahan, jenis ini lebih menyukai pergerakan udara yang baik. Penemuan baru itu berupa campuran lalat dewasa, pupa dan larva dalam satu kantung dengan berat 120 gram. Dari telur hingga dewasa, lalat membutuhkan waktu siklus 14 hari, sehingga populasi akan berganti dengan sendirinya. Efek predation/pemangsa akan muncul 2 bulan. Banyaknya kantong yang dibutuhkan tergantung pada ukuran kandang. Untuk tiap 100 m area dibutuhkan 1 kantong. Cara menggunakan metode ini : pada 3 bulan pertama diberi kantong baru. Setelah itu, gunakan kantung baru tiap 2 bulan (hanya untuk memastikan populasi pemangsa tidak berkurang).

3. Metode mekanik yakni dengan biosekuriti.
• Manajemen kebersihan : pembersihan dan desinfeksi kandang, terutama setelah panen.
• Manajemen sampah : pembuangan litter, kotoran dan bangkai ayam.
Pindahkan hewan yang mati
dengan segera dan membuangnya dengan baik (dibakar atau lainnya). Minimalkan akumulasi pakan yang tumpah. Di luar kandang, bersihkan rumput liar disekitarnya untuk menghindari kerumunan lalat dewasa serta agar pergerakan udara di sekitar kandang lebih baik
Manajemen kandang : ventilasi, pengendalian kelembaban litter dan kebocoran air. Lalat dapat berkembangbiak di kotoran dengan
kelembaban 55-85%.Oleh karena ini perlu menghindari agar kandang tidak lembab, seperti mencegah kebocoran, pastikan air tidak masuk ke dalam lubang serta mengatur aliran udara agar dapat memberikan efek kering pada permukaan kotoran.

4. Kontrol kimia melalui aplikasi insektisida atau obat-obatan (spray, fogs dan lain-lain). Salah satu jenis insektisida (produk terbaru Bayer) dalam pengendalian lalat diantaranya adalah Quick Bayt. Quick Bayt merupakan racun umpan lalat yang berbentuk butiran merah. Insektisida ini mengandung kombinasi dari bahan aktif imidakloprid, umpan ganda yang efektif (gula dan musculare) dan bitrex.
Imidakloprid merupakan bahan aktif dari golongan kloronikotinil yag bekerja cepat sebagai racun perut dan sangat efektif mengendalikan lalat. Gula dan Musculare adalah bentuk umpan yang tepat dan poros memudahkan lalat menghisapnya. Umpan ganda ini sangat aktraktif bagi lalat. Bitrex merupakan bahan dengan rasa pahit (tapi disenangi lalat) untuk menghindari tertelannya Quick Bayt oleh hewan atau
manusia. Keunggulan produk ini adalah tahan lama, sehingga memastikan keberhasilan dalam waktu yang lama. Penggunaan Quick Bayt
dapat dilakukan dengan
• Penaburan
Quick Bayt ditempatkan pada tempat berkumpulnya lalat (kemasan 350 gram), dapat digunakan 70 X 5 gram titik umpan, untuk luas area 175 – 200 m2 di area lantai dan dapat pula ditabur dengan sebaran 1,75 – 2 gram/m2.
• Pengulasan
Teknik pengulasan : Quick Bayt dicampur dengan air (1 gram/ml air). Kemudian diaduk sampai rata dan setiap 10 – 15 menit harus diaduk kembali. Setelah itu dioleskan ditempat dimana lalat biasa hinggap atau di kertas. Lalat dapat hidup rata-rata 21 hari, namun jika telah makan Quick Bayt hanya dengan beberapa menit, lalat akan lemas dan akhirnya mati. Pengendalian lalat yang sering dijumpai di peternakan sering gagal dilakukan. Ini disebabkan karena pengendalian hanya dilakukan pada
lalat dewasa tanpa membasmi larvanya atau sebaliknya.. Jika yang dibasmi lalat dewasanya saja, maka larva yang ada pada feses akan dapat berkembang menjadi lalat dewasa. Sebaliknya jika yang dibasmi larvanya, maka lalat dewasa masih mempunyai kesempatan untuk dapat berproduksi menghasilkan telur. Hal-hal lain yang perlu diperhatikan adalah migrasi lalat seperti antar lokasi farm atau dari
sumber lain, seperti tempat pembuangan sampah atau bangkai ayam. Agar program pengendalian lalat sukses dilakukan, maka keempat
strategi tersebut harus dilakukan secara bersamaan.

Beberapa Penyakit yang disebabkan lalat

Penyakit Tahun Publikasi
- Avian Influenza 1984 Collison
- Campylobacter 1983 Rosef et. al
- ND 1975 Rogoff et, al
- Coccidiosis 1976 Miloushev
- Cestodiosis 1976 Abrams
- Efek Amonia ND Virus 1964 Anderson
- Fowl Pasteurellosis 1972 NN
(Sumber : Pig International Desember 2005 dan Seminar “ Insekta & Transmisi Penyakit”, Drh .Darjono MSc, PhD). BULETIN CP. PEBRUARI 2006

Blog Advertising