Close Housed

Kandang sistem closed house adalah kandang tertutup yang menjamin keamanan secara biologi (kontak dengan organisme lain) dengan pengaturan ventilasi yang baik sehingga lebih sedikit stress yang terjadi pada ternak, menyediakan udara yang sehat bagi ternak, menyediakan iklim yang nyaman bagi ternak, meminimumkan tingkat stress pada ternak.

Broiler Modern

Ayam pedaging hasil persilangan dari berbagai bangsa ayam pedaging, yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan daging secara optimal dan edisien, memiliki keunggulan pertumbuhannya yang sangat cepat dengan bobot badan yang tinggi dalam waktu yang relatif pendek, konversi pakan kecil, siap dipotong pada usia muda serta menghasilkan kualitas daging berserat lunak, yang didukung dengan pakan yang berkualitas dan menajemen pemeliharaan yang maksmila

DOC ( Day Old Chick )

DOC(day old chick), anak yam umur 1 hari sangat menentukan keberhasilan usaha ternak ayam. Kondisi DOC yang baik merupakan modal awal yang sangat penting.

Broiler

Campuran dari beberapa bahan baku pakan, baik yang sudah lengkap maupun yang masih akan dilengkapi, yang disusun secara khusus dan mengandung zat gizi yang mencukupi kebutuhan ternak untuk dapat dipergunakan sesuai dengan jenis ternaknya.

Pakan Ayam Broiler

Campuran dari beberapa bahan baku pakan, baik yang sudah lengkap maupun yang masih akan dilengkapi, yang disusun secara khusus dan mengandung zat gizi yang mencukupi kebutuhan ternak untuk dapat dipergunakan sesuai dengan jenis ternaknya.

Minggu, 26 Juni 2016

BIOSEKURITI SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN CRD

Perubahan cuaca yang tidak menentu seringkali dijadikan sebagai indikator awal akan munculnya berbagai jenis penyakit. Betapa tidak, cuaca yang awalnya panas dalam hitungan menit bisa berubah mendung dan berakhir dengan turunnya hujan. Sejalan dengan itu, suhu yang terlalu panas akan menimbulkan kelembaban yang rendah dan sebaliknya. Hal ini akan berefek pada memburuknya kondisi lingkungan. Sejatinya, lingkungan merupakan interaksi hidup dari semua makhluk hidup, mulai dari makroorganisme maupun mikroorganisme.
Pertumbuhan populasi unggas di Indonesia dari tahun ke tahun makin meningkat walaupun banyak kendala yang dihadapi.  Salah satu kendala yang sering menghambat perkembangan populasi adalah berjangkitnya berbagai penyakit salah satunya CRD. Chronic respiratory disease (CRD) pada ayam merupakan penyakit endemik patogen yang sangat merugikan industri perunggasan tidak saja di ,  tetapi juga di banyak negara. Menurut OIE (2007), CRD masuk dalam notifiable diseases, artinya jika terjadi kasus CRD di lapang harus segera dilaporkan ke pemerintah untuk segera ditanggulangi.
Kejadian CRD di Indonesia pertama kali dilaporkan oleh Richey dan Dirdjosoebroto tahun 1965. Belum banyak peternak yang menyadari bahwa CRD selain merugikan secara ekonomi dari hulu ke hilir, CRD juga menyebabkan tekanan terhadap kekebalan tubuh (immunosuppressive). Hal ini mengakibatkan tubuh gagal memperoleh imunitas yang diperoleh dari vaksinasi. Selain itu, ayam yang terinfeksi menjadi karier sehingga wilayah dimana peternakan itu berada menjadi daerah endemik.
Penyakit CRD sering kali diabaikan peternak, penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma gallisepticum ini merupakan penyakit menular menahun yang sebenarnya harus diwaspadai. Kejadian CRD di lapangan sering dijumpai, baik pada ayam pedaging ataupun pada ayam petelur. Penyakit ini seharusnya mendapatkan perhatian khusus karena penyakit ini tetap dapat merugikan secara ekonomis. Kerugian secara ekonomis berupa memburuknya nilai konversi ransum akibat menurunnya konsumsi ransum, sehingga pencapaian berat badan saat panen akan optimal.
CRD disebut juga dengan penyakit ngorok pada ayam. Penyakit ini ditandai dengan adanya eksudat kataral yang keluar dari lubang hidung, kebengkakan pada muka, batuk dan terdengarnya suara sewaktu ayam bernafas (ngorok). Selanjutnya, pada kondisi tertentu kemungkinan besar penyakit ini dapat menyebabkan gangguan pernafasan akut terutama pada ayam muda/pullet, sedangkan pada bentuk kronis efek nyata yang dapat diamati adalah terjadinya penurunan kualitas produksi telur. Menariknya, meskipun angka kesakitan/morbiditas penyakit bakterial ini sangat tinggi, namun angka kematian/mortalitasnya cukup rendah jika dibandingkan dengan penyakit bakterial lainnya.
Semua penyakit yang menyerang unggas umumnya akan melemahkan sistem pertahanan tubuh. Unggas yang terpapar bibit penyakit CRD, secara alami jelas telah melakukan pengurasan terhadap sediaan produk pertahanan tubuh atau imunitas, lalu jika tidak ditangani cepat, kondisi tubuh yang lemah tersebut, jelas akan memudahkan terpaparnya ayam dengan berbagai mikroorganisme penyebab penyakit lainnya, apakah itu virus ND, IB atau virus dan bakteri patogen lainnya.
Penyakit CRD dimaknai sebagai penyakit yang kemunculannya terus berulang di lokasi peternakan/farm, baik di ayam pedaging maupun di ayam petelur. Menghilangkan  penyakit CRD dari satu farm bukanlah suatu usaha yang mudah dilakukan peternak, hal ini mengingat bahwa penyakit tersebut dapat ditularkan secara vertikal dari induk ke anak melalui telur yang terinfeksi Mycoplasma gallisepticum.
Kejadian berulang pada CRD dapat saja berawal dari sistem pengelolaan usaha peternakan yang kurang tepat. Misalnya peternak yang mendapatkan DOC dengan kualitas yang buruk, namun tetap dipelihara dan hasilnya tetap buruk. DOC dengan berat badan di bawah standar (< 40 gram) lebih rentan terserang penyakit pernapasan. Munculnya penyakit pernafasan tersebut dipicu oleh pemaksaan kerja paru-paru dalam menyuplai oksigen untuk proses metabolisme tubuh. Pemaksaan kerja keras pada paru-paru juga akan merusak organ pernapasan lainnya, seperti hidung (sinus hidung), trakhea dan kantung udara. Akibatnya kondisi tubuh akan melemah. Disamping itu, DOC yang berukuran tubuh lebih kecil tetap lebih mudah terinfeksi bakteri Mycoplasma gallisepticum.
Kasus CRD dapat muncul di setiap periode pemeliharaan. Namun sejauh ini upaya peternak dalam menerapkan prinsip beternak aman dengan CRD, maka kasus tersebut dapat diminimalisir kemunculannya, seperti memperhatikan semua hal terkait dengan manajemen pemeliharaan, mulai dari pemilihan DOC yang berkualitas sampai pada proses pemanenan. Hal lain yang dapat diterapkan disamping terkait dengan kualitas DOC adalah perbaiki sistem pemanas/brooding karena bagaimanapun, indikator keberhasilan dimulai dari fase tersebut. Lalu, menekan lajunya kadar amoniak yang ada di dalam kandang, dengan jalan memperbaiki sistem buka tutup tirai kandang yang digunakan, termasuk mengurangi tumpukan feses di bawah lantai kandang (jika kandang panggung). Dalam bukunya, Prof. Charles Rangga Tabu (penyakit Ayam dan Penanggulangannya, Jilid I), menyatakan bahwa penumpukan feses dapat memperburuk kondisi udara di dalam kandang akibat terjadinya peningkatan kadar amoniak. Batas kadar amoniak yang aman sekitar 15-20 ppm. Keterangan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Gambaran Dampak Kadar Amoniak pada Ayam

Kadar Amonia
(ppm)
Reaksi pada Ayam
15-20
Aman
25-30
Iritasi pada mata dan saluran pernafasan
> 30
Sakit dan gangguan produksi telur
40
Penurunan nafsu makan
50
Pertumbuhan turun sampai 7 %
50-100
Pertumbuhan turun sampai 15 %
           Sumber : Infovet, Mei 2012

Pencegahan CRD pada ayam dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain dengan vaksinasi, kemoterapi termasuk melakukan penjadwalan dalam cleaning program. Cleaning program dapat dilakukan 3 hari sebelum dilakukan jadwal vaksinasi. Cleaning program dapat menggunakanENROTEN® dengan kandungan antibiotik Enrofloxacin dengan dosis 1 gram dalam 2 Liter air minum. Sedangkan untuk pengobatan terhadap kasus CRD dapat diberikan INTERSPECTIN-L®, dengan kandungan antibiotic Spectinomycin dan Lincomycin. Spectinomycin adalah antibiotic golongan aminoglikosida yang diproduksi oleh bakteri Streptomyces spectabilis dengan aktifitas yang tinggi terhadap Mycoplasma. Untuk kemoterapi biasanya hanya diberikan pada umur muda dengan dosis yang rendah. Selain Spectinomycin, TIAMULIN® merupakan obat yang efektif untuk pengobatan infeksi Mycoplasma dan infeksi sekunder sepertiPasteurella multocida dan Haemophilus paragallinarum.
Hal yang tidak kalah penting dalam meminimalisir kasus CRD dilapangan adalah menerapkan aspek biosekuriti secara menyeluruh di lokasi peternakan. Biosekuriti berasal dari kata bio artinya hidup dan securityartinya perlindungan atau pengamanan. Jadi biosecurity adalah sejenis program yang dirancang untuk melindungi kehidupan. Dalam arti sederhana untuk peternakan ayam adalah membuat kuman atau agen penyakit jauh dari tubuh ayam dan menjaga ayam jauh dari kuman.
 Menurut Hadi dalam Winkel (1997) biosekuritas merupakan suatu sistem untuk mencegah penyakit baik klinis maupun subklinis, yang berarti sistem untuk mengoptimalkan produksi unggas secara keseluruhan, dan merupakan bagian untuk mensejahterakan hewan (animal welfare). Pada awalnya konsep biosekuritas diterapkan untuk menghasilkan unggas yang bebas penyakit tertentu (spesific pathogen free) untuk keperluan penelitian secara eksperimental. Tetapi saat ini telah diterapkan pada berbagai jenis peternakan sebagi upaya praktis untuk mencegah masuknya organisme penyebab penyakit patogen dari luar ke dalam peternakan. Bahkan diterapkan juga di negara-negara berdaulat sebagai upaya untuk melindungi industri peternakannya dari berbagai penyakit berbahaya yang tidak ditemukan di wilayahnya (penyakit eksotik).
Biosekuriti secara umum meliputi kontrol lalu lintas, vaksinasi, pencatatan riwayat flok, desinfeksi kandang, kontrol terhadap pakan, air dan limbah. Biosekuritas ini secara umum memberlakukan kontrol tehadap lalu lintas orang, seperti mengunci pintu dan melarang semua pengunjung, atau mengizinkan masuk orang tertentu dan personil yang dibutuhkan (profesional) setelah mereka didesinfeksi, mandi, disemprot, lalu memakai sepatu khusus, baju penutup, dan topi khusus yang telah didesinfeksi.  Kontrol lalu lintas tidak hanya berlaku untuk orang tetapi juga untuk hewan seperti burung-burung liar, tikus, kumbang predator, serangga dan lainnya. Kucing dan anjing seringkali dianggap sebagai pembawa penyakit yang potensial, tetapi bukti-bukti kurang mendukung, dan manfaatnya dalam mengendalikan tikus cukup nyata dibandingkan kerugian yang ditimbulkannya.
Aspek lain dari biosekuritas adalah mencegah penyakit melalui vaksinasi. Antibiotika digunakan untuk memberantas infeksi bakteri. Karena tidak ada obat yang dapat melawan infeksi virus, maka vaksinasi sebelum infeksi terjadi di dalam flok ayam menjadi pilihan utama untuk melindungi ayam.
Catatan riwayat dalam flok adalah cara yang mudah untuk menjaga kesehatan ayam dalam flok. Ayam harus secara rutin diperiksa kesehatannya ke laboratorium, dengan mengecek titer darahnya terhadap penyakit tertentu, monitoring bakteriologis dan sampling virus. Laporan hasil pemeriksaan laboratorium harus disimpan bersamaan dengan data performans setiap flok atau kandang. Laporan ini sangat bermanfaat begitu masalah muncul dalam kandang.
Tindakan biosekuriti yang umum dilakukan selanjutnya adalah desinfeksi kandang ayam. Segera setelah flok ayam diafkir dan litter diangkat keluar kandang, tindakan berikutnya adalah pembersihan dan desinfeksi terhadap seluruh kandang dan lingkungannya untuk desinfeksi ini dapat menggunakan SPECTARAL-25® dengan dosis10 ml  SPECTARAL-25® per 4 liter airGumpalan liter harus diangkat dan sisa-sisa yang menempel harus disikat dan disemprot air yang dicampur dengan desinfektan. Peralatan seperti penggaruk, sekop, truk pengangkut, wadah-wadah pengangkut kotoran (manure), dan lain-lain semuanya harus dibersihkan dan didesinfeksi setelah dipakai.
Kontrol biosekuriti juga diberlakukan pada pakan dan air minum, biosekuriti terhadap pakan harus dilakukan terutama ditingkat pabrik pengolahan. Hal ini harus secara ketat dilakukan mengingat banyaknya agen penyakit dan toksin yang dapat mencemari makanan. Sedangkan air merupakan sumber penularan penyakit yang utama selain melaui pakan dan udara. Berbagai penyakit yang ditularkan melaluiair antara lain Salmonellosis, Kolibasilosis, Aspergillosis dan Egg Drop Syndrome. Umunya sanitasi dilakukan dengan cara klorinasi (dapat menggunakan preparat KLORIN-GARD®) dengan dosis 1 tablet KLORIN-GARD® per 500 - 1.500 liter air.
Sumber : http://temanc.com/detail_artikel.php?kode_obat=48

WASPADA PENYAKIT IMUNOSUPRESIF


  
Sistem kekebalan tubuh berfungsi untuk mengenali, menetralisir dan mengeliminasi patogen yang masuk ke dalam tubuh. Fungsi lain dari sistem ini adalah untuk mengenali kembali patogen yang masuk dengan adanya sel memori serta mencegah terjadinya kerusakan sel-sel kekebalan (imunopatologi). Jika fungsi kekebalan ini terganggu makan akan timbul suatu kondisi yang dinamakan imunosupresif.
Berbagai macam faktor bisa menimbulkan kondisi imunosupresif ini, salah satunya  adalah agen penyakit yang memiliki target pada organ-organ kekebalan seperti limpa, bursa fabricius, seka tonsil, timus dan kelenjar harderian dimana organ-organ tersebut merupakan penghasil sel B dan sel T yang memiliki peran dalam sistem kekebalan tubuh.
Terdapat berbagai macam penyakit yang menyebabkan gangguan pada sistem kekebalan tubuh, antara lain penyakit Koksidiosis, Marek, Chicken Anemia Virus (CAV), Gumboro (IBD) dll.
Pada kasus penyakit Infectious Bursal Disease (IBD) / Gumboro, virus akan menginfeksi sel B muda terutama yang terdapat pada bursa fabrisius dan organ-organ penghasil sel B lainnya seperti limpa dan kelenjar harderian. Jenis sel B Immature ini banyak terdapat pada ayam muda yang bursanya baru mengalami perkembangan sehingga menyebabkan ayam muda lebih rentan terinfeksi. Infeksi yang terjadimenyebabkan kerusakan dini pada bursa sehingga tidak mampu memberikan respon antibodi terhadap agen penyakit yang masuk. Faktor inilah yang menyebabkan adanya kekebalan dari induk (MAb) menjadi penting.
Penyakit lain yang menyebabkan kondisi imunosupresif adalah  CAV yang memiliki target pada prekursor sel T dan hemositoblast yang berfungsi menghasilkan sel-sel darah seperti eritrosit, heterofil dan trombosit. Jika kedua sel ini terganggu, kemampuan untuk memproduksi sel darah akan hilang sehingga akan muncul gejala seperti depresi karena anemia, nekrosis pada sayap, hemoragi dan kepucatan pada sumsum tulang. Pada kondisi lapangan gejala klinis biasanya tidak selalu terlihat, yang muncul adalah gejala dari infeksi sekunder yang muncul karena keadaan imunosupresif yang dihasilkan penyakit tersebut.
Penyakit Koksidiosis juga dapat menyebabkan kejadian imunosupresif pada unggas. Koksidiosis disebabkan oleh protozoa golongan Eimeria, setelah masuk ke dalam tubuh unggas akan memperbanyak diri di dalam sel epitel saluran pencernaan. Siklus ini akan menyebabkan kerusakan pada sel gastro intestinal. Kerusakan jaringan mukosa gastro intestinal  akan mengakibatkan gangguan fungsi digesti, penyerapan nutrisi, dehidrasi serta mampu menekan sistem kekebalan, dimana usus memiliki Peyer’s patch dan seka tonsil yang merupakan bagian sistem kekebalan pada saluran cerna. Di dalamnya terdapat Imunoglobulin A (Ig A), G (Ig G) dan M (Ig M) yang berfungsi dalam sistem imun tubuh unggas. Kerusakan pada mukosa usus dan seka tonsil akan menyebabkan pembentukan antibodi menjadi terganggu sehingga unggas akan menjadi lebih rentan terhadap serangan penyakit lain. Ayam muda lebih sering terserang Koksidiosis tetapi ayam dewasa juga masih berpeluang terkena mengingat tidak adanya perlindungan silang antara masing-masing spesies Eimeria.
Kondisi imunosupresif akan mengakibatkan meningkatnya kerentanan terhadap penyakit lain seperti NE, penyakit pernafasan serta penyakit bakterial lain. Penanganan kejadian imunosupresif adalah dengan memperhatikan manajemen pemeliharaan yang baik serta pemberian program vaksinasi  yang tepat. Pemberian terapi suportif seperti vitamin juga dapat membantu pertahan tubuh unggas dalam mengatasi kejadian imunosupresif ini. Produk seperti Introvit 4+ WSIntrovit AD3E WS,introvit-E-Selen WSVitol-140TM-VITAVIT-ECO serta Introvit-B-Complex dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh unggas dalam mengatasi kasus imunosupresif ini. Pada kasus Koksidiosis, program pemberian antikoksi Amprolin-300 WSDiclacoxy dan Intracox Oraljuga sangat berperan mengurangi resiko kasus imunosupresif.
Semoga di tahun yang baru ini memberikan harapan baru bagi dunia peternakan khususnya perunggasan, yang bisa memacu peternakan dalam negeri untuk tumbuh dan berkembang menghadapi persaingan yang semakin ketat.
Sumber : http://temanc.com/detail_artikel.php?kode_obat=57

Heat Stress dan Cara Menanganinya




Stress merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan respon tubuh baik fisiologis, kimia maupun tingkah laku terhadap segala bentuk perubahan dan gangguan fisik dari luar tubuh yang dinamakan stressor. Stress merupakan ungkapan umum tentang penyesuaian fisiologis dan perilaku seperti perubahan denyut jantung, respirasi, temperatur dan tekanan darah yang terjadi jika makhluk hidup mengalami kondisi yang merupakan stressor baginya. Unggas akan mengalami stress jika terjadi perubahan lingkungan yang ekstrim, seperti peningkatan temperatur lingkungan atau pada saat toleransi terhadap lingkungan menjadi rendah.
Salah satu bentuk stress yang sering terlihat pada spesies unggas adalah heat stress atau stress panas. Unggas merupakan hewan homeotermik...
Stress merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan respon tubuh baik fisiologis, kimia maupun tingkah laku terhadap segala bentuk perubahan dan gangguan fisik dari luar tubuh yang dinamakan stressor. Stress merupakan ungkapan umum tentang penyesuaian fisiologis dan perilaku seperti perubahan denyut jantung, respirasi, temperatur dan tekanan darah yang terjadi jika makhluk hidup mengalami kondisi yang merupakan stressor baginya. Unggas akan mengalami stress jika terjadi perubahan lingkungan yang ekstrim, seperti peningkatan temperatur lingkungan atau pada saat toleransi terhadap lingkungan menjadi rendah.
Salah satu bentuk stress yang sering terlihat pada spesies unggas adalah heat stress atau stress panas. Unggas merupakan hewan homeotermik dimana secara alamiah akan berusaha menstabilkan suhu tubuh bila terjadi perubahan dilingkungan, baik suhu yang menjadi tinggi maupun rendah. Mekanisme untuk mempertahankan suhu dalam kondisi normal inilah yang nantinya dapat mempengaruhi keseimbangan tubuh unggas. Secara normal suhu tubuh unggas dalam hal ini ayam memiliki rentang dan variasi yang lebih luas bila dibanding dengan suhu mamalia, hal ini menyebabkan tidak adanya nilai absolut untuk suhu tubuh ayam. Rentang batas suhu tubuh normal ayam dewasa adalah 105°F-107°F (40.6°-41.7°C) sedangkan suhu tubuh pada DOC yang baru menetas kurang lebih 103.5°F (39.7°C), dan meningkat secara pasti setiap harinya sampai dicapai suhu yang optimal pada usia tiga minggu. Untuk dapat berproduksi dan berkembang dengan baik dan optimal maka unggas harus dipelihara dalam kisaran suhu nyaman atau comfort zone dari lingkungan. Comfort zone untuk unggas umumnya berkisar 25°C – 28°C dengan kelembaban 60% - 70%, selain itu thermal comfort zone untuk unggas tergantung dari spesies dan umur dimana unggas dengan umur muda lebih sensitif terhadap perubahan suhu, berat badan, sistem perkandangan, pakan, kelembaban, sirkulasi udara dan status kesehatan.
Gambar 1. Comfort zone untuk unggas.
Batas bawah untuk comfort zone unggas adalah sebesar 68oF yang merupakan batas ambang sebelum kematian unggas karena suhu yang sangat rendah, sedangkan batas atas sebagai batas ambang sebelum unggas mati karena suhu yang sangat tinggi adalah sebesar 113°F – 117°F. Perilaku unggas saat berada pada kisaran suhu A atau pada suhu dingin adalah dengan cara saling merapat atau menumbuhkan bulu, sedangkan perilaku yang ditunjukkan pada kisaran suhu B atau hangat adalah dengan menjauhkan sayap dan bulu dari tubuh serta menurunkan intake pakan. Istilah perubahan tingkah laku unggas itu disebut heat stress.
Heat stress dapat pula terjadi saat kombinasi suhu lingkungan dan kelembapan melebihi heat stress index. Heat stress index adalah angka yang diperoleh bila kita memadukan antara suhu terukur ruangan dengan kelembapan udara, atau yang lebih dikenal dengan suhu efektif. Suhu efektif adalah suhu yang benar-benar dirasakan oleh unggas, misalnya suhu yang terukur pada alat adalah 30°C dan kelembapan yang terjadi pada saat itu adalah 85% maka suhu yang benar-benar dirasakan ayam adalah lebih dari 30°C, lain halnya saat suhu yang terukur di alat adalah 30°C dengan kelembapan udara 55% - 60% maka suhu yang benar-benar dirasakan oleh ayam adalah 30°C, sehingga kombinasi dari suhu terukur dan kelembapan relatif yang dirasakan oleh ayam disebut suhu efektif. Suhu efektif bila dihubungkan dengan heat stress maka akan menghasilkan sutu index yang menjadi ukuran tingkatan, apakah ayam masih dapat beradaptasi atau tidak terhadap kondisi cuaca, yang disebut Heat Stress Index. Heat stress index yang masih dapat ditolerir oleh ayam adalah 160, Heat stress index standar anak ayam umur sehari (DOC) adalah 155 sedangkan umur 35 hari adalah 140. Ayam akan mulai mengalami panting bila Heat Index di atas 155, dan kelembaban merupakan bagian utama dari perhitungan heat stress index. Heat stress index diperoleh dengan mengkalkulasi suhu dan % kelembaban relatif (%RH) dengan menjumlahkan suhu dalam satuan Fahrenheit dengan % kelembaban relatif (%RH) terukur, pada contoh, suhu 30oC (86°F) dengan % kelembaban relatihf (%RH) terukur adalah 85%, maka heat stress index adalah 171, jauh di atas 160 maka dapat dipastikan ayam saat itu mengalami panting. Sedangkan pada suhu 30oC (86°F) dengan kelembapan 65% maka heat stress index yang diperoleh adalah sebesar 151 maka pada ayam umur awal akan berkembang secara optimal.
Tabel 1. suhu dan kelembapan saat brooding broiler.
Umur
(Hari)
Suhu (°C)Suhu (°F)Kelembapan udara (%)Heat Stress Index
1329065155
2329065155
3329065155
4318865153
5318865153
6318865153
7308665151
8308665151
9308665151
10308665151
11308665151
12308665151
13308665151
14308665151
Suhu °F diperoleh dari = (9/5 x °C) + 32°C Heat stress index diperoleh dari = °F + % RH Bila heat stress yang dicapai lebih dari 155, maka beberapa reaksi yang akan terjadi antara lain pada angka 160 maka akan terjadi penurunan feed intake, peningkatan water intake dan penurunan performance, pada angka 165 akan terjadi kematian dan kerusakan permanen pada paru-paru dan sistem peredaran darah, dan pada angka 170 maka akan terjadi kematian yang sangat tinggi.
Respon yang terlihat pada tingkah laku ayam yang mengalami heat stress antara lain : Memperluas area tubuh dengan tujuan untuk memperluas bidang aliran panas dari tubuh hewan ke lingkungan kandang, cara yang dilakukan antara lain merenggangkan, menggantungkan dan melebarkan sayap. Peningkatan aliran darah ke perifer, dengan tujuan meningkatkan aliran darah pada bagian luar dari tubuh sehingga banyak panas dari dalam tubuh yang mengalir ke lingkungan, daerah perifer yang sering mengalami proses peripheral vasodilatation adalah jengger, pial dan ceker, sehingga warnanya menjadi lebih merah dan panas. Panting adalah respon tubuh ayam terakhir setelah upaya-upaya sebelumnya yang dilakukan tidak memberikan hasil yang optimal, panting adalah kegiatan membuka mulut untuk mengeluarkan udara dan uap air dari tenggorokan sebagai upaya penurunan panas tubuh, mekanisme ini merupakan analog dari pengeluaran keringat pada manusia karena ayam tidak memiliki kelenjar keringat. Apabila panting yang dilakukan tidak berpengaruh terhadap pengembalian suhu tubuh ayam maka ayam akan mulai lemas, kehabisan tenaga dan dapat terjadi kematian.
Akibat yang dapat ditimbulkan apabila ayam mengalami heat stress adalah peningkatan intake minum dan penurunan intake pakan, hal ini dilakukan sebagai kompensasi dari kegiatan panting ayam. Penurunan intake pakan akan menyebabkan peningkatan FCR ayam, sehingga akibat yang sering terjadi pada unggas yang mengalami heat stress adalah penurunan produksi baik daging pada broiler maupun telur pada layer, secara kualitas maupun kuantitas.
Tabel 2 :Pengaruh Suhu Terhadap Konsumsi Ransum, Berat Badan dan Berat Telur
ParameterSuhu Kandang (°C)
27,529,230,831,7
Konsumsi pakan (g/hr)113,7102,2101,594,4
Berat Badan (g)1.5891.4411.4001.378
Berat telur medium dan Kecil (%)32,348,456,366,7
Sumber : D.R Sloan & R.H Harms, 1984
Akibat lain yang ditimbulkan dengan kejadian heat stress pada ayam adalah penurunan system imunologi dan pertahanan tubuh ayam terhadap berbagai macam penyakit. Hal ini terjadi karena stress panas dapat menyebabkan penurunan jumlah serta aktifitas dari leucocyte yang dikenal dengan istilah lazy leucocyte syndrome hal ini menyatakan bahwa kemampuan sel leucocyt untuk menjadi sistem pertahanan tubuh ayam menurun sehingga ayam lebih mudah terserang penyakit.
Kompleksitas lain yang dapat terjadi pada ayam yang terserang heat stress adalah bila ayam dipelihara pada daerah kering yang berdebu, seperti diketahui bahwa setiap gram debu akan membawa 105 partikel E.coli. ayam yang mengalami heat stress dengan kondisi system pertahanan tubuh yang rendah, apabila terpapar oleh udara yang berdebu maka akan dengan segera dapat terjangkit oleh berbagai macam penyakit. Pada DOC, heat stress dapat menyebabkan kegagalan penyerapan kuning telur yang nantinya dapat menyebabkan timbulnya masalah lain seperti ompalitis dan maternal antibody yang tidak terbentuk, maka penerapan system brooding yang baik pada masa-masa awal pemeliharaan mutlak diperlukan untuk mencegah masalah dikemudian hari.
Cara-cara yang dapat dilakukan sebagai upaya untuk mengatasi heat stress agar tidak berlarut dan merugikan peternak adalah antara lain :
  1. Memberikan air dingin yang sehat, air dingin dapat digunakan untuk membantu unggas dalam upaya menstabilkan suhu tubuh saat udara lingkungan tinggi. Percobaan Leeson dan Summers menunjukkan bahwa pemberian air dengan suhu 2°C pada 50% ayam di kandang lalu kemudian dibandingkan dengan 50% yang diberi air pada suhu 33°C, maka ayam yang diberi air suhu dingin akan mengkonsumsi pakan 12 g lebih tinggi dari pada ayam yang diberi air hangat, selain itu produksi ayam diberi air dingin lebih tinggi 12% disbanding ayam yang diberi air hangat. Air sehat dapat diperoleh dengan memberikan perlakuan pada air berupa pemberian desinfektan air yang food hygine seperti SDIC yang akan menghasilkan klorin saat bereaksi dengan air, seperti produk KLORIN GARD.
  2. Penjarangan ayam, penjarangan dalam satu kandang bertujuan untuk mengurangi kepadatan ayam sehingga lebih merasa nyaman, tidak terlalu panas, padat dan dapat dengan leluasa meradiasikan panas dari dalam tubuh ke lingkungan.
  3. Perlakuan yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan, adalah tidak melakukan vaksinasi, debeaking atau perlakuan lain pada saat suhu lingkungan tinggi, karena hal ini dapat lebih memperparah kondisi heat stress. Kegiatan seperti diatas dapat dilakukan saat cuaca dingin atau malam hari, pemberian PARAGIN yang mengandung paracetamol sebagai antipiretik dan peningkat laju pertambahan berat badan, sorbitol dan vitamin C dapat digunakan untuk membantu peternak menenangkan ayam karena efek segar dan nyaman pada ayam setelah pemberian PARAGIN.
  4. Pemberian vitamin elektrolit TM-VITA pada air minum dapat digunakan sebagai upaya mengurangi efek heat stress pada ayam melalui perubahan keseimbangan asam basa air dengan penambahan elektrolit. Panting yang dilakukan unggas untuk menstabilkan suhu secara tidak langsung akan mempengaruhi keseimbangan metabolisme tubuh, maka dibutuhkan elektrolit sebagai maintenen evaporasi (penguapan).
  5. Manajemen pemberian pakan, dengan cara tidak memberikan pakan secara langsung, karena diketahui kematian dapat terjadi siang hari walaupun bukan merupakan waktu terpanas pada ayam yang telah diberi makan penuh pada pagi harinya. Hal ini dapat terjadi karena waktu tersebut adalah waktu pencernaan pakan, managemen yang dapat dilakukan adalah dengan memberi 1/3 pakan pada pagi hari kemudian 2/3 pakan pada waktu menjelang sore dan memberikan pakan tambahan yang mengandung calcium maupun mineral lain yang dibutuhkan oleh ayam pada malam hari.
  6. Pemberian vitamin asam amino INTROVIT 4+ WS, pemberian vitamin, yang mengandung vitamin C dapat digunnakan untuk membantu ayam mengatasi heat stress. Penelitian tahun 1960 menunjukkan bahwa pemberian vitamin C dapat meningkatkan berat telur, tebal cangkang dan produksi telur. Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa penambahan ascorbic acid dapat meningkatkan intake pakan, maka penambahan INTROVIT 4+ WS sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pakan pada cuaca panas.
Sumber : http://temanc.com/detail_artikel.php?kode_obat=17

Coryza, Penyakit Bakterial yang Bandel



 Penyakit pada unggas ini disebabkan oleh Haemophillus paragallinarum yang saat ini lebih dikenal dengan Avibacterium paragallinarum.  Bakteri penyebab snot atau coryza ini memiliki ciri berupa gram negative, pleomorphic, non motil dan negative terhadap uji katalase.  Biasa menyerang pada unggas umur 18-23 minggu, saat ayam mulai berproduksi dan menghasilkan telur sehingga dapat merugikan peternak.   Kerugian yang dapat ditimbulkan antara lain adalah penurunan produksi telur sebesar 5 -10% dari total produksi, pada ayam petelur dara dapat menyebabkan pengafkiran hingga dapat mencapai 40%.  Snot dapat bersifat akut maupun kronis, dikatakan kronis karena memang setiap unggas yang telah sembuh dari infeksi bakteri dapat bersifat carrier. 
            Gejala yang dapat ditimbulkan dari infeksi bakteri ini awalnya berupa bersin-bersin, mata sedikit bengkak dan berair, sumbatan pada nostril dan sinus (biasanya diikuti adanya cairan yang bening).  Gejala selanjutnya yang timbul yaitu berupa perubahan cairan di nostril dan hidung menjadi lebih kental, kuning dan berbau khas.  Eksudat semakin mengental sehingga menyumbat nostril dan sinus yang menyebabkan timbulnya gejala pembengkakkan pada wajah dan mata, terkadang unggas juga mengalami pembengkakan di pial.  Eksudat pada hidung akan menyebabkan debu dan kotoran di kandang yang bertebaran di udara nempel pada lubang hidung sehingga terlihat kotor.   Peningkatan konsumsi air juga terjadi ketika infeksi sedang berlangsung, maka gejala seperti diare terlihat karena yang sebenarnya terjadi adalah wet droop yaitu kotoran yang berair karena banyak minum.  Kondisi banyak minum dan sakit menyebabkan penurunan intake pakan, masalah yang lebih komplek akan terjadi seperti nutrisi tidak tercukupi, metabolisme terganggu dan seluruh organ tubuh terpengaruh, termasuk saluran reproduksi yang akhirnya menyebabkan penurunan produksi telur.
            Penyakit coryza bersifat sangat kontagius/menular, dengan angka kesakitan sangat tinggi hingga mencapai 100 %.  Penularan dapat terjadi secara horizontal melalui udara maupun pencemaran kandang sehat oleh material maupun orang dari kandang yang sudah terinfeksi atau pernah terinfeksi.  Masa inkubasi dari coryza berkisar antara 1-3 hari, dan proses penyembuhan dapat berlangsung selama dua minggu.  Ayam yang sembuh dari penyakit akan menjadi kebal terhadap coryza selama kurang lebih 12 bulan.
             Pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan vaksin coryza.  Vaksin coryza tidak membuat ayam kebal terhadap infeksi bakteri coryza melainkan untuk mengurangi gejala dan menurunkan penyebaran dan pelepasan bakteri.  Vaksinasi sesuai dengan anjuran produsen dapat dilakukan dua kali, yaitu sekali pada umur 6-8 minggu dan yang kedua diulang 6-8 minggu kemudian, sebelum perkiraan terjadinya kasus coryza yang biasanya menyerang pada umur 16-18 minggu.
            Ayam yang telah positif terinfeksi bakteri penyebab coryza dapat diobati dengan menggunakan antibiotik, tetapi sebelum melakukan pengobatan maka yang pertama harus dilakukan adalah memisahkan ayam yang terinfeksi dari ayam yang sehat.  Ayam yang terinfeksi, secara individu dapat diobati dengan menggunakan INTERTRIM LA dengan dosis 0,2 ml/kg berat badan, sedangkan apabila terjadi outbreak dan seluruh kandang terinfeksi maka pengobatan secara massal perlu dilakukan dengan memberikan INTERTRIM-500 ORAL melalui air minum dengan dosis 1 ml : 4 liter, atau dapat pula dengan menggunakan COTRIMAZINEdengan dosis 1 gram : 2 liter air minum selama 3 sampai 5 hari.  Sebenarnya cara penularan coryza yang mudah dapat dicegah dengan penyemprotan desinfektan secara rutin menggunakan SPECTARAL,SPECTARAL-25maupun BENZAKLIN.  Untuk mengembalikan kondisi dan kualitas saluran reproduksi maka pemberian vitamin E dan selenium berupa INTROVIT-E-SELEN WS dosis 1 gram : 2 liter dan INTROVIT AD3E WS dosis 1 gram : 4 liter selama 5 hari berturut-turut sangat dibutuhkan sehingga ayam dapat berproduksi secara optimal.

Bahaya Mikotoksin


| Print |
Mikotoksin, cukup familiar kita mendengar istilah ini. Mikotoksin bisa dimaknai sebagai zat metabolit sekunder yang dihasilkan oleh jamur dan bersifat racun (toksik). Saat terkonsumsi ayam, produktivitas ayam akan menurun, baik berupa hambatan pertumbuhan, penurunan produksi telur atau bahkan kematian. Tidak hanya itu, zat metabolit ini juga berperan sebagai immunosuppressant, yakni agen yang mampu melemahkan sistem kekebalan tubuh maupun menjadikan respon tubuh dalam pembentukan antibodi hasil vaksinasi kurang optimal. Akibatnya tubuh ayam menjadi lebih mudah terinfeksi bibit penyakit.

Jenis Mikotoksin
Aflatoksin merupakan salah satu contoh jenis mikotoksin yang paling banyak dibicarakan di Indonesia, meski sebenarnya masih ada lebih dari 300 mikotoksin (Dr Simon M Shane). Tabel 1 menunjukkan beberapa mikotoksin yang relatif sering dijumpai.
Mikotoksin dapat muncul sepanjang alur pengadaan ransum, mulai penanaman, panen sampai penyimpanan. Bisa jadi sebelum bahan baku ransum dipanen, sudah terkontaminasi mikotoksin. Fusarium, penghasil mikotoksin jeniszearalenone, trichothecenes, fumonisin, merupakan contoh jamur yang paling sering mengkontaminasi selama masa penanaman. Sedangkan jamur yang sering mengkontaminasi selama di gudang penyimpanan ialah Aspergillus danPenicillium yang menghasilkan aflatoksin dan ochratoksin.
Berdasarkan data survei mikotoksin di Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam) pada 2009, menunjukkan bahwa aflatoksin B1 dan fumonisin paling sering ditemukan mengkontaminasi bahan baku ransum (jagung, gandum, bekatul, bungkil kedelai, corn gluten meal, DDGS) maupun ransum jadi dengan persentase sampel positif mencapai 52% dan 58%. Inilah yang menjawab pernyataan kenapa aflatoksin paling familiar di peternak kita.



Bahayanya Mikotoksin
Ayam pedaging yang mengkonsumsi ransum terkontaminasi mikotoksin terbukti pertumbuhannya terhambat. Hal ini setidaknya pernah dibuktikan dari percobaan yang dilakukan oleh Jones et al. (1982) pada tabel 2. Terlihat semakin besar konsentrasi aflatoksin, pertumbuhan ayam menjadi terhambat.
Tabel 2. Pengaruh Aflatoksin terhadap Performan Ayam Pedaging
 
Sumber : Jones et al., 1982

Begitu pula pada ayam petelur. Adanya kontaminasi mikotoksin akan mengakibatkan penurunan produksi telur, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Kasus “blood spot” dapat dipicu karena aflatoksin. Kualitas kerabang telur juga menurun karena aflatoksin akan menghambat proses konversi vitamin D3 yang terkandung dalam ransum menjadi bentuk aktif. Adanya mikotoksin ini akan mengakibatkan penurunan kadar protein serum, lipoprotein dan karotenoid.

Kasus “blood spot” karena aflatoksin
(Sumber : WATT Poultry)
  
Bintik-bintik putih pada paru-paru karena serangan spora Aspergillus
(Sumber : ThePoultrySite)


Ukuran bursa Fabricius lebih kecil (b) akibat aflatoksin dibandingkan normal (a)
(Sumber : Anonimous)
Kematian akibat mikotoksin juga bukan suatu keniscayaan. Hal ini seringkali disebabkan kerusakan organ-organ vital ayam, seperti paru-paru, kantung udara, hati maupun ginjal. Selain itu, efek immunosuppressive juga mengakibatkan sistem pertahanan tubuh ayam lemah (mudah terinfeksi penyakit) dan pembentukan titer antibodi hasil vaksinasi menjadi kurang optimal.

Ochratoksin mengakibatkan ginjal bengkak dan pucat
(Sumber : ThePoultrySite)

Yang Mesti Kita Lakukan
Kerugian yang besar akibat kontaminasi mikotoksin ini memaksa kita melakukan berbagai upaya untuk mencegahnya. Yah, untuk kasus mikotoksin pencegahan tumbuhnya jamur menjadi langkah awal terpenting yang harus kita lakukan.
Mengapa? Saat jamur telah tumbuh pada bahan baku pakan maka bisa dipastikan mikotoksin telah terbentuk. Dan lagi, untuk membasmi jamur sangatlah mudah, misalnya dengan pemanasan, namun tidak demikian dengan mikotoksin yang memerlukan treatment yang lebih banyak, baik perlakuan fisik, kimia maupun biologi, sehingga kurang efisien.
Beberapa langkah pencegahan yang bisa kita lakukan ialah
  • Melakukan pemeriksaan kualitas bahan baku secara rutin, terutama saat kedatangan bahan baku atau ransum. Hendaknya kita tidak segan untuk mereject jika ditemukan ransum yang terkontaminasi jamur, mengingat fenomena jamur ini seperti fenomena gunung es. Selain itu, pastikan kadar airnya tidak terlalu tinggi, > 14% sehingga bisa menekan pertumbuhan jamur
  • Atur manajemen penyimpanan bahan baku ransum. Berikan alas (pallet) pada tumpukan bahan baku dan atur posisi penyimpanan sesuai dengan waktu kedatangannya (first in first out, FIFO). Perhatikan suhu dan kelembaban tempat penyimpanan. Hindari penggunaan karung tempat ransum secara berulang dan bersihkan gudang secara rutin. Saat ditemukan serangga, segera atasi mengingat serangga mampu merusak lapisan pelindung biji-bijian sehingga bisa memicu tumbuhnya jamur
  • Saat kondisi cuaca tidak baik, terutama musim penghujan, tambahkan mold inhibitors (penghambat pertumbuhan jamur), seperti asam organik atau garam dari asam organik tersebut. Asam propionat merupakan mold inhibitorsyang sering digunakan
Saat jamur dan mikotoksin telah ditemukan mengkontaminasi ransum, beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menekan efek mikotoksin ini antara lain :
  • Membuang ransum yang terkontaminasi jamur dengan konsentrasi tinggi, mengingat mikotoksin ini sifatnya sangat stabil
  • Jika yang terkontaminasi sedikit, bisa dilakukan pencampuran dengan bahan baku atau ransum yang belum terkontaminasi. Tujuannya tidak lain untuk menurunkan konsentrasi mikotoksin. Namun yang perlu diperhatikan ialah bahan baku ini hendaknya segera diberikan ke ayam agar konsentrasi mikotoksin tidak meningkat
  • Penambahan toxin binder (pengikat mikotoksin), seperti zeolit, bentonit, hydrate sodium calcium aluminosilicate(HSCAS) atau ekstrak dinding sel jamur. Antioksidan, seperti butyrated hidroxy toluene (BHT), vitamin E dan selenium juga bisa ditambahkan untuk mengurangi efek mikotoksin, terutama aflatoksin, DON dan T-2 toxin
  • Suplementasi vitamin, terutama vitamin larut lemak (A, D, E, K), asam amino (metionin dan penilalanin) maupun meningkatkan kadar protein dan lemak dalam ransum juga mampu menekan kerugian akibat mikotoksin. Aminovitdan Fortevit bisa menjadi pilihan

Mikotoksin ternyata mampu menurunkan produktivitas ayam, bahkan menjadikan ayam rentan terserang penyakit (immunosuppressive). Oleh karena itu, sudah selayaknya kita melakukan antisipasi terhadap kehadirannya. Salam.

Info Medion Edisi Oktober 2010

EFEK NEGATIF AMMONIA PADA UNGGAS


             
Ammonia merupakan gas yang dihasilkan dari penguraian asam urat di feces ayam oleh bakteri tertentu di litter. Jika litter jarang diganti, maka level ammonia dalam kandang akan meningkat. Faktor utama yang mempengaruhi konsentrasi ammonia di udara dalam kandang adalah kondisi litter dan ventilasi udara. Kelembaban, pH dan suhu litter, mempengaruhi bakteri saat mengurai  asam urat. Kurangnya ventilasi, feces yang lembek dan berceceran, tempat air minum yang terlalu penuh dan rendah posisinya merupakan penyebab utama litter menjadi basah.
         Ammonia merupakan gas berbau tajam. Pada konsentrasi yang tinggi, ammonia dapat menyebabkan iritasi membran mukosa saluran pernapasan, konjungtiva dan cornea mata. Kerusakan pada membran mukosa tersebut dapat menyebabkan infeksi bakteri, terutama yang disebabkan oleh E. coli. Konsentrasi ammonia yang tinggi juga dapat menyebabkan efek negatif pada daya tahan, berat badan dan system imun ayam. Di Amerika Serikat, level maksimum ammonia yang ditetapkan olehNational Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH) dalam kandang unggas adalah 25 ppm, sedangkan oleh Occupational Safety and Health Administration (OSHA) adalah 50 ppm. Level tersebut  ditentukan berdasarkan pengujian selama 8 jam. Level 50 ppm merupakan level terendah yang dapat menyebabkan iritasi mata, hidung dan tenggorokan pada orang yang sangat sensitif. Pada umumnya manusia dapat mencium ammonia pada konsentrasi 20-30 ppm.
  
(www.pacificsentry.com)

Berikut dampak negatif dari tingginya ammonia di kandang :
  1. Dampak terhadap Mukosa Mata
Ammonia merupakan gas yang sangat mengiritasi mukosa mata. Ammonia akan larut dalam cairan mata dan mucus membran menghasilkan ammonium hidroxyde, yaitu komponen senyawa alkaline yang mampu mengiritasi sehingga dapat menyebabkan konjungtivitis. Ayam yang terinfeksi akan mengalami kemerahan pada matanya, bengkak, sakit dan menghindari cahaya. Pada level ammonia yang tinggi, akan menyebabkan ulcer cornea hingga kebutaan. Kebutaan ini nantinya akan berpengaruh pada ketidakseragaman yang akan berdampak pada rendahnya flock performance
Broiler umur 15 hari dengan kornea yang terkikis. Kikisan terjadi pada pusat kornea dengan motif circular, putih keabuan, buram dan tampak kasar. Hal ini merupakan lesion yang parah dan menyebabkan kebutaan (Dunn, 1996).

  1. Dampak terhadap Saluran Pernafasan.
Penciuman kita bisa mendeteksi dan merasakan bau ammonia di level 5 ppm (rendah) namun di level tersebut bisa berdampak iritasi ringan pada saluran pernafasan ayam modern baik layer maupun broiler (Michael Lacy dari Poultry Diagnostic Centre, Universitas Georgia). Di level 5 ppm, gas amonia mengakibatkan siliostasis (terhentinya gerakan silia atau bulu getar) dan desiliosis (kerusakan silia) pada permukaan saluran pernafasan ayam. 
(A). Broiler usia 19 hari dengan kelopak mata bengkak, mata merah dan kelopak mata selalu menutup. (B) dan (C). Broiler usia 28 hari menunjukkan kebengkakan dan luka pada kelopak mata dan kelopak mata selalu menutup (Aziz, 2010).
b.   Dampak terhadap Konsumsi Pakan.
Tingginya kadar ammonia yang berlangsung dalam waktu lama bisa mempengaruhi beberapa fungsi fisiologis normal ayam misalnya efek sedatif pada system syaraf yang mempengaruhi palatabilitas ayam (nafsu makan) sehingga kecukupan nutrisi harian ayam berkurang yang berakibat penurunan performance ayam, misal pada layer penurunan HD dan berat telur.

C.    Dampak terhadap Kerangka dan Kualitas Telur.
Menurut John Summers dari Universitas Guelph, Kanada tingginya kadar ammonia dapat mengakibatkan kondisi alkalosis pada ayam (pH cairan tubuh, termasuk cairan plasma darah lebih alkalis atau basa). Jika plasma darah bersifat lebih alkalis (pH > 7,2), maka sebagian besar protein plasma seperti globulin dan albumin akan terdisosiasi yang akan mengikat kalsium darah yang sebelumnya berupa ion bebas yang akan dideposit dalam jaringan tulang dan atau saluran telur.  Hal tersebut akan mengganggu pembentukan tulang atau kerangka ayam.
Pada ayam petelur yang sedang produksi, kejadian alkalosis tentu saja akan mengurangi penyediaan zat kapur atau kalsium dalam saluran telur (oviduct).  Manifestasinya adalah kerabang telur yang tipis, pucat dan telur akan mudah pecah atau retak.

PENCEGAHAN
Manajemen litter dan ventilasi yang baik akan mengurangi level ammonia, meningkatkan produktivitas, mengurangi terjadinya Penyakit respirasi, meningkatkan kesejahteraan unggas dan memberikan lingkungan kerja yang nyaman dan aman bagi pekerja kandang.
TREATMENT
Jika upaya pencegahan tidak sempat dilakukan dan efek negatif ammonia sudah mulai terlihat pada ayam, maka pemberian multivitamin seperti TM-VITAVIT-ECO, PROEGG-VITA, OVAMIX, Introvit AD3E WS dan Introvit Oraldapat menjadi pilihan dalam membantu mengurangi manifestasi kerusakan organ lebih jauh dan memperbaiki jaringan yang sudah rusak. Tingginya kadar vitamin A, D3, E khususnya, dan sejumlah komponen lainnya dapat membantu melindungi tubuh dari penyakit, memperbaiki jaringan yang rusak, bahkan meningkatkan produktivitas ternak.
Pemberian antibiotic spectrum luas seperti Interflox Oral, Noran-200 WS dan Oral, Ciprolon dapat digunakan untuk membasmi infeksi penyakit bakterial jika ditemukan indikasi adanya suatu kasus penyakit.
Informasi diatas diharapkan dapat membantu peternak untuk lebih peduli akan kebersihan kandang sehingga penyakit-penyakit ayam dapat terhindar dan penurunan produksi dapat dicegah. 
REFERENSI
Aziz, T. 2010. Harmful effects of ammonia on birds.http://www.worldpoultry.net/ Breeders/Health/2010/10/Harmful-effects-of-ammonia-on-birds-WP00807 1W/.  Accessed on 13 February 2015.
Dunn, P.A. 1996. Eye Disorder of Poultry.http://www.joneshamiltonag.com/jh/wp-content/uploads/2011/10/PLT_Poultry-Eye-Disorders.pdf. accessed on 16 February 2015.
Harto, E. 2013. Cekaman Ammonia pada Layer. https://marketingsieradproducesidoarjo. wordpress.com/artikel/cekaman-ammonia-pada-layer/. Accessed on 13 February 2015.

Sumber : http://temanc.com/detail_artikel.php?kode_obat=67

Minggu, 09 Agustus 2015

Cosed House Pun Tak Luput Rugi

Peternak broiler (ayam pedaging) dengan sistem closed house (kandang tertutup) pun mengeluhkan beratnya tekanan bisnis broiler belakangan ini. Meski tak seburuk nasib peternak rakyat skala kecil yang lebih dulu berguguran satu per satu, menyerah dan memilih menganggurkan kandang-kandangnya karena tak punya lagi dana untuk operasional, peternak closed house yang umumnya ditopang modal kuat pun mulai gelagapan menanggung rugi yang beruntun. Harga pasar yang jeblok di bawah HPP (Harga Pokok Produksi) dan berkepanjangan tak urung memepetkan keuntungan, sebagian impas untuk menutup ongkos operasional, bahkan tak sedikit yang menggerogoti dana simpanan.

Sumiyana, peternak broiler dengan sistem closed house yang berlokasi di Kulon Progo, Jogjakarta mengatakan, teknologi closed house unggul secara teknis budidaya sehingga proses produksi optimal, sehingga menjanjikan keuntungan. Tetapi, kata dia, keunggulan tersebut percuma jika harga produk hasil panen jeblok terus menerus. ”Tetap saja peternak rugi,” kata dia. Menurut Sumiyana, kondisi saat ini yang harus dibenahi adalah bisnisnya, bukan teknis.

Sumiyana mulai April 2013 memutuskan menggelontorkan dana hingga Rp 4,6 miliar untuk berinvestasi di usaha broiler dengan sistem closed house. Tiga closed house didirikan, masing-masing ukuran 100 x 9 m2 yang dapat memuat 27 ribu ekor, sehingga total ia memiliki populasi 80 ribu ekor.

Dan menjadi peternak plasma dengan menginduk pada perusahaan besar (integrator) dipilih Sumiyana. Dalam hitung-hitungannya diatas kertas waktu itu, menurut dia pola kemitraan closed house tersebut akan menguntungkan dan risikonya dapat diminimalkan. ”Saya berani karena saat itu saya hitung, masih bisa nutup untuk bayar bunga pinjaman komersial dari bank,” ujar pria yang juga Dosen Fakultas Ekonomi di Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta ini.

Sumiyana ditarget oleh inti untuk memperoleh margin per ekor Rp 5.000. Angka ini merupakan selisih harga jual ayam dikurangi biaya DOC, pakan, dan obat yang disediakan oleh perusahaan inti. Bukan pekerjaan mudah, karena untuk mendapat margin ini peternak harus mencapai tingkat efisiensi yang baik. Sumiyana mengaku sulit mencapai angka target margin Rp 5.000 per ekor. Kenyataannya ia hanya mampu meraih angka margin di kisaran Rp 3.000 per ekornya. Penjelasannya, harga kesepakatan dengan inti untuk hasil panen live bird (ayam hidup) Rp 17 ribu per kg, sementara ”utang” peternak dihitung Rp 14 ribu untuk pakan dan DOC. Margin Rp 3.000 tersebut masih harus dipangkas lagi untuk biaya operasional pemeliharaan.

Dan sebagaimana dikeluhkan semua jenis usaha di tanah air, Sumiyana menunjuk kenaikan biaya gas dan listrik hingga Rp 300/kwh adalah beban berat karena menyebabkan biaya operasional membengkak hingga Rp 500 per ekornya. Kalau sebelumnya Sumiyana hanya mengeluarkan biaya operasional sekitar Rp 1.800 per ekor ayam, saat ini naik menjadi Rp 2.300 per ekor. ”Harga pakan dari inti juga sempat naik, dari Rp 7.100 jadi Rp 7.500 per kg, mau tidak mau biaya pakan membengkak,” keluhnya.

Dengan margin Rp 3.000 per ekor, dan biaya operasional sekitar Rp 2.300 per ekor, maka keuntungan bersih Sumiyana hanya Rp 700 per ekor ayam. Postur keuangan ini meleset dari analisa awal dia. ”Kondisi ini berarti usaha closed house dengan menggunakan pinjaman di bank hampir tidak layak, karena untuk menutupi bunga bank saja masih kurang,” ucapnya getir.

Meskipun, ia mengaku masih tertolong karena tergabung dalam kemitraan. Ia mengungkapkan, selama beberapa bulan harga  pasar sempat terpuruk di Rp 13.000 – 14.000/kg, sedangkan ia sebagai mitra masih bisa menikmati harga Rp 17.000/kg dari inti. Ia menyadari, perusahaan inti sempat rugi ratusan miliar akibat hancurnya harga live bird.

Kembali Sumiyana menyebut kendala usahanya bukanlah faktor manajemen atau teknis tapi lebih pada bisnisnya itu sendiri. Ia pun mengharap dukungan dari pemerintah, diantaranya subsidi bunga bank. ”Di negara lain suku bunga bank untuk pengusaha kecil bisa di bawah 10 %, ini kita suku bunga masih sekitar 12 %,” keluhnya.

Selain itu ia juga berharap standar harga live bird yang ditentukan inti dapat naik dapat naik Rp 1.000 – 1.500/kg menjadi Rp 18.000 – 18.500/kg. ”Kalau penetapan harga dari inti naik kita kan marginnya juga bisa ikut naik. Idealnya Rp 1.800 – 2.500 keuntungan bersih yang kita peroleh baru bisnis closed house ini bisa dibilang sehat,” kata Sumiyana menyampaikan pandangannya.

Sumber : Majalah Trobos