Close Housed

Kandang sistem closed house adalah kandang tertutup yang menjamin keamanan secara biologi (kontak dengan organisme lain) dengan pengaturan ventilasi yang baik sehingga lebih sedikit stress yang terjadi pada ternak, menyediakan udara yang sehat bagi ternak, menyediakan iklim yang nyaman bagi ternak, meminimumkan tingkat stress pada ternak.

Broiler Modern

Ayam pedaging hasil persilangan dari berbagai bangsa ayam pedaging, yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan daging secara optimal dan edisien, memiliki keunggulan pertumbuhannya yang sangat cepat dengan bobot badan yang tinggi dalam waktu yang relatif pendek, konversi pakan kecil, siap dipotong pada usia muda serta menghasilkan kualitas daging berserat lunak, yang didukung dengan pakan yang berkualitas dan menajemen pemeliharaan yang maksmila

DOC ( Day Old Chick )

DOC(day old chick), anak yam umur 1 hari sangat menentukan keberhasilan usaha ternak ayam. Kondisi DOC yang baik merupakan modal awal yang sangat penting.

Broiler

Campuran dari beberapa bahan baku pakan, baik yang sudah lengkap maupun yang masih akan dilengkapi, yang disusun secara khusus dan mengandung zat gizi yang mencukupi kebutuhan ternak untuk dapat dipergunakan sesuai dengan jenis ternaknya.

Pakan Ayam Broiler

Campuran dari beberapa bahan baku pakan, baik yang sudah lengkap maupun yang masih akan dilengkapi, yang disusun secara khusus dan mengandung zat gizi yang mencukupi kebutuhan ternak untuk dapat dipergunakan sesuai dengan jenis ternaknya.

Kemitraan Ayam Broiler

Kerjasama pemeliharaan ayam broiler dengan pola kerjasama inti dan plasma. Kerjasama dilaksanakan atas dasar saling percaya dan saling menguntungkan antara inti dan plasma.

Senin, 02 Februari 2009

KHASIAT BAWANG PUTIH TERHADAP CACING ASCARIDIA GALLI (CACING GILIG)

Infeksi cacing merupakan salah satu penyakit yang umum dan sangat merugikan peternak ayam. Upaya pengendalian cacing dengan obat cacing yang dipasarkan sampai saat ini hasilnya belum optimal, karena obat cacing umumnya hanya mampu membunuh cacing dewasa dan kurang mampu membunuh telur yang merupakan sumber penularan berikutnya. Selain itu cacing yang mati akibat obat cacing, tidak membuat telur yang ada di dalam tubuhnya mati dan kemungkinan besar masih efektif sebagai sumber penular pada unggas lainnya.

Karena itu beberapa peneliti mencoba menggali pengobatan tradisional seperti Hidayati (1991), melakukan penelitian menggunakan ekstrak bawang putih dengan dosis 1 mg, 3 mg, 10 mg dan 30 mg yang dibandingkan dengan levamisol dalam menurunkan Total Telur per Gram Tinja (TTGT) cacing A. galli pada ayam ras petelur Harco secara in-vivo. Dalam penelitian ini didapat bawang putih efektif menurunkan TTGT dan pada dosis 30 mg efektiviasnya tidak berbeda dibandingkan levamisol.

Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Ida Bagus Made Oka, Universitas Udayana, menggunakan
48 ekor ayam kampung yang terinfeksi cacing A. galli berumur enam bulan. Pemberian bawang putih dilakukan secara oral dengan dosis tertentu (kontrol (P1)2 g (P2), 3 g (P3), 4 g (P4), 5 g (P5), 6 g (P6)). Selama penelitian, ayam yang diberikan perlakuan tidak memperlihatkan kelainan yang mencolok secara klinis, hanya saja sehari setelah perlakuan, dari tinja dan tubuh ayam tercium bau khas bawang putih.

Bawang putih dengan jumlah pemberian 2g, 3g , 4g, 5g dan 6g berkhasiat ovisidal dan vermisidal terhadap telur dan cacing A.galli pada ayam kampung. Ovisidal dan vermisidal bawang putih akan semakin nyata sebanding dengan peningkatan jumlah pemberian Efek ovisidal dan vermisidal bawang putih terhadap telur dan cacing A. galli disebabkan karena bawang putih mengandung bahan berkhasiat anthelmintik alisin yang setelah diteliti lebih lanjut terdiri dari dialil disulfida, dialil trisulfida, propil alil disulfida, dialil mono sulfida, alil polisulfida dan squiterpene (Watanabe, 1998) suatu enzim sulfidril (Handali, 1988) yang dapat menembus dinding telur dan cacing. Enzim sulfhdril mempunyai kemampuan kuat berikatan secara kovalen dengan enzim fosfofruktokinase dari sel (telur dan cacing).

Enzim fosfofruktokinase berfungsi mengkatalis perubahan fruktosa-6-fosfat menjadi fruktosa-1,6-difosfat pada jalur glikolitik protein dan glukosa, karena berikatan secara kovalen dengan alisin menyebabkan perubahan fruktosa-6-fosfat tidak terjadi (Siswandono dan Soekardjo, 1995) dan pada akhirnya AT P akan tidak terbentuk (Colby, 1992). Tidak terbentuknya AT P menyebabkan pembelahan sel di dalam telur tidak akan berlangsung sehingga pada akhirnya embrio tidak terbentuk (berkhasiat ovisidal), sedangkan khasiat vermisidal akibat tidak terbentuknya AT P menyebabkan cacing akan kekurangan tenaga dan akhirnya mati.

Sumber : Jvet Vol 4 (2), www.jvetunud.com
Edisi Januari 2008 Nomor 97/Tahun IX

MENGENAL BAWANG PUTIH BAGI KESEHATAN

Bawang putih atau Allium sativum sudah menjadi bahan dapur wajib saat memasak karena aroma dan rasa yang dihasilkannya menambah sedap setiap resep masakan. Terlebih lagi dengan adanya berbagai penelitian yang menemukan khasiat bawang putih bagi kesehatan dan menambah panjang deretan penggemar setianya.

Bila menengok ke beberapa abad lalu, manfaat bawang putih bagi masakan dan kesehatan ini ternyata sudah digunakan sejak zaman Yunani dan Romawi kuno, untuk dikonsumsi dan pengobatan. Sedangkan di dalam resep makanan Libanon, bawang putih sejak dulu digunakan sebagai resep untuk diet. Seiring dengan berjalannya waktu, semakin banyak ditemukan khasiat bawang putih bagi kesehatan yang kemudian diuji melalui serangkaian penelitian baik dalam maupun luar negeri.

Manfaat bawang putih antara lain sebagai pembantu penurun kadar kolesterol. Hal ini disebabkan karena adanya zat ajoene yang terkandung di dalamnya, yaitu suatu senyawa yang bersifat antikolesterol dan membantu mencegah penggumpalan darah.
Ada pula penelitian yang menemukan bahwa mengkonsumsi bawang putih secara teratur sekitar 2 – 3 siung setiap hari dapat membantu mencegah serangan jantung. Pasalnya bawang putih ini bermanfaat membantu mengecilkan sumbatan pada arteri jantung sehingga meminimalkan terjadinya serangan.

Bawang putih juga dapat membantu menghindari kanker yang dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh University of Minnesota. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa resiko terkena kanker di usia tua berkurang sebanyak 50% bila mengkonsumsi bawang putih secara rutin.

Bawang Putih untuk Unggas

Penelitian lain yang dilakukan oleh Sri Suharti dari IPB memberikan suatu hasil bahwa bawang putih juga terbukti mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Penelitian dengan melalui pemberian temulawak, jahe dan bawang putih yang diuji kemampuannya terhadap bakteri Salmonella typhimurium dengan cara dikeringkan dan digiling menjadi bubuk, kemudian diukur aktifitas bakterinya. Terbukti bawang putih dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang setara dengan tetrasiklik 100 dan 1549 g/ml dengan konsentrasi 5%. Sedangkan temulawak dan jahe jauh lebih rendah kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. typhimurium. Aktifitas antibakteri bawang putih ini disebabkan kandungan diallyl thiosulfinate (biasa disebut : allicin), yang diduga dapat merusak dinding sel dan menghambat sintesa protein.

Pemberian bawang putih hingga 2,5% dalam ransum ayam broiler dapat meningkatkan konversi pakan, meningkatkan karkas, menurunkan koloni bakteri S. Typhimurium dalam feses dengan tidak mempengaruhi kadar immunoglobulin dalam darah.
Dengan demikian, bawang putih ini cukup potensial menjadi alternative suplemen zat antimikroba. Namun, masih perlu dilakukan penelitian lagi sampai sejauh mana bawang putih effektif digunakan dalam pakan broiler.

Di Negara Asia, seperti Jepang atau Cina, bawang putih bias dikonsumsi tanpa harus ditumbuk halus atau dirajang seperti kebanyakan bumbu di Indonesia. Di mana satu suing bawang putih tinggal dibakar diatas api atau langsung dikudap tanpa racikan lain, untuk menambah rasa masakan. Selain sebagai penyedap masakan, bawang putih juga dapat mengurangi dampak buruk dari lemak.

Konsumsi bawang putih tentu saja harus diimbangi dengan gaya hidup yang sehat seperti mengurangi makanan yang mengandung lemak atau kolesterol tinggi, banyak olahraga, beristirahat serta mengkonsumsi makanan yang kaya akan nutrisi. Sumber : kompas & www.cybernews.com

KASUS NECROTIC ENTERITIS BERTAMBAH

NECROTIC enteritis yang menyerang hebat dapat dikurangi dengan menambah
temperature kandang dan mengurangi tingkat cahaya ketika ayam mulai terserang
penyakit ini.

Terjangkitnya Necrotic enteritis (NE) pada broiler telah meningkat mungkin disebabkan
bertambahnya pemberian antibiotik, kata Dr. Steven Davis, Presiden Colorado Quality
Research. Davis telah melakukan penelitian, memproduksi NE dalam satu fl ok sehingga
cara pengobatan dan pencegahan dapat ditest. Ia mengatakan bahwa konsumsi pakan
dan keadaan litter mempunyai pengaruh yang kuat pada resiko terjangkitnya NE. Konsumsi pakan yang tinggi menambah resiko terjangkitnya penyakit tetapi pemakaian cahaya yang
dibatasi sehingga mengurangi konsumsi pakan akan menurunkan resiko. Pada temperatur
dingin menambah konsumsi pakan dan menambah resiko terkena NE. Davis melaporkan
bahwa menambah temperatur kandang dan mengurangi pemakaian cahaya, keduanya
menyebabkan penurunan konsumsi pakan dapat memperbaiki kesehatan ayam untuk tidak
terjangkit NE.

NE disebabkan oleh bakteri Clostridium perfringens tetapi tidak semua ayam yang
terkena NE akan menderita NE karena tidak semua Clostridium perfringens mempunyai
kemampuan memproduksi penyakit. Type dan jumlah coccidia dan adanya Clostridium
perfringens dalam kandang adalah faktor kunci yang menyebabkan NE yang hebat.
Adalah sukar untuk menimbulkan NE atau bahkan performans yang mempengaruhi kuat
bakteri enteritis tanpa coccidiosis yang merusak usus dan memberi kesempatan bakteri
untuk menginfeksi usus. Kehebatan infeksi coccidiosis berhubungan langsung dengan
kemampuan untuk menimbulkan enteritis dan kematian fl ok, jadi kontrol terhadap bakteri dan coccidiosis dan mengurangi jumlah organisme dalam kandang dapat mengurangi resiko terjangkitnya NE.

Kondisi litter dan kemungkinan type litter dapat menambah atau mengurangi penyakit
NE. Litter yang basah dapat menambah pengaruh kedinginan pada ayam dan tantangan
adanya coccidia dan keduanya dapat menyebabkan NE. Sebaiknya litter diberi acidifi er
dalam membantu mengontrol timbulnya NE. Mengurangi bakteri dalam lingkungan broiler
terutama kandang yang pernah terjangkit NE, dapat dilakukan dengan mendesinfektan
kandang-kandang tersebut. Perhatian yang lebih terhadap efektifnya desinfektan dan
pemberian obat-obatan pada litter akan sangat membantu mengontrol NE di masa yang
akan datang. (Sumber : Large-Volume Grower, November 2006)

Kamis, 29 Januari 2009

TANAMAN OBAT MENINGKATKAN EFISIENSI PAKAN DAN KESEHATAN TERNAK UNGGAS

DESMAYATI ZAINUDDIN
Balai Penelitian Ternak
Jl. Veteran – III PO Box 221, Bogor 16002

ABSTRAK

Ramuan tanaman obat pada umumnya dikonsumsi oleh manusia untuk tujuan menjaga kesehatan atau
sebagai pengobatan beberapa penyakit tertentu. Sejak krisis moneter yang terjadi di Indonesia sampai saat ini
harga obat-obatan buatan pabrik (impor) sangat mahal, sehingga tidak terjangkau oleh para petani ternak,
khususnya peternak dalam skala menengah ke bawah. Oleh karena itu peternak berupaya mencari alternatif
lain dengan memanfaatkan beberapa tanaman obat sebagai obat tradisional yang disebut jamu hewan yang
dapat diberikan dalam bentuk larutan melalui air minum dan atau dalam bentuk simplisia (tepung) yang
dicampur kedalam ransum sebagai “feed additive” maupun “feed supplement”. Tujuan makalah ini untuk
mensosialisasikan dan menginformasikan manfaat dan khasiat dari tanaman obat sebagai jamu dan atau “feed
additive” untuk ternak. Jamu hewan atau ramuan beberapa tanaman obat tersebut dapat dibuat sendiri oleh
petani ternak dan harganya lebih murah dibandingkan obat pabrik, tetapi khasiatnya cukup baik untuk
pencegahan maupun pengobatan pada ternak unggas, antara lain penyakit gangguan pernafasan (Snot dan
CRD), koksidiosis, kurang nafsu makan, diare, feses hijau. Pemberian jamu hewan maupun tanaman obat
obat sebagai “feed additive” sudah banyak dilakukan oleh peternak unggas (ayam lokal, ayam ras broiler,
layer, puyuh, itik serta unggas kesayangan) di wilayah DKI, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan,
Kalimantan Timur, Riau). Ternak ayam lokal (kampung) pedaging maupun petelur yang dipelihara pada
kelompok ternak di Jakarta Selatan, setiap hari diberi larutan jamu hewan melalui air minum ternyata
memberi respon positif terhadap pertumbuhan dan stamina ayam menjadi lebih baik (jarang sakit dan
mortalitas rendah), lemak karkas sangat rendah, aroma daging dan telur tidak amis, warna kuning telur lebih
oranye/skor diatas 7, serta bau kotoran ayam (ammonia) di sekitar kandang berkurang. Ternak ayam ras
broiler, petelur maupun unggas lokal (ayam dan itik) yang diberi ramuan tanaman obat sebagai “feed
additive” menunjukkan peningkatan terhadap efisiensi pakan dan kesehatan ternak

Kata kunci: Tanaman obat, jamu hewan, feed additive, kesehatan unggas

Tulisan Lengkap klik disini

PENGGUNAAN RAMUAN HERBAL SEBAGAI FEED ADDITIVE UNTUK MENINGKATKAN PERFORMANS BROILER

LAILY AGUSTINA
Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin
Kampus Tamalanrea Km 10 Makassar

ABSTRAK

Penelitin ramuan herbal pada broiler untuk mengetahui efek penggunaannya sebagai feed additive
terhadap performans dan menguji kemampuan daya hambat antibakteri yang dikandung dalam ramuan herbal
tersebut. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap 3 (tiga) dosis ramuan herbal P0 (0 ml per liter air
minum); P1 (2.5 ml per liter air minum) dan P2 (5 ml per liter air minum) dengan 5 (lima) ulangan dan setiap
unit perlakuan terdiri dari 5 (lima) ekor DOC. yang dipelihara sampai umur 35 hari. Parameter performans
yang diukur meliputi: konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, konversi pakan, rasio efisiensi protein,
persentase karkas dan persentase lemak abdominal. Disamping itu dilakukan uji daya hambat antibakteri
terhadap 3 (tiga) jenis bakteri yaitu Staphylococus aureus, Escherichia coli dan Pseudomonas aeruginosa
serta analisis kolesterol yang terkandung dalam darah ayam. Berdasarkan hasil dan pembahasan, disimpulkan
bahwa ramuan herbal mengandung antibakteri, mampu menurunkan kadar kolesterol darah dan bobot badan
tertinggi diperoleh pada pemberian 2.5 ml ramuan herbal per liter air minum.
Kata kunci: Ramuan herbal, Additive, performans broiler
tulisan lengkap klik disini

Kamis, 15 Januari 2009

Yolk Sac Infection, Omphallitis



Introduction
A condition seen worldwide in chickens, turkeys and ducks due to bacterial infection of the navel and yolk sac of newly hatched chicks as a result of contamination before healing of the navel. Disease occurs after an incubation period of 1-3 days. Various bacteria may be involved, especially E .coli, Staphylococci, Proteus, Pseudomonas. Morbidity is 1-10% and mortality is high in affected chicks. It is seen where there is poor breeder farm nest hygiene, use of floor eggs, inadequate hatchery hygiene or poor incubation conditions, for example poor hygiene of hatching eggs, 'bangers', and poor hygiene of setters, hatchers or chick boxes. Inadequate incubation conditions resulting in excessive water retention and slowly-healing navels and 'tags' of yolk at the navel on hatching also contribute to the problem.
Signs
• Dejection.
• Closed eyes.
• Loss of appetite.
• Diarrhoea.
• Vent pasting.
• Swollen abdomen.
Post-mortem lesions
• Enlarged yolk sac with congestion.
• Abnormal yolk sac contents (colour, consistency) that vary according to the bacteria involved.
Diagnosis
A presumptive diagnosis is based on the age and typical lesions. Confirmation is by isolation and identification of the bacteria involved in the internal lesions. Differentiate from incubation problems resulting in weak chicks.
Treatment
Antibiotics in accordance with sensitivity may be beneficial in the acute stages, however the prognosis for chicks showing obvious signs is poor; most will die before 7 days of age.
Prevention
Prevention is based on a good programme of hygiene and sanitation from the nest through to the chick box (e.g. clean nests, frequent collection, sanitation of eggs, exclusion of severely soiled eggs, separate incubation of floor eggs etc. There should be routine sanitation monitoring of the hatchery. Multivitamins in the first few days may generally boost ability to fight off mild infections.

www.thepoultrysite.com

Mycoplasma gallisepticum infection, M.g., Chronic Respiratory Disease - Chickens

Introduction
Infection with Mycoplasma gallisepticum is associated with slow onset, chronic respiratory disease in chickens, turkeys, game birds, pigeons and other wild birds. Ducks and geese can become infected when held with infected chickens. In turkeys it is most associated with severe sinusitis (see separate description in the turkey section). The condition occurs worldwide, though in some countries this infection is now rare in commercial poultry. In others it is actually increasing because of more birds in extensive production systems that expose them more to wild birds.

In adult birds, though infection rates are high, morbidity may be minimal and mortality varies.

The route of infection is via the conjunctiva or upper respiratory tract with an incubation period of 6-10 days. Transmission may be transovarian, or by direct contact with birds, exudates, aerosols, airborne dust and feathers, and to a lesser extent fomites. Spread is slow between houses and pens suggesting that aerosols are not normally a major route of transmission. Fomites appear to a significant factor in transmission between farms. Recovered birds remain infected for life; subsequent stress may cause recurrence of disease.

The infectious agent survives for only a matter of days outwith birds although prolonged survival has been reported in egg yolk and allantoic fluid, and in lyophilised material. Survival seems to be improved on hair and feathers. Intercurrent infection with respiratory viruses (IB, ND, ART), virulent E. coli, Pasteurella spp. Haemophilus, and inadequate environmental conditions are predisposing factors for clinical disease.
Signs
• Coughing.
• Nasal and ocular discharge.
• Poor productivity.
• Slow growth.
• Leg problems.
• Stunting.
• Inappetance.
• Reduced hatchability and chick viability.
• Occasional encephalopathy and abnormal feathers.
Post-mortem lesions
• Airsacculitis.
• Pericarditis.
• Perihepatitis (especially with secondary E. coli infection).
• Catarrhal inflammation of nasal passages, sinuses, trachea and bronchi.
• Occasionally arthritis, tenosynovitis and salpingitis in chickens.
Diagnosis
Lesions, serology, isolation and identification of organism, demonstration of specific DNA (commercial PCR kit available). Culture requires inoculation in mycoplasma-free embryos or, more commonly in Mycoplasma Broth followed by plating out on Mycoplasma Agar. Suspect colonies may be identified by immuno-flourescence.

Serology: serum agglutination is the standard screening test, suspect reactions are examined further by heat inactivation and/or dilution. Elisa is accepted as the primary screening test in some countries. HI may be used, generally as a confirmatory test. Suspect flocks should be re-sampled after 2-3 weeks. Some inactivated vaccines for other diseases induce 'false positives' in serological testing for 3-8 weeks. PCR is possible if it is urgent to determine the flock status.

Differentiate from Infectious Coryza, Aspergillosis, viral respiratory diseases, vitamin A deficiency, other Mycoplasma infections such as M. synoviae and M. meleagridis (turkeys).
Treatment
Tilmicosin, tylosin, spiramycin, tetracyclines, fluoroquinolones. Effort should be made to reduce dust and secondary infections.
Prevention
Eradication of this infection has been the central objective of official poultry health programmes in most countries, therefore M.g. infection status is important for trade in birds, hatchingeggs and chicks. These programmes are based on purchase of uninfected chicks, all-in/all-out production, biosecurity, and routine serological monitoring. In some circumstances preventative medication of known infected flocks may be of benefit.

Live attenuated or naturally mild strains are used in some countries and may be helpful in gradually displacing field strains on multi-age sites. Productivity in challenged and vaccinated birds is not as good as in M.g.-free stock.

www.thepoultrysite.com

Necrotic Enteritis


Introduction
An acute or chronic enterotoxemia seen in chickens, turkeys and ducks worldwide, caused by Clostridium perfringens and characterised by a fibrino-necrotic enteritis, usually of the mid- small intestine. Mortality may be 5-50%, usually around 10%. Infection occurs by faecal-oral transmission. Spores of the causative organism are highly resistant. Predisposing factors include coccidiosis/coccidiasis, diet (high protein), in ducks possibly heavy strains, high viscosity diets (often associated with high rye and wheat inclusions in the diet), contaminated feed and/or water, other debilitating diseases.
Signs
• Depression.
• Ruffled feathers.
• Inappetance.
• Closed eyes.
• Immobility.
• Dark coloured diarrhoea.
• Sudden death in good condition (ducks).
Post-mortem lesions
• Small intestine (usually middle to distal) thickened and distended.
• Intestinal mucosa with diptheritic membrane.
• Intestinal contents may be dark brown with necrotic material.
• Reflux of bile-stained liquid in the crop if upper small intestine affected.
• Affected birds tend to be dehydrated and to undergo rapid putrefaction.
Diagnosis
A presumptive diagnosis may be made based on flock history and gross lesions Confirmation is on the observation of abundant rods in smears from affected tissues and a good response to specific medication, usually in less than 48 hours.
Treatment
Penicillins (e.g. phenoxymethyl penicillin, amoxycillin), in drinking water, or Bacitracin in feed (e.g. 100 ppm). Treatment of ducks is not very successful, neomycin and erythromycin are used in the USA. Water medication for 3-5 days and in-feed medication for 5-7 days depending on the severity.
Prevention
Penicillin in feed is preventive, high levels of most growth promotors and normal levels of ionophore anticoccidials also help. Probiotics may limit multiplication of bacteria and toxin production. In many countries local regulations or market conditions prevent the routine use of many of these options.

www.thepoultrysite.com

Colibacillosis, Colisepticemia

Introduction
Coli-septicaemia is the commonest infectious disease of farmed poultry. It is most commonly seen following upper respiratory disease (such as Infectious Bronchitis) or Mycoplasmosis. It is frequently associated with immunosuppressive diseases such as Infectious Bursal Disease Virus (Gumboro Disease) in chickens or Haemorrhagic Enteritis in turkeys, or in young birds that are immunologically immature. It is caused by the bacterium Escherichia coli and is seen worldwide in chickens, turkeys, etc.

Morbidity varies, mortality is 5-20%. The infectious agent is moderately resistant in the environment, but is susceptible to disinfectants and to temperatures of 80°C.

Infection is by the oral or inhalation routes, and via shell membranes/yolk/navel, water, fomites, with an incubation period of 3-5 days.

Poor navel healing, mucosal damage due to viral infections and immunosuppression are predisposing factors.
Signs
• Respiratory signs, coughing, sneezing.
• Snick.
• Dejection.
• Reduced appetite.
• Poor growth.
• Omphalitis.
Post-mortem lesions
• Airsacculitis.
• Pericarditis.
• Perihepatitis.
• Swollen liver and spleen.
• Peritonitis.
• Salpingitis.
• Omphalitis.
• Synovitis.
• Arthritis.
• Enteritis.
• Granulomata in liver and spleen.
• Cellulitis over the abdomen or in the leg.
• Lesions vary from acute to chronic in the various forms of the disease.
Diagnosis
Isolation, sero-typing, pathology. Aerobic culture yields colonies of 2-5mm on both blood and McConkey agar after 18 hours - most strains are rapidly lactose-fermenting producing brick-red colonies on McConkey agar.

Differentiate from acute and chronic infections with Salmonella spp, other enterobacteria such as Proteus, as well as Pseudomonas, Staphylococcus spp. etc.
Treatment
Amoxycillin, tetracyclines, neomycin (intestinal activity only), gentamycin or ceftiofur (where hatchery borne), potentiated sulphonamide, flouroquinolones.
Prevention
Good hygiene in handling of hatching eggs, hatchery hygiene, good sanitation of house, feed and water. Well-nourished embryo and optimal incubation to maximise day-old viability.

Control of predisposing factors and infections (usually by vaccination). Immunity is not well documented though both autogenous and commercial vaccines have been used.

www.thepoultrysite.com

Ascites

Introduction
Associated with inadequate supplies of oxygen, poor ventilation and physiology (oxygen demand, may be related to type of stock and strain). Ascites is a disease of broiler chickens occurring worldwide but especially at high altitude. The disease has a complex aetiology and is predisposed by reduced ventilation, high altitude, and respiratory disease. Morbidity is usually 1-5%, mortality 1-2% but can be 30% at high altitude. Pulmonary arterial vasoconstriction appears to be the main mechanism of the condition.
Signs
• Sudden deaths in rapidly developing birds.
• Poor development.
• Progressive weakness and abdominal distension.
• Recumbency.
• Dyspnoea.
• Possibly cyanosis.
Post-mortem lesions
• Thickening of right-side myocardium.
• Dilation of the ventricle.
• Thickening of atrioventricular valve.
• General venous congestion.
• Severe muscle congestion.
• Lungs and intestines congested.
• Liver enlargement.
• Spleen small.
• Ascites.
• Pericardial effusion.
• Microscopic - cartilage nodules increased in lung.
Diagnosis
Gross pathology is characteristic. A cardiac specific protein (Troponin T) may be measured in the blood. This may offer the ability to identify genetic predisposition. Differentiate from broiler Sudden Death Syndrome and bacterial endocarditis.
Treatment
Improve ventilation, Vitamin C (500 ppm) has been reported to be of benefit in South America.
Prevention
Good ventilation (including in incubation and chick transport), avoid any genetic tendency, control respiratory disease.

www.thepoultrysite.com

Senin, 05 Januari 2009

Awas Budidaya Unggas di Musim Penghujan

Menghadapi musim hujan, ada tiga hal yang harus dibenahi,yakni kondisi kandang, manajemen budidaya dan kesiapan petugas kandang. Disamping itu, waspadai juga penyakit yang mungkin timbul.
Seperti kata pepatah sedia payung sebelum hujan, demikian juga dunia perunggasan dalam menyambut datangnya musim hujan. Payung untuk budidaya perunggasan berupa kesiapan kandang menghadapi musim penghujan, kesesuaian manajemen terhadap kondisi yang dihadapi selama musim penghujan, kesiapan petugas kandang mengantisipasi semua kemungkinan yang ada.

Kesiapan kandang. Sebelum musim penghujan tiba kandang harus sudah disiapkan. Yang perlu dicermati antara lain :

* Kondisi atap: Benahi atap apabila terdapat kebocoran. Masuknya air hujan dapat menyebabkan basahnya litter, pakan, bahkan ayam. Kejadian ini dapat menimbulkan terjadinya kasus jamur, hipotermi, maupun meningkatnya kandungan amoniak. Selain itu masuknya air hujan ke dalam menyebabkan kayu atau bambu kerangka kandang cepat rapuh, sehingga membuat biaya operasional meningkat.
* Kondisi gudang: Gudang hendaknya tetap dalam kondisi kering, sehingga pakan dapat terjaga mutunya. Bila lantai gudang lembab, pemakaian penyangga pakan sangat disarankan. Penyangga dapat dibuat dari kayu, maupun bambu.
* Saluran air: Saluran air yang baik dapat menghindarkan kandang dari kebanjiran, maupun basahnya kotoran ayam. Dengan lancarnya aliran air, diharapkan genangan-genangan air di sekitar kandang dapat dikurangi.
* Air minum: Pada waktu musim hujan volume air dalam sumber air meningkat, kadang permukaan air hampir sama dengan permukaan tanah. Apabila sumber air terletak di daerah yang kandungan kumannya tinggi, seperti dekat kandang, dekat tempat pembuangan, maka disarankan untuk memberikan klorin pada air minum.

Kesesuaian manajemen. Diantaranya manajemen pakan, sanitasi, biosecurity dan manajemen litter.

* Manajemen pakan: Penyimpanan pakan harus memperhitungkan kondisi gudang selama musim hujan. Hindari basahnya pakan, karena akan mempengaruhi mutu pakan, baik komposisi, bentuk aroma, maupun menghindari tumbuhnya jamur pada pakan.
* Sanitasi: Siapkan tempat dipping dimuka kandang.
* Biosecurity: Musim hujan basahnya diikuti dengan meningkatnya populasi lalat dan nyamuk, hal ini disebabkan adanya genangan air di sekitar kandang. Lalat dan nyamuk merupakan vektor dari berbagai macam penyakit. Untuk itu usaha pemberantasan serangga harus menjadi program disaat musim penghujan.
* Manajemen litter. Usahakan litter tetap kering. Bila litter basah usahakan segera diganti. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah persediaan litter selama musim penghujan harus cukup.

Kesiapan petugas. Petugas hendaknya siap terhadap kasus-kasus yang sifatnya mendadak, untuk itu kesiapan petugas kandang sangat diperlukan, seperti mengoptimalkan suhu selama masa brooding, mengontrol kondisi atap, saluran air dan kondisi gudang.
Kasus penyakit. Beberapa penyakit yang biasa timbul selama musim penghujan diantaranya:

* Colibacilosis : Disebabkan oleh infeksi baktri Eschericia coli. Penularan melalui kontak langsung antara ayam sakit dengan ayam sehat melalui pakan, minum dan debu yang tercemar. Colibacilosis dapat menyebabkan kematian embrio. Infeksi yolk sac, omfalis, ooforitis, salpingitis, koligranuloma dan arthritis. Hal yang dapat dilakukan dengan mengoptimalkan sanitasi, bisecurity dan ventilasi udara.
* Coccidiosis: Disebabkan oleh Eimeria (protozoa). Penyakit ini menyerang saluran pencernaan ayam sehingga gejala yang sering timbul adalah berak darah. Pencegahan dengan mengoptimalkan sanitasi, ventilasi udara, sinar matahari dan biosecurity.
* Jamur: Jenis jamur yang sering menyerang ayam adalah Aspergillus. Jamur ini masuk ke tubuh ayam melalui pakan atau litter. Jamur ini terutama menyerang saluran pernafasan ayam.

Penyakit-penyakit lain yang penularannya melalui vektor lalat tikus dan nyamuk. Pada musim hujan, genangan air banyak terdapat disekitar kandang, sehingga populasi nyamuk meningkat. Basahnya kotoran ayam juga menyebabkan populasi lalat meningkat. Dengan turunnya hujan, semak-semak sekitar kandang juga menjadi rimbun sehinga menjadi tempat sembunyi tikus. Untuk itu program pembasmian tikus, lalat dan nyamuk harus dilaksanakan pada musim penghujan.

sumber http://mitraunggas.com/index.php?main_page=more_news&news_id=9

Karakteristik Strain Broiler


Karakteristik serta keunggulan strain broiler dan layer di Indonesia antara lain:

Strain Cobb (broiler)

1. Titik tekan pada perbaikan FCR
2. Pengembangan genetik diarahkan pada pembentukan daging dada
3. Mudah beradaptasi dengan lingkungan tropis (heat stress)
4. Produksi efisien (Bobot badan 1,8 – 2 kg; FCR 1,65)

Strain Hybro (broiler)

1. Fokus terhadap kekuatan dan daya hidup
2. Menjaga keseimbangan antara sifat broiler dan breeder
3. Performa bagus pada iklim tropis
4. Tahan terhadap kasus ascites
5. Fokus pengembangan genetik pada hasil/produk karkas

Strain Ross (broiler)

1. FCR lebih efisien
2. Laju pertumbuhan lebih cepat
3. Daya hidup lebih bagus
4. Fokus pengembangan genetik pada kekuatan kaki sebagai penyeimbang berat badan

sumber www.cjfeed.co.id/

Kamis, 01 Januari 2009

Jangan Biarkan Ayam Anda Sakit


SUATU usaha budidaya unggas tidak selamanya berhasil. Terkadang gagal alias rugi. Berbagai macam faktor penyebabnya, cuaca, pakan yang kurang baik, harga pasar yang rendah dan kesehatan ayam, dalam hal ini ayam yang dipelihara sakit. DOC yang dikirim dari hatchery ke kandang telah melalui suatu proses seleksi yang sangat ketat, oleh karena itu peluang untuk ayam kesehatannya terganggu sangatlah kecil. Namun sampai hari ini masih banyak kasus penyakit yang terjadi karena prinsip-prinsip manajemen pemeliharaan budidaya dan biosecurity tidak diterapkan oleh beberapa kalangan peternak atau pebisnis ayam, sehingga kerugian setiap saat menghadang. Penyakit yang terjadi pada unggas bukan hanya disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak bersahabat atau dengan kata lain tidak dapat diatur, namun juga sangat banyak disebabkan oleh kelalaian pemelihara atau peternak. Dalam hal manajemen, umumnya peternak berpegang atau berpedoman pada kebiasaan tanpa melihat kondisi lingkungan, sehingga kegagalan yang diperoleh karena kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh ayam tidak diberikan sebagaimana mestinya. Penyebaran penyakit pada unggas dapat terjadi secara vertikal dan horizontal. Karena itu pengawasan yang ketat perlu dilakukan dan perlu juga perhatian yang lebih jika ayam yang dipelihara terinfeksi suatu penyakit. Beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan seperti: umur ayam yang terinfeksi penyakit, tingkat morbiditas, jenis antibiotik dan dosis antibiotik yang akan digunakan untuk mengobati ayam yang sakit, semuanya ini merupakan hal yang sangat penting dan harus diketahui oleh seorang peternak .

Mekanisme Transmisi Penyakit
Mekanisme transmisi penyakit yang telah dikenal ada beberapa sebagai berikut :
1. Transovarial Route ( Secara Vertikal ) dari induk melalui telur, seperti Mycoplasmosis, Pullorum, Reovirus dan Adenovirus.
2. Transmisi Melalui Egg Shell (E.Coli, Salmonella SPP).
3. Transmisi Langsung (Salmonellosis, Coryza, Mycoplasmosis, Laryngotrachetis dan Pasteurellosis).
4. Transmisi Tidak Langsung (Transport, Equipment dan Feed yang dikirim ke farm).
5. Melalui Angin (Jarak 5 KM bahkan lebih, penyakit vvND dan ILT masih dapat menyerang).
6. Vektor Biologis (Burung– burung liar vektor AI dan Pasteurella SPP).
7. Pakan (Kontaminasi).
8. Vaksin (Kontaminasi).

Berapa Lama Bibit Penyakit Itu Bertahan?
Daya hidup penyakit sangat bervariasi tergantung dari penyakit tersebut, contoh : daya hidup Mycoplasma Galliseptikum (pada gambar 1).

Peran Dan Mekanisme KerjaAntibiotik
Antibiotik merupakan zat kimiawi yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang mempunyai kemampuan, dalam larutan encer, untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme ( Newman, 2002 ). Tidak semua penyakit yang menyerang unggas harus diberi antibiotik. Ada beberapa hal yang perlu dipahami mengenai peran dan mekanisme kerja antibiotik. Disamping itu pula seorang peternak harus mampu atau memahami secara detail waktu paruh obat yang digunakan untuk mengobati penyakit yang menyerang unggas agar aplikasinya tepat sehingga dapat memberikan kesembuhan. Waktu paruh adalah jangka waktu sampai kadar obat dalam darah menurun menjadi separuh dari harga asalnya ( Mutschler, 1991 ) atau kadang juga didefinisikan sebagai waktu yang diperlukan oleh tubuh untuk menetralisir obat tersebut. Waktu paruh dari berbagai jenis antibiotik dapat dilihat pada Tabel
1 dibawah ini :
Hindari agar Ayam tidak Sakit
Beberapa hal yang perlu dilakukan atau dilaksanakan oleh peternak agar terhindar dari kerugian yang disebabkan karena ayam sakit:
1. Biosecurity yang ketat.
2. Down Time atau masa istirahat kandang yang cukup, minimal 14 hari.
3. Usahakan umur ayam dalam satu farm seragam.
4. Waktu dan aplikasi vaksin yang tepat dan akurat.
5. Lalu lintas karyawan diperketat, sebaiknya jangan berpindah dari satu kandang kekandang lain.
6. Lakukan uji sensitivitas antibiotik secara berkala, agar antibiotik yang sudah resisten tidak terpakai.
7. Jaga kebersihan didalam dan diluar farm.
8. Pemberian pakan yang teratur.
9. Pemberian vitamin, terutama pada satu hari sebelum vaksin, pada saat vaksin dan satu hari setelah vaksin, karena dampak reaksi post vaksinasi yang berat dapat mengakibatkan ayam menjadi sakit.

Pemberian Antibiotik Pada Ayam
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemberian antibiotik pada ayam :
1. Antibiotik yang diberikan harus disesuaikan dengan kondisi ayam, apakah untuk pencegahan atau untuk pengobatan
2. Pilihlah antibiotik yang cocok, dalam hal ini memiliki daya kerja untuk membunuh
mikroorganisme patogen atau sesuaikan dengan spekrum antibiotik tersebut.
3. Berikan antibiotik sesuai dengan waktu paruh yang dimiliki oleh antibiotik tersebut
yang dipilih.
4. Berat badan dan konsumsi air minum mutlak harus diketahui agar antibiotik yang diberikan sesuai dosis yang dibutuhkan.
5. Perhatikan waktu henti obat dan lama pemberiannya.
6. Kemampuan diagnosa yang akurat agar tidak salah dalam pemberian dosis, dalam artian dilihat tingkat morbiditas.
7. Perhatikan umur ayam yang akan diobati.



Kesimpulan
Dari beberapa hasil survey yang dilakukan ditemukan bahwa umumnya farm yang tingkat kebersihannya rendah sangat banyak terjadi kasus penyakit, akan tetapi farm yang kondisi lingkungannya bersih dan manajemen yang bagus sangat jarang terjadi kasus penyakit. Sanitasi yang baik sudah menentukan 80 persen tingkat keberhasilan dalam hal budidaya unggas.
(Oleh : By : Syahrir Akil,
Technical Service and Development, PT.
CPI) Jakarta

Tabel 1. Waktu Paruh Berbagai Jenis Antibiotik.
NAMA ANTIBIOTIKA WAKTU PARUH
AMPICILLIN 10 – 15 MENIT
PENICILLIN 1 JAM
CHLORAMPHENICOL 1,2 JAM
OXYTETRACYCLINE 4,2 JAM
TYLOSIN 5 JAM
KEL. SULFA > 6 JAM
TRIMETHOPRIM > 6 JAM
DOXYCICLINE 16 – 18 JAM
ERYTROMYCIN 8 – 9 JAM


BULETIN CP. MARET 2008 Nomor 99/Tahun IX