Close Housed

Kandang sistem closed house adalah kandang tertutup yang menjamin keamanan secara biologi (kontak dengan organisme lain) dengan pengaturan ventilasi yang baik sehingga lebih sedikit stress yang terjadi pada ternak, menyediakan udara yang sehat bagi ternak, menyediakan iklim yang nyaman bagi ternak, meminimumkan tingkat stress pada ternak.

Broiler Modern

Ayam pedaging hasil persilangan dari berbagai bangsa ayam pedaging, yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan daging secara optimal dan edisien, memiliki keunggulan pertumbuhannya yang sangat cepat dengan bobot badan yang tinggi dalam waktu yang relatif pendek, konversi pakan kecil, siap dipotong pada usia muda serta menghasilkan kualitas daging berserat lunak, yang didukung dengan pakan yang berkualitas dan menajemen pemeliharaan yang maksmila

DOC ( Day Old Chick )

DOC(day old chick), anak yam umur 1 hari sangat menentukan keberhasilan usaha ternak ayam. Kondisi DOC yang baik merupakan modal awal yang sangat penting.

Broiler

Campuran dari beberapa bahan baku pakan, baik yang sudah lengkap maupun yang masih akan dilengkapi, yang disusun secara khusus dan mengandung zat gizi yang mencukupi kebutuhan ternak untuk dapat dipergunakan sesuai dengan jenis ternaknya.

Pakan Ayam Broiler

Campuran dari beberapa bahan baku pakan, baik yang sudah lengkap maupun yang masih akan dilengkapi, yang disusun secara khusus dan mengandung zat gizi yang mencukupi kebutuhan ternak untuk dapat dipergunakan sesuai dengan jenis ternaknya.

Kemitraan Ayam Broiler

Kerjasama pemeliharaan ayam broiler dengan pola kerjasama inti dan plasma. Kerjasama dilaksanakan atas dasar saling percaya dan saling menguntungkan antara inti dan plasma.

Kamis, 01 Januari 2009

Tinjauan Produksi Broiler dengan Persentase Pemberian Ransum yang Berbeda Antara Siang dan Malam Hari

Khaira Nova1), Tintin Kurtini1), dan Nining Purwaningsih1)
1) Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung
Jln. Soemantri Brojonegoro no 1, Bandar Lampung 35145

Abstract

The present experiment was conducted to investigate (1) the effects of different percentage of ration between day and night toward broiler production and (2) the best level of percentage of ration given during the day and night toward broiler production. This research was arranged with 5 treatments and 4 replications, in which each experimental unit consisted of 5 broilers. The data were analyzed by using Analysis of Variance in 5% significant degree. The result of this research showed that the different percentage of ration during the day and night affected (P< 0,05) body weight gain and water consumption, but did not significantly affect feeding consumption and feeding convertion. These results suggested that the ration which was given 30% during the day and 70% at night is the best treatment in influencing body weight gain.

Key Words: Broiler Production, Percentage of Ration, Day and Night

Dokumen lengkap
http://docs.google.com/Doc?id=df73gpx9_0czb942j8

Biosekuriti dan Sanitasi Kunci Pengendalian Penyakit Gumboro


Penyakit IBD (Infectious Bursal Disease) atau yang biasa dikenal dengan gumboro pada unggas, ternyata tidak hanya dapat diselesaikan dengan pemberian vaksin Gumboro. Para ahli sepakat, pengendalian kasus gumboro, kuncinya ada di biosekuriti dan sanitasi lingkungan

Berdasarkan penelitian para tenaga ahli di lapangan Kasus Gumboro bersifat musiman, artinya pada musim tertentu akan mewabah apabila di wilayah atau kandang tersebut penerapan standar pemeliharaannya rendah. Pengendalian kasus gumboro yang paling kritis sejatinya ada di manajemen kandang, utamanya biosekuriti. Pada kandang dengan biosekuriti ketat, bisa dipastikan kasus gumboro bisa jauh ditekan. Meski vaksinasi yang tepat, tetapi pelaksanaan biosekuriti atau sanitasi lingkungan kandang yang rendah akan menjadi pemicu. Manajemen sanitasi tetap menjadi syarat mutlak dalam kesehatan kandang yang merupakan kunci pengendalian penyakit

Gumboro. Salah satu contoh adalah sinar matahari yang banyak, itu menjadi nilai plus yang bisa digunakan sebagai sarana pengendalian berbagai penyakit. Virus IBD tergolong dalam virus yang tidak beramplop (tidak berselubung). Dan sebagaimana karakter virus tak beramplop biasanya tidak mudah dimatikan. Diperlukan desinfektan tertentu untuk dapat menghancurkan virus. Tips yang dapat digunakan untuk disinfeksi kandang ayam yang pernah tercemar virus gumboro.

Disarankan penggunaan formalin 10 % (1 bagian formalin 38 % dicampur ke dalam 9 bagian air) atau dengan 0,25% larutan soda api (2,5 gram soda api kedalam 1 liter air). Larutan disiramkan pada permukaan tanah yang baru, artinya tanah kandang apabila belum disemen. Kemudian sekitar 2 - 3 m tanah seputar/keliling kandang harus di-scrap (dikikis) sedalam 3 - 5 cm, karena tanah tersebut sudah tercemar virus gumboro. Setelah di-scrap, disiram dengan larutan formalin 10% dan/atau larutan soda api 2,5% baru ditaburkan kapur gamping di seluruh permukaannya. Selain itu alas kaki harus dilepas dantidak boleh dibawa masuk ke dalam kandang, tanah hasil scrapping dibuang jauh dari kandang, ranting, sampah dan daun dibakar. Kesemuanya, dinilai cukup tuntas untuk kontrol virus gumboro pada kandang yang pernah terkena wabah gumboro. Virus gumboro banyak ditularkan ke anak ayam terutama melalui alas kaki (litter).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan virus gumboro bisa bertahan hidup di lingkungan tanah yang lembab lebih dari 3 tahun. Maka, situasi tanah di sekitar kandang broiler/layer berkorelasi positif pada tingkat kejadian gumboro. Litter yang lembab dan tercemar yang bercampur feces sangat mudah terkontaminasi virus. Pemberian vaksinasi semata tanpa dibarengi perbaikan biosekuriti dan sanitasi, tidak akan pernah mampu menekan kejadian dan keparahan IBD. Sehingga pemberian vaksin pada anak ayam harus juga diimbangi dengan pengelolaan biosekuriti dan sanitasi baik dan benar.

Sumber : Majalah Trobos
Editor : Anik Lastiati, Drh.
Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur - Situs Resmi
http://www.disnak-jatim.go.id/web

SYNDROMA AYAM KERDIL


SINDROMA KERDIL KADANG MASIH USIL Masih kerap terdengar bila kita melakukan kunjungan lapangan ke peternak ayam pedaging (broiler), adanya keluhan mengenai ketidak seragaman ayam yang dipeliharanya. Menurut penuturan mereka, pada saat doc tiba kondisinya terlihat seragam, tetapi setelah ayam mulai menginjak usia di atas 14 hari, baru terlihat adanya ayam yang terlambat pertumbuhannya.Pertumbuhan yang tidak seragam pada ayam broiler memang banyak penyebabnya seperti :
- Doc berasal dari Bibit Muda atau Bibit Tua Sekali
- Multi strain dalam satu flock / kandang
- Kurang tempat pakan dan tempat minum
- Kepadatan ayam di kandang yang terlalu tinggi
- Penyakit infectious seperti Coccidiosis Sindroma Kekerdilan pada Broiler ( Runting and Stunting Syndrome )
Pada umumnya para peternak berpendapat bahwa beberapa penyebab yang menyebabkan ayamnya tidak seragam seperti karena doc, multistrain dalam satu kandang, kurang peralatan makan dan minum, kepadatan ayam dalam kandang dan penyakit coccidiosis, mereka sudah dapat mengatasinya di lapangan. Tetapi untuk sindroma kekerdilan atau runting and stunting syndrome, para peternak masih meraba-raba penyebabnya, karena kejadian di lapangan kadang ada dan kadang tidak ada / hilang dengan sendirinya. Sindroma Kekerdilan pada Broiler mempunyai berbagai ragam nama lain seperti : Malabsorption Syndrome, Runting Stunting Syndrome, Reovirus
Malabsorption, Pale Bird Syndrome, Helicopter Disease, Brittle, bone Disease Apa itu sindroma kekerdilan pada broiler ? dan apa saja penyebabnya? Sindroma kekerdilan didefinisikan sebagai : Sekelompok ayam (umumnya terjadi 5-40% populasi ) yang mengalami laju pertumbuhan yang kurang pada kisaran usia 4-14 hari.
Dimana setelah pada awalnya pertumbuhan tertekan, kemudian kembali normal, tetapi tetap lebih kecil dari yang normal. (Nick Dorko, 1997). Bila kondisi di atas dialami peternak broiler maka beberapa kerugian sudah nampak di depan mata seperti : tingginya ayam culling; tingginya fcr; rataan berat badan di bawah standar; berat badan yang sangat bervariasi, hal mana akan menjadi masalah bila ada kontrak dengan slaughter house/ rumah potong ayam, masalah dengan penjualan karena banyaknya ayam yang kecil. Pertanyaannya adalah apakah kejadian kekerdilan pada broiler ini hanya merupakan sindroma saja ataukah merupakan penyakit yang sangat banyak penyebabnya ? Multifactorial Causative Disease ?Beberapa ahli penyakit ayam menyatakan bahwa runting and stunting syndrome terdiri atas tiga bentuk yaitu Enteritic; Pancreatic dan Proventricular (yang mana hal tersebut lebih didasarkan kepada organ yang diserangnya), yang paling penting sindroma kekerdilan ini merupakan sindroma penyakit yang disebabkan oleh banyak faktor. PENYEBAB SINDROMA KEKERDILAN Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya yaitu : Penyebab berasal dari Pembibitan Penyebab berasal dari Penetasan / Hatchery Penyebab berasal dari Manajemen Produksi Penyebab berasal dari Pakan / Nutrisi Penyebab berasal dari Lingkungan Penyebab berasal Penyakit
1. Penyebab berasal dari Pembibitan.
Beberapa hal yang berasal dari Pembibitan yang dapat menyebabkan doc yang dihasilkan mengalami sindroma kekerdilan antara lain :
- Telur tetas kecil (telur tetas yang berasal dari usia induk < 35 minggu dan atau biasanya pada saat puncak produksi)
- Maternal antibodi Reo-virus yang diturunkan rendah, padahal DOC perlu Maternal Antibodi yang tinggi
- Akan lebih parah apabila induknya positif Salmonella enteritidis
- Walaupun demikian kekerdilan bukan merupakan penyakit yang diturunkan
2. Penyebab berasal dari Penetasan / Hatchery.
Beberapa hal yang berasal dari Penetasan / Hatchery yang dapat menyebabkan doc yang dihasilkan mengalami sindroma kekerdilan antara lain :
Ø Waktu koleksi telur tetas yang terlalu lama
Ø Tidak dilakukannya grading telur tetas yang akan dimasukkan ke mesin tetas
Ø Bercampurnya telur tetas yang berasal dari usia induk yang sangat jauh berbeda
Ø Terlalu lama proses penanganan di ruang seleksi sehingga doc mengalami stress
Ø Kurang representatifnya alat angkut doc (chick van) dari Hatchery ke Peternak / kandang pemeliharaan.
3.Penyebab berasal dari Manajemen Produksi
Manajemen Produksi juga dapat menjadi penyebab terjadinya sindroma kekerdilan seperti : Biosecurity yang buruk Farm terdiri dari beberapa usia (multi ages) Kurang baiknya kualitas doc yang dipelihara Penanganan doc yang kurang baik terutama waktu periode brooding Cara pemberian, kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan tidak benar

4.Penyebab berasal dari Pakan / Nutrisi Kandungan yang terdapat pada pakan jika kurang atau berlebihan kadangmenimbulkan pertumbuhan yang kurang baik bagi ayam yang dipelihara misalnya :
Ø Gejala sering seperti ayam yang terserang mycotoxicosis, khususnya AflatoxicosisØ Penggunaan Bungkil Kacang Kedelai yang berkualitas rendah
Ø Penggunaan Canola Meal dan Protein Hewani lebih daripada 8%
Ø Tidak ada atau rendah kandungan Natrium (khusus di Asia)
Ø Penggunaan vitamin yang kurang, khususnya pada pakan Breeder.

5. Penyebab berasal dari
Lingkungan. Menempatkan ayam pada kondisi lingkungan yang kurang kondusif akan juga mengakibatkan ayam terkena
sindroma kekerdilan, seperti :
Ø Lingkungan kandang yang bersuhu dan kelembaban terlalu tinggi
Ø Liingkungan kandang yang terlalu padat populasi ayamnya dan terdiri dari berbagai usia
Ø Lingkungan kandang merupakan daerah endemic penyakit yang bersifat imunosupresif.

6. Penyebab berasal dari Penyakit.Ada beberapa penyakit yang dapat memicu
timbulnya sindroma kekerdilan, dimana penyakit tersebut umumnya menimbulkan stress dan khususnya bersifat immunosupresif, seperti :
• Infeksi Reo virus
• Infeksi Mareks Disease, hal ini dapat terjadi terutama di Asia karena Broiler di Asia tidak divaksinasi
• Chicken Anemia Virus, vaksinasi tidak dilakukan di beberapa negara• ALV – J, diduga ada korelasi positif dengan sindroma kekerdilan
• Infectious Bursal Disease / Gumboro, beberapa negara hanya memakai strain klasik untuk vaksinasinya• Avian Nephritis Virus
• Reaksi yang berlebihan dari vaksinasi ND dan IB Penyebab utama yang paling berperanan adalah Reo virus dengan spesifikasi sebagai berikut : √ Virus tidak berselubung / amplop,
tahan panas dan dapat hidup :
Ø pada 600 C selama 8-10 jam
Ø pada 560 C selama 22-24 jam
Ø pada 370 C selama 15-16 minggu
Ø pada 220 C selama 48-51 minggu
Ø pada 40 C selama lebih dari 3 tahun
Ø pada - 630 C selama lebih dari 10 tahun

PENULARAN PENYAKIT Penularan dapat terjadi secara horizontal (Robertson & Wilcox, 1984 dan Van Der Heide, 1977) Melalui jalur respirasi (Roessler, 1986) Penularan secara vertikal dengan suatu percobaan dengan cara inokulasi induk usia 15 bulan, ternyata pada doc hasil tetasannya (17 – 19 hari post inokulasi) mengandung virus reo (Menendez, Van Der Heide dan Kalbac, 1975)GEJALA KLINIS Biasanya mulai terlihat pada usia 4-8 hari dengan ciri-ciri : Malas bergerak Bulu kusam Coprophagia (faeces / litter eating) Bila di uji gula darahnya Hypoglycaemic Hanya sebagian populasi yang terkena dengan kategori :
Ø 5 - 10 % populasi dengan kategori RINGAN
Ø 10 - 30 % populasi dengan kategori BURUK
Ø 30 % populasi dengan kategori

BENCANA / MALAPETAKA Biasanya terlihat pada usia 2 minggu :
Ø Bulu sekitar kepala dan leher tetap “ Yellow Heads
Ø Bulu primer sayap patah / dislokasi “ Helicopter Birds Stress Banding
Ø Tulang kering / betis berwarna pucat
Ø Jika diperiksa kotorannya masih utuh / makanan hanya lewat saja " Helicopter Bird"

"Tulang Kering Pucat " Bulu sekitar leher dan kepala masih kuning “ YELLOW usia ayam di bawah ini adalah sama ) PATOLOGI ANATOMI
Ø Perubahan terutama terjadi pada usus seperti : pucat, tipis, berisi material cair sampai berlendir
Ø Kadang ada radang proventriculus
Ø Ada degenerasi pada pancreas
Ø Makanan pada usus bagian belakang masih utuh "Perubahan pada Pancreas" "Usus Tipis dan Pucat" Usus Belakang" "Pembesaran Proventriculus " "Dinding Proventriculus Tebal "

PENGENDALIAN PENYAKIT
1.Pembibitan
Ø Induk harus dapat memberikan bekal maternal antibodi yang tinggi
Ø Hindari terinfeksi dengan Salmonella enteriditis
Ø Perbesar telur tetas dengan cara tunda awal produksi dini (pengaturan lighting), berat badan betina harus masuk berat standar, kebutuhan Kcal / protein / ayam terpenuhi. Tambahkan protein / asam amino pada pakan periode petelur dengan Methionine / Cysteine

2. Hatchery.
Ø Hindari menetaskan telur tetas yang kecil
Ø Perpendek waktu koleksi telur tetas
Ø Jangan menetaskan telur tetas yang berbeda usia / ukuran dalam satu mesin
Ø Percepat proses seleksi doc dan secepatnya didistribusikan
Ø Pergunakan alat pengangkut doc dari hatchery sampai peternak dengan alat angkut yang representatif, terutama lengkapi dengan Ventilator

3. Farm Broiler.
Ø Laksanakan proses biosecurity dengan baik dan benar, agar farm dapat seoptimal mungkin terbebas dari serangan infeksi penyakit pemicu terjadinya kekerdilan
Ø Penggunaan desinfektan yang mengandung antiviral seperti GLUTAMAS dan SEPTOCID sangat dianjurkan
Ø Usahakan satu unit farm diisi oleh ayam yang satu usia, karena jika ada serangan kekerdilan ayam yang ber-usia paling muda yang paling parah terkena infeksi
Ø Jika mendapat doc kecil / bibit muda / doc berasal dari telur tetas kecil, maka tatalaksana brooding harus sempurna; berikan pada minumnya multivitamin yang mengandung vitamin A, D dan E seperti VITAMAS; perhatian difokuskan kepada suhu sekitar brooding; pemberian pakan yang intensif dan mudah dijangkau ayam, demikian juga dengan air minum harus selalu tersedia dalam keadaan segar
Ø Bila kekerdilan sudah menyerang ayam di kandang, maka lakukan langkah :
1. Ayam yang hanya mencapai 40% dari berat badan standar dipisahkan / diculling
2. Lakukan desinfeksi area kandang secara rutin dengan GLUTAMAS atau SEPTOCID, dosis berikan sesuai petunjuk pembuatnya
3. Ayam yang ber-berat badan > 40% dari berat badan standar dan Normal berikan minum yang mengandung
MASABRO atau HYPRAMIN – B, sesuai petunjuk pembuatnya
4. Pakan sebaiknya tetap menggunakan pakan starter sampai panen
5. Sebaiknya ayam di panen pada berat 1.0-1.2 kg saja
Ø Periksakan pakan secara periodik untuk kontrol kandungan mycotoxin
Ø Pastikan pakan kandungan bahan bakunya seimbang dan sesuai dengan peruntukan usia ayam

Sumber :

Kontribusi Dari Drh Arief Hidayat

Welcome to Mensana Aneka Satwa,Produsen Obat Hewan,Vaksin,Antibiotik,Vitamin
http://www.mensana-id.com

Jumat, 19 Desember 2008

Semawar Bahan Bakar GAS





Penggunaan semawar untuk brooder sudah umum digunakan oleh banyak peternak. Semawar tersebut berbahan baker minyak tanah, namun seiring dengan adanya program pemerintah tentang penggantian minyak tanah oleh kayu bakar, peternak pun semakain sulit untuk mendapatkan minyak tanah, dan kalaupun ada harganya mahal. Keadaan ini merangsang peternak untuk memodifikasi semawar yang berbahan bakar minyak tanah diganti dengan bahan bakar gas.
Secara teknis operasional, hamper tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok, rangkaian pun sama dengan yang berbahan bakar minyak tanah. Yang membedakannya hanya terdapat alat tambahan berupa regulator untuk mengatur keluarnya gas dari tabungdan sebuah pipa untuk menyalurkan gas dari tabung ke semawar.
Bahan:
- semawar (ukuran 202, 203, tergantung pilihan peternak)
- regulator untuk mengatur keluarnya gas dari tabung ke semawar
- selang gas
- pipa gas
- tutup seng (bisa menggunakan seng yang biasa dipergunakan untuk semawar yang menggunakan minyak tanah)
- harga 1 set semawar + Rp 260.000
bila dilihat dari efisiensi biaya, menggunakan gas relative lebih murah. Sebagai contoh selama 24 jam dengan menggunakan minyak tanah bisa menghabiskan sebanyak 5 liter, bila harga per liter minyak tanah rp 4.000 berarti per hari (24jam) biaya yang diperlukan Rp 20.000. bila menggunakan gas, 1 tabung gas kecil (3 kg) bisa cukup untuk 1 hari (24jam), harga gas 3kg Rp 15.000. dari contoh itu sudah terlihat perbedaan sebesar Rp 5.000/semawar/hari.

Jumat, 12 Desember 2008

Ventilasi




Pergerakan udara dapat meningkatkan pengeluaran panas dalam kandang dengan cara konduksi dan evaporasi. Efektivitas pergerakan udara dalam kandang tergantung pada umur ayam dan bulu yang menutupi tubuhnya. Pergerakan udara dapat dubuat dengan menggunakan kipas sirkulasi yang ditermpatkan untuk meningkatkan kecepetan angin sesuai dengan level yang dibutuhkan oleh ayam
Cara menciptakan pergerakan udara dalam kandang dapat dibagi menjadi dua tipe yakni:
1. kipas sirkulasi untuk kandang tipe terbuka
2. ventilasi sistem tunnel untuk kandang tertutup

Kipas dengan ukuran 36” dan berkapasitas 10.000 cfm dapat menimbulkan pergerakan udara dalam area seluas 5x15m. Ventilasi tunnel merupakan metode terbaik untuk menjaga agar ayam tetap dingin di musim panas, tetapi hal ini hanya efektif jika desain dan diatur secara benar. Ventilasi tunnel berujuan agar panas di dalam kandang dapat keluar dari kandang dengan menggunakan kecepatan angin dalam kandang sebesar 4—500 ft/menit. Pergantian udara terjadi satu kali tiap satu menit atau kurang

Efek wind-chill yang disebabkan oleh udaha berkecepatan tinggi dapat menurunkan temperatur efektif sebesar 10 – 23 oF.

System pemberian pakan





1. tempat pakan (feeder space) untuk anak ayam
0 – 2 hari 1 feeder tray diameter 35cm per 50 ekor ayam
3 – 5 hari tambah feeder tray dan pan feeder
6 – 14 hari tambah 1 pan feeder setiap 50 ekor anak ayam
• tempat pakan mulai umur 3 hari sudah ditambah dengan pan feeder dan setiap pelebaran ditambah (disesuaikan dengan kondisi ayam)
• feeder tray pada umur 6 hari mulai dikeluarkan, pada umur 9 hari semua sudah menggunakan feeder tube
• umur 12 hari feeder tube sudah mulai digantung, pada 14 hari feeder tube sudah digantung semua (disesuaikan dengan kondisi ayam)

jumlah kebutuhan tempat pakan untuk 500 ekor

umur kepadatan (ekor/m2) chicken feeder tray (CFT) Tube 10kg
1 60 10 -
3 40 10 10
6 30 6 12
9 20 4 16
12 15 - 24
14<< 10 - 24

• pemberian pakan, pola pemberian pakan yang baik akan membantu mengingkatkan konsumsi pakan minggu pertama. Pemberian pakan sedikit demi sedikit tetapi sesering mungkin sangat dianjurkan

frekuensi pemberian pakan
umur (hari) frekuensi pemberian pakan
1 – 2 8
3 – 4 7
5 – 6 6
7 – 8 6
9 – 10 6
11 – 12 5
13 – 14 5
15 – 20 4
>20 2


2. ketinggian feeder untuk broiler
bibir feeder pan (feeder tube) harus sedikit demi sedikit lebih rendah daripada tembolok ayam jika ayam berdiri tegak

Stress panas

Stress akibat panas dapat menurunkan performa ayam. Kisaran temperatur netral untuk ayam menurun dari >30oC (86oF) pada waktu menetas sampai sekitar 24oC (75oF) pada umur 4 minggu. Respon alam ayam dalam menghadapi stres panas adalah mengurangi konsumsi pakan sebagai upaya untuk menurunkan produksi panas tubuhnya.
Peningkatan konsumsi pakan selama stres panas yang akut adat meningkatkan kematian, sehingga untuk mencegah hal tersebut dapat dilakukan dengan cara:
- ayam dipuasakan
interval puasa lebih dari 6-8 jam sebelum terjadinya awal stres panas, kemudian terjadi lagi stres panas selama 6 jam sehingga puasanya menjadi 12 jam masih dapat ditolerir
- pemberian vitamin dan elektrolit sangat dianjurkan. Vitamin C diberikan 6 jam sebelum stres panas terjadi

Sistem pemberian Air minum



Sangatlah penting bahwa air minum tersedia setiap saat untuk broiler. Kekurangan pasokan air minum, baik dalam jumlah, penyebaran serta tempat minum dan konsumsinya dapar mengurangi laju pertumbuhan
Pada saat ayam datang, berikan larutan gula 2% paling lama 2-3 jam pertama serta berikan antibiotic pada hari 1 hingga hari ke 3 disaat pagi hari (paling lama 5 – 6 jam) dan berikan vitamin pada saat sore hari
Air harus selalu bersih dan segar dan dilakukan test secara teratur terhadap kandungan zat kimia dan komposisi bakteriologis (6 bulan sekali). Untuk menjaga air dalam kondisi normal, gunakan 3 – 5 ppm chlorine untuk mengurangi masalah e.coli

1. ketinggian tempat air minum untuk broiler
tempat air minum harus selalu dicek ketinggiannya setiap hari dan disesuaikan agar tepi tempat minum sejajar dengan punggung ayam sejak hari ke 18 dan seterusnya. Ketinggian nipple disesuaikan secara sentral menggunakan kerekan sehingga ayam dapat minum dengan mendongakan kepalanya 45 derajat terhadap nip[ple

2. level air minum
ketinggian air minum sebaiknya 0.6 cm di bawah tutup tempat minum samp[ai dengan 7 – 10 hari dan harus ada air di dasar tempat minum dengan ketinggian 0.6 cm sejak hari ke 10 dan selanjutnya. Pengeluaran air dari nipple minimal 80 ml per menit dengan tekanan 30 40 cm water column

3. kualitas air minum
kualitas air sangat penting karena ayam minum 1,6 – 2 kali dari jumlah pakan yang dikonsumsinya. Lakukan analisa terhadap air minum dua kali setahun untuk memastikan bahwa air minum tersebut mengandung mineral atau bahan organic dalam jumlah yang dapat diterima

kebutuhan tempat minum untuk 500 ekor

umur (hari) tempat minum otomatis tempat minum 1 galon
1 6 10
3 6 10
6 8 12
9 10 16
12 10 16
>14 10 16

Seleksi ayam

Pelaksanaan seleksi ayam sebaiknya dilakukan semenjak penerimaan DOC dan dapat dilakukan saat vaksinasi. Ayam yang diseleksi meliputi:
- ayam yang dehidrasi
- pantat atau pusarnya yang basah
- ayam yang kedil, lemah, atau cacat
ayam hasil seleksi ini ditempatkan di dalam brooder tertentu. Berikan pemanas, vitamin, akan dan mium yang cukup

Program pencahayaan

Pencahayaan berfungsi untuk memaksimalkan berat badan harian. Pencahayaan dalam kandang harus merata ke seluruh bagian kandang. Secara umum broiler tumbuh pada 23 jam penyinaran per hari. Penelitian telah membutktikan bahwa penyinaran kurang dari 23 jam dapat memberikan beberapa keuntungan. Untuk anak ayam, berikan cahaya terang sebesar 20 lux. Setelah satu minggu intensitas cahaya dikurangi secara bertahap menjadi 5 – 10 lux

Program pencahayaan untuk broiler yang telah dimodifikasi terdiri dari 3 tipe, yaitu:
1. Program penambahan lama penyinaran (photoperiod) sesuai untuk flok yang dipelihara sampai bobot badan di atas 2 kg (panen diatas 2kg)

Umur (hari) Terang gelap
0 – 3 23 1
4 – 7 18 6
8 – 14 14 10
15 – 21 16 8
22 – 28 18 6
29 – panen 23 1

2. program pengurangan lama (phoyoperiod) sesuai untuk flok yang dipelihara hingga 2 kg 9panen antara 1 kg sampai 2 kg)

umur (hari) terang gelap
0 – 7 23 1
8 – 21 16 8
22 – panen 23 1

3. program pencahayaan intermitten (terang-gelap) pada kandang tertutup sesuai untuk flok yang dipelihara sampa dengan umur 42 hari

program ini dipergunakan bila terdapat masalah pertumbuhan kaki yang abnormal. Program pencahayaan ini dapat bermanfaat dalam mengurangi efek stress panas pada performa broiler

a umur (hari) terang gelap
0 - 3 23 1
4 – 35 5 1 (terang/gelap secara bergantian)
36 – 42 23 1

b umur (hari) terang gelap
0 – 7 24 0
8 – 21 23 1
21 – panen 2(1) 2 (3) (terang/gelap bergantian)
Program pencahayaan “lampu pijar 5 watt/m2, lampu neon 1 watt/m2

Kepadatan ayam

Jumlah ayam per m dapat bervariasi tergantung dari umur panen, tipe kandang dan iklim yang terjadi pada saat itu

Pada kandang terbuka dengan ventilasi alami kepadatannya 15kg/m2. pada kandang dengan aliran udaha yang bisa diatur (kandang tertutup), kepadatan dapat mencapai 25-30kg/m2 berat hidup. Direkomendasikan juga untuk menurunkan kepadatan kandang saat temperature tinggi.

Kepadatan ayam berdasarkan berat panen
Berat kepadatan (ekor/m2)
0.80 – 0.99 11.00 – 11.1
1.00 – 1.19 10.0 – 10.5
1.20 – 1.39 9.0 – 9.5
1.40 – 1.59 8.0 – 8.5
1.60 – 1.89 7.5 – 8.0
>1.90 7.0 – 7.5

Selasa, 09 Desember 2008

Konsumsi air minum

Pada temperature normal, konsumsi air minum ayam adalah 1,6 – 2,0 kali dari konsumsi pakan. Faktor ini sebaiknya digunakan sebagai pedoman sehingga penyimpangan konsumsi air yang berkaitan dengan kualitas pakan, temperature atau kesehatan ayam dapat segera diketahui dan diperbaiki.

Konsumsi air/100 ekor/hari
(pada suhu 21o C)

Umur (minggu) liter
1 58 – 65
2 102 – 115
3 149 – 167
4 192 – 216
5 232 – 261
6 274 – 308
7 309 – 347
8 342 – 385

Diatas suhu 21o C, kebutuhan air minum meningkat rata-rata 6.5% setiap kenaikan suhu 1 derajat celcius

Kualitas air minum
Level maksimal mineral dan bakteri pada air mium yang dapat ditolerir

Total bahan padat terlarut 300 – 500 ppm
Khlorida 200 mg/l
pH 6 – 8
Nitrat 45 ppm
Sulfat 200 pp
Besi 1 mg/l
Kalsium 75 mg/l
Magnesium 30 mg/l
Mangaan 0.05 mg/l
Seng 0.06 mg/l
Fluoride 0.002 mg/l
Merkuri 0.05 mg/l
Timah 0.05 mg/l
Faecal coliform 0

Intentsitas cahaya

Pencahayaan secara tradisional hanya ada satu system, yaitu pencahayaan secara terus menerus, yang telah diterapkan oleh para peternak broiler. Hal ini dilakukan untuk memaksimalkan pertambahan berat badan harian. Periode gelap yang singkat digunakan agar ayam menjadi terbiasa dengan kegelapan kandang padaa saat listrik pada. Intensitas cahaya sebaiknya diturunkan secara bertahap sejak hari ke 7 dari 20 lux menjadi 10 lux. Oleh karena itu intensitas cahaya harus merata ke seluruh bagian kandang

Bola lampu (watt) tungsten (lumen) flouresen (lumen)
20 170 830
25 230 1000
40 430 2600
80 730
100 1600

Formula ini digunakan untuk kentinggian bola lampu 2 meter diatas ayam. Perhitungan sederhana adalah 1 watt/1.33 meter setara dengan 10 lux

Intensitas cahaya 2 x B x lumen
W x L x H^2

Keterangan:
B = jumlah bola lampu (pijar/neon)
W = lebar kandang
L = panjang kandang
H = tinggi kandang