Pages

Kamis, 29 Januari 2009

TANAMAN OBAT MENINGKATKAN EFISIENSI PAKAN DAN KESEHATAN TERNAK UNGGAS

DESMAYATI ZAINUDDIN
Balai Penelitian Ternak
Jl. Veteran – III PO Box 221, Bogor 16002

ABSTRAK

Ramuan tanaman obat pada umumnya dikonsumsi oleh manusia untuk tujuan menjaga kesehatan atau
sebagai pengobatan beberapa penyakit tertentu. Sejak krisis moneter yang terjadi di Indonesia sampai saat ini
harga obat-obatan buatan pabrik (impor) sangat mahal, sehingga tidak terjangkau oleh para petani ternak,
khususnya peternak dalam skala menengah ke bawah. Oleh karena itu peternak berupaya mencari alternatif
lain dengan memanfaatkan beberapa tanaman obat sebagai obat tradisional yang disebut jamu hewan yang
dapat diberikan dalam bentuk larutan melalui air minum dan atau dalam bentuk simplisia (tepung) yang
dicampur kedalam ransum sebagai “feed additive” maupun “feed supplement”. Tujuan makalah ini untuk
mensosialisasikan dan menginformasikan manfaat dan khasiat dari tanaman obat sebagai jamu dan atau “feed
additive” untuk ternak. Jamu hewan atau ramuan beberapa tanaman obat tersebut dapat dibuat sendiri oleh
petani ternak dan harganya lebih murah dibandingkan obat pabrik, tetapi khasiatnya cukup baik untuk
pencegahan maupun pengobatan pada ternak unggas, antara lain penyakit gangguan pernafasan (Snot dan
CRD), koksidiosis, kurang nafsu makan, diare, feses hijau. Pemberian jamu hewan maupun tanaman obat
obat sebagai “feed additive” sudah banyak dilakukan oleh peternak unggas (ayam lokal, ayam ras broiler,
layer, puyuh, itik serta unggas kesayangan) di wilayah DKI, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan,
Kalimantan Timur, Riau). Ternak ayam lokal (kampung) pedaging maupun petelur yang dipelihara pada
kelompok ternak di Jakarta Selatan, setiap hari diberi larutan jamu hewan melalui air minum ternyata
memberi respon positif terhadap pertumbuhan dan stamina ayam menjadi lebih baik (jarang sakit dan
mortalitas rendah), lemak karkas sangat rendah, aroma daging dan telur tidak amis, warna kuning telur lebih
oranye/skor diatas 7, serta bau kotoran ayam (ammonia) di sekitar kandang berkurang. Ternak ayam ras
broiler, petelur maupun unggas lokal (ayam dan itik) yang diberi ramuan tanaman obat sebagai “feed
additive” menunjukkan peningkatan terhadap efisiensi pakan dan kesehatan ternak

Kata kunci: Tanaman obat, jamu hewan, feed additive, kesehatan unggas

Tulisan Lengkap klik disini

PENGGUNAAN RAMUAN HERBAL SEBAGAI FEED ADDITIVE UNTUK MENINGKATKAN PERFORMANS BROILER

LAILY AGUSTINA
Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin
Kampus Tamalanrea Km 10 Makassar

ABSTRAK

Penelitin ramuan herbal pada broiler untuk mengetahui efek penggunaannya sebagai feed additive
terhadap performans dan menguji kemampuan daya hambat antibakteri yang dikandung dalam ramuan herbal
tersebut. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap 3 (tiga) dosis ramuan herbal P0 (0 ml per liter air
minum); P1 (2.5 ml per liter air minum) dan P2 (5 ml per liter air minum) dengan 5 (lima) ulangan dan setiap
unit perlakuan terdiri dari 5 (lima) ekor DOC. yang dipelihara sampai umur 35 hari. Parameter performans
yang diukur meliputi: konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, konversi pakan, rasio efisiensi protein,
persentase karkas dan persentase lemak abdominal. Disamping itu dilakukan uji daya hambat antibakteri
terhadap 3 (tiga) jenis bakteri yaitu Staphylococus aureus, Escherichia coli dan Pseudomonas aeruginosa
serta analisis kolesterol yang terkandung dalam darah ayam. Berdasarkan hasil dan pembahasan, disimpulkan
bahwa ramuan herbal mengandung antibakteri, mampu menurunkan kadar kolesterol darah dan bobot badan
tertinggi diperoleh pada pemberian 2.5 ml ramuan herbal per liter air minum.
Kata kunci: Ramuan herbal, Additive, performans broiler
tulisan lengkap klik disini

Kamis, 15 Januari 2009

Yolk Sac Infection, Omphallitis



Introduction
A condition seen worldwide in chickens, turkeys and ducks due to bacterial infection of the navel and yolk sac of newly hatched chicks as a result of contamination before healing of the navel. Disease occurs after an incubation period of 1-3 days. Various bacteria may be involved, especially E .coli, Staphylococci, Proteus, Pseudomonas. Morbidity is 1-10% and mortality is high in affected chicks. It is seen where there is poor breeder farm nest hygiene, use of floor eggs, inadequate hatchery hygiene or poor incubation conditions, for example poor hygiene of hatching eggs, 'bangers', and poor hygiene of setters, hatchers or chick boxes. Inadequate incubation conditions resulting in excessive water retention and slowly-healing navels and 'tags' of yolk at the navel on hatching also contribute to the problem.
Signs
• Dejection.
• Closed eyes.
• Loss of appetite.
• Diarrhoea.
• Vent pasting.
• Swollen abdomen.
Post-mortem lesions
• Enlarged yolk sac with congestion.
• Abnormal yolk sac contents (colour, consistency) that vary according to the bacteria involved.
Diagnosis
A presumptive diagnosis is based on the age and typical lesions. Confirmation is by isolation and identification of the bacteria involved in the internal lesions. Differentiate from incubation problems resulting in weak chicks.
Treatment
Antibiotics in accordance with sensitivity may be beneficial in the acute stages, however the prognosis for chicks showing obvious signs is poor; most will die before 7 days of age.
Prevention
Prevention is based on a good programme of hygiene and sanitation from the nest through to the chick box (e.g. clean nests, frequent collection, sanitation of eggs, exclusion of severely soiled eggs, separate incubation of floor eggs etc. There should be routine sanitation monitoring of the hatchery. Multivitamins in the first few days may generally boost ability to fight off mild infections.

www.thepoultrysite.com

Mycoplasma gallisepticum infection, M.g., Chronic Respiratory Disease - Chickens

Introduction
Infection with Mycoplasma gallisepticum is associated with slow onset, chronic respiratory disease in chickens, turkeys, game birds, pigeons and other wild birds. Ducks and geese can become infected when held with infected chickens. In turkeys it is most associated with severe sinusitis (see separate description in the turkey section). The condition occurs worldwide, though in some countries this infection is now rare in commercial poultry. In others it is actually increasing because of more birds in extensive production systems that expose them more to wild birds.

In adult birds, though infection rates are high, morbidity may be minimal and mortality varies.

The route of infection is via the conjunctiva or upper respiratory tract with an incubation period of 6-10 days. Transmission may be transovarian, or by direct contact with birds, exudates, aerosols, airborne dust and feathers, and to a lesser extent fomites. Spread is slow between houses and pens suggesting that aerosols are not normally a major route of transmission. Fomites appear to a significant factor in transmission between farms. Recovered birds remain infected for life; subsequent stress may cause recurrence of disease.

The infectious agent survives for only a matter of days outwith birds although prolonged survival has been reported in egg yolk and allantoic fluid, and in lyophilised material. Survival seems to be improved on hair and feathers. Intercurrent infection with respiratory viruses (IB, ND, ART), virulent E. coli, Pasteurella spp. Haemophilus, and inadequate environmental conditions are predisposing factors for clinical disease.
Signs
• Coughing.
• Nasal and ocular discharge.
• Poor productivity.
• Slow growth.
• Leg problems.
• Stunting.
• Inappetance.
• Reduced hatchability and chick viability.
• Occasional encephalopathy and abnormal feathers.
Post-mortem lesions
• Airsacculitis.
• Pericarditis.
• Perihepatitis (especially with secondary E. coli infection).
• Catarrhal inflammation of nasal passages, sinuses, trachea and bronchi.
• Occasionally arthritis, tenosynovitis and salpingitis in chickens.
Diagnosis
Lesions, serology, isolation and identification of organism, demonstration of specific DNA (commercial PCR kit available). Culture requires inoculation in mycoplasma-free embryos or, more commonly in Mycoplasma Broth followed by plating out on Mycoplasma Agar. Suspect colonies may be identified by immuno-flourescence.

Serology: serum agglutination is the standard screening test, suspect reactions are examined further by heat inactivation and/or dilution. Elisa is accepted as the primary screening test in some countries. HI may be used, generally as a confirmatory test. Suspect flocks should be re-sampled after 2-3 weeks. Some inactivated vaccines for other diseases induce 'false positives' in serological testing for 3-8 weeks. PCR is possible if it is urgent to determine the flock status.

Differentiate from Infectious Coryza, Aspergillosis, viral respiratory diseases, vitamin A deficiency, other Mycoplasma infections such as M. synoviae and M. meleagridis (turkeys).
Treatment
Tilmicosin, tylosin, spiramycin, tetracyclines, fluoroquinolones. Effort should be made to reduce dust and secondary infections.
Prevention
Eradication of this infection has been the central objective of official poultry health programmes in most countries, therefore M.g. infection status is important for trade in birds, hatchingeggs and chicks. These programmes are based on purchase of uninfected chicks, all-in/all-out production, biosecurity, and routine serological monitoring. In some circumstances preventative medication of known infected flocks may be of benefit.

Live attenuated or naturally mild strains are used in some countries and may be helpful in gradually displacing field strains on multi-age sites. Productivity in challenged and vaccinated birds is not as good as in M.g.-free stock.

www.thepoultrysite.com

Necrotic Enteritis


Introduction
An acute or chronic enterotoxemia seen in chickens, turkeys and ducks worldwide, caused by Clostridium perfringens and characterised by a fibrino-necrotic enteritis, usually of the mid- small intestine. Mortality may be 5-50%, usually around 10%. Infection occurs by faecal-oral transmission. Spores of the causative organism are highly resistant. Predisposing factors include coccidiosis/coccidiasis, diet (high protein), in ducks possibly heavy strains, high viscosity diets (often associated with high rye and wheat inclusions in the diet), contaminated feed and/or water, other debilitating diseases.
Signs
• Depression.
• Ruffled feathers.
• Inappetance.
• Closed eyes.
• Immobility.
• Dark coloured diarrhoea.
• Sudden death in good condition (ducks).
Post-mortem lesions
• Small intestine (usually middle to distal) thickened and distended.
• Intestinal mucosa with diptheritic membrane.
• Intestinal contents may be dark brown with necrotic material.
• Reflux of bile-stained liquid in the crop if upper small intestine affected.
• Affected birds tend to be dehydrated and to undergo rapid putrefaction.
Diagnosis
A presumptive diagnosis may be made based on flock history and gross lesions Confirmation is on the observation of abundant rods in smears from affected tissues and a good response to specific medication, usually in less than 48 hours.
Treatment
Penicillins (e.g. phenoxymethyl penicillin, amoxycillin), in drinking water, or Bacitracin in feed (e.g. 100 ppm). Treatment of ducks is not very successful, neomycin and erythromycin are used in the USA. Water medication for 3-5 days and in-feed medication for 5-7 days depending on the severity.
Prevention
Penicillin in feed is preventive, high levels of most growth promotors and normal levels of ionophore anticoccidials also help. Probiotics may limit multiplication of bacteria and toxin production. In many countries local regulations or market conditions prevent the routine use of many of these options.

www.thepoultrysite.com

Colibacillosis, Colisepticemia

Introduction
Coli-septicaemia is the commonest infectious disease of farmed poultry. It is most commonly seen following upper respiratory disease (such as Infectious Bronchitis) or Mycoplasmosis. It is frequently associated with immunosuppressive diseases such as Infectious Bursal Disease Virus (Gumboro Disease) in chickens or Haemorrhagic Enteritis in turkeys, or in young birds that are immunologically immature. It is caused by the bacterium Escherichia coli and is seen worldwide in chickens, turkeys, etc.

Morbidity varies, mortality is 5-20%. The infectious agent is moderately resistant in the environment, but is susceptible to disinfectants and to temperatures of 80°C.

Infection is by the oral or inhalation routes, and via shell membranes/yolk/navel, water, fomites, with an incubation period of 3-5 days.

Poor navel healing, mucosal damage due to viral infections and immunosuppression are predisposing factors.
Signs
• Respiratory signs, coughing, sneezing.
• Snick.
• Dejection.
• Reduced appetite.
• Poor growth.
• Omphalitis.
Post-mortem lesions
• Airsacculitis.
• Pericarditis.
• Perihepatitis.
• Swollen liver and spleen.
• Peritonitis.
• Salpingitis.
• Omphalitis.
• Synovitis.
• Arthritis.
• Enteritis.
• Granulomata in liver and spleen.
• Cellulitis over the abdomen or in the leg.
• Lesions vary from acute to chronic in the various forms of the disease.
Diagnosis
Isolation, sero-typing, pathology. Aerobic culture yields colonies of 2-5mm on both blood and McConkey agar after 18 hours - most strains are rapidly lactose-fermenting producing brick-red colonies on McConkey agar.

Differentiate from acute and chronic infections with Salmonella spp, other enterobacteria such as Proteus, as well as Pseudomonas, Staphylococcus spp. etc.
Treatment
Amoxycillin, tetracyclines, neomycin (intestinal activity only), gentamycin or ceftiofur (where hatchery borne), potentiated sulphonamide, flouroquinolones.
Prevention
Good hygiene in handling of hatching eggs, hatchery hygiene, good sanitation of house, feed and water. Well-nourished embryo and optimal incubation to maximise day-old viability.

Control of predisposing factors and infections (usually by vaccination). Immunity is not well documented though both autogenous and commercial vaccines have been used.

www.thepoultrysite.com

Ascites

Introduction
Associated with inadequate supplies of oxygen, poor ventilation and physiology (oxygen demand, may be related to type of stock and strain). Ascites is a disease of broiler chickens occurring worldwide but especially at high altitude. The disease has a complex aetiology and is predisposed by reduced ventilation, high altitude, and respiratory disease. Morbidity is usually 1-5%, mortality 1-2% but can be 30% at high altitude. Pulmonary arterial vasoconstriction appears to be the main mechanism of the condition.
Signs
• Sudden deaths in rapidly developing birds.
• Poor development.
• Progressive weakness and abdominal distension.
• Recumbency.
• Dyspnoea.
• Possibly cyanosis.
Post-mortem lesions
• Thickening of right-side myocardium.
• Dilation of the ventricle.
• Thickening of atrioventricular valve.
• General venous congestion.
• Severe muscle congestion.
• Lungs and intestines congested.
• Liver enlargement.
• Spleen small.
• Ascites.
• Pericardial effusion.
• Microscopic - cartilage nodules increased in lung.
Diagnosis
Gross pathology is characteristic. A cardiac specific protein (Troponin T) may be measured in the blood. This may offer the ability to identify genetic predisposition. Differentiate from broiler Sudden Death Syndrome and bacterial endocarditis.
Treatment
Improve ventilation, Vitamin C (500 ppm) has been reported to be of benefit in South America.
Prevention
Good ventilation (including in incubation and chick transport), avoid any genetic tendency, control respiratory disease.

www.thepoultrysite.com

Senin, 05 Januari 2009

Awas Budidaya Unggas di Musim Penghujan

Menghadapi musim hujan, ada tiga hal yang harus dibenahi,yakni kondisi kandang, manajemen budidaya dan kesiapan petugas kandang. Disamping itu, waspadai juga penyakit yang mungkin timbul.
Seperti kata pepatah sedia payung sebelum hujan, demikian juga dunia perunggasan dalam menyambut datangnya musim hujan. Payung untuk budidaya perunggasan berupa kesiapan kandang menghadapi musim penghujan, kesesuaian manajemen terhadap kondisi yang dihadapi selama musim penghujan, kesiapan petugas kandang mengantisipasi semua kemungkinan yang ada.

Kesiapan kandang. Sebelum musim penghujan tiba kandang harus sudah disiapkan. Yang perlu dicermati antara lain :

* Kondisi atap: Benahi atap apabila terdapat kebocoran. Masuknya air hujan dapat menyebabkan basahnya litter, pakan, bahkan ayam. Kejadian ini dapat menimbulkan terjadinya kasus jamur, hipotermi, maupun meningkatnya kandungan amoniak. Selain itu masuknya air hujan ke dalam menyebabkan kayu atau bambu kerangka kandang cepat rapuh, sehingga membuat biaya operasional meningkat.
* Kondisi gudang: Gudang hendaknya tetap dalam kondisi kering, sehingga pakan dapat terjaga mutunya. Bila lantai gudang lembab, pemakaian penyangga pakan sangat disarankan. Penyangga dapat dibuat dari kayu, maupun bambu.
* Saluran air: Saluran air yang baik dapat menghindarkan kandang dari kebanjiran, maupun basahnya kotoran ayam. Dengan lancarnya aliran air, diharapkan genangan-genangan air di sekitar kandang dapat dikurangi.
* Air minum: Pada waktu musim hujan volume air dalam sumber air meningkat, kadang permukaan air hampir sama dengan permukaan tanah. Apabila sumber air terletak di daerah yang kandungan kumannya tinggi, seperti dekat kandang, dekat tempat pembuangan, maka disarankan untuk memberikan klorin pada air minum.

Kesesuaian manajemen. Diantaranya manajemen pakan, sanitasi, biosecurity dan manajemen litter.

* Manajemen pakan: Penyimpanan pakan harus memperhitungkan kondisi gudang selama musim hujan. Hindari basahnya pakan, karena akan mempengaruhi mutu pakan, baik komposisi, bentuk aroma, maupun menghindari tumbuhnya jamur pada pakan.
* Sanitasi: Siapkan tempat dipping dimuka kandang.
* Biosecurity: Musim hujan basahnya diikuti dengan meningkatnya populasi lalat dan nyamuk, hal ini disebabkan adanya genangan air di sekitar kandang. Lalat dan nyamuk merupakan vektor dari berbagai macam penyakit. Untuk itu usaha pemberantasan serangga harus menjadi program disaat musim penghujan.
* Manajemen litter. Usahakan litter tetap kering. Bila litter basah usahakan segera diganti. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah persediaan litter selama musim penghujan harus cukup.

Kesiapan petugas. Petugas hendaknya siap terhadap kasus-kasus yang sifatnya mendadak, untuk itu kesiapan petugas kandang sangat diperlukan, seperti mengoptimalkan suhu selama masa brooding, mengontrol kondisi atap, saluran air dan kondisi gudang.
Kasus penyakit. Beberapa penyakit yang biasa timbul selama musim penghujan diantaranya:

* Colibacilosis : Disebabkan oleh infeksi baktri Eschericia coli. Penularan melalui kontak langsung antara ayam sakit dengan ayam sehat melalui pakan, minum dan debu yang tercemar. Colibacilosis dapat menyebabkan kematian embrio. Infeksi yolk sac, omfalis, ooforitis, salpingitis, koligranuloma dan arthritis. Hal yang dapat dilakukan dengan mengoptimalkan sanitasi, bisecurity dan ventilasi udara.
* Coccidiosis: Disebabkan oleh Eimeria (protozoa). Penyakit ini menyerang saluran pencernaan ayam sehingga gejala yang sering timbul adalah berak darah. Pencegahan dengan mengoptimalkan sanitasi, ventilasi udara, sinar matahari dan biosecurity.
* Jamur: Jenis jamur yang sering menyerang ayam adalah Aspergillus. Jamur ini masuk ke tubuh ayam melalui pakan atau litter. Jamur ini terutama menyerang saluran pernafasan ayam.

Penyakit-penyakit lain yang penularannya melalui vektor lalat tikus dan nyamuk. Pada musim hujan, genangan air banyak terdapat disekitar kandang, sehingga populasi nyamuk meningkat. Basahnya kotoran ayam juga menyebabkan populasi lalat meningkat. Dengan turunnya hujan, semak-semak sekitar kandang juga menjadi rimbun sehinga menjadi tempat sembunyi tikus. Untuk itu program pembasmian tikus, lalat dan nyamuk harus dilaksanakan pada musim penghujan.

sumber http://mitraunggas.com/index.php?main_page=more_news&news_id=9

Karakteristik Strain Broiler


Karakteristik serta keunggulan strain broiler dan layer di Indonesia antara lain:

Strain Cobb (broiler)

1. Titik tekan pada perbaikan FCR
2. Pengembangan genetik diarahkan pada pembentukan daging dada
3. Mudah beradaptasi dengan lingkungan tropis (heat stress)
4. Produksi efisien (Bobot badan 1,8 – 2 kg; FCR 1,65)

Strain Hybro (broiler)

1. Fokus terhadap kekuatan dan daya hidup
2. Menjaga keseimbangan antara sifat broiler dan breeder
3. Performa bagus pada iklim tropis
4. Tahan terhadap kasus ascites
5. Fokus pengembangan genetik pada hasil/produk karkas

Strain Ross (broiler)

1. FCR lebih efisien
2. Laju pertumbuhan lebih cepat
3. Daya hidup lebih bagus
4. Fokus pengembangan genetik pada kekuatan kaki sebagai penyeimbang berat badan

sumber www.cjfeed.co.id/

Kamis, 01 Januari 2009

Jangan Biarkan Ayam Anda Sakit


SUATU usaha budidaya unggas tidak selamanya berhasil. Terkadang gagal alias rugi. Berbagai macam faktor penyebabnya, cuaca, pakan yang kurang baik, harga pasar yang rendah dan kesehatan ayam, dalam hal ini ayam yang dipelihara sakit. DOC yang dikirim dari hatchery ke kandang telah melalui suatu proses seleksi yang sangat ketat, oleh karena itu peluang untuk ayam kesehatannya terganggu sangatlah kecil. Namun sampai hari ini masih banyak kasus penyakit yang terjadi karena prinsip-prinsip manajemen pemeliharaan budidaya dan biosecurity tidak diterapkan oleh beberapa kalangan peternak atau pebisnis ayam, sehingga kerugian setiap saat menghadang. Penyakit yang terjadi pada unggas bukan hanya disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak bersahabat atau dengan kata lain tidak dapat diatur, namun juga sangat banyak disebabkan oleh kelalaian pemelihara atau peternak. Dalam hal manajemen, umumnya peternak berpegang atau berpedoman pada kebiasaan tanpa melihat kondisi lingkungan, sehingga kegagalan yang diperoleh karena kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh ayam tidak diberikan sebagaimana mestinya. Penyebaran penyakit pada unggas dapat terjadi secara vertikal dan horizontal. Karena itu pengawasan yang ketat perlu dilakukan dan perlu juga perhatian yang lebih jika ayam yang dipelihara terinfeksi suatu penyakit. Beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan seperti: umur ayam yang terinfeksi penyakit, tingkat morbiditas, jenis antibiotik dan dosis antibiotik yang akan digunakan untuk mengobati ayam yang sakit, semuanya ini merupakan hal yang sangat penting dan harus diketahui oleh seorang peternak .

Mekanisme Transmisi Penyakit
Mekanisme transmisi penyakit yang telah dikenal ada beberapa sebagai berikut :
1. Transovarial Route ( Secara Vertikal ) dari induk melalui telur, seperti Mycoplasmosis, Pullorum, Reovirus dan Adenovirus.
2. Transmisi Melalui Egg Shell (E.Coli, Salmonella SPP).
3. Transmisi Langsung (Salmonellosis, Coryza, Mycoplasmosis, Laryngotrachetis dan Pasteurellosis).
4. Transmisi Tidak Langsung (Transport, Equipment dan Feed yang dikirim ke farm).
5. Melalui Angin (Jarak 5 KM bahkan lebih, penyakit vvND dan ILT masih dapat menyerang).
6. Vektor Biologis (Burung– burung liar vektor AI dan Pasteurella SPP).
7. Pakan (Kontaminasi).
8. Vaksin (Kontaminasi).

Berapa Lama Bibit Penyakit Itu Bertahan?
Daya hidup penyakit sangat bervariasi tergantung dari penyakit tersebut, contoh : daya hidup Mycoplasma Galliseptikum (pada gambar 1).

Peran Dan Mekanisme KerjaAntibiotik
Antibiotik merupakan zat kimiawi yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang mempunyai kemampuan, dalam larutan encer, untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme ( Newman, 2002 ). Tidak semua penyakit yang menyerang unggas harus diberi antibiotik. Ada beberapa hal yang perlu dipahami mengenai peran dan mekanisme kerja antibiotik. Disamping itu pula seorang peternak harus mampu atau memahami secara detail waktu paruh obat yang digunakan untuk mengobati penyakit yang menyerang unggas agar aplikasinya tepat sehingga dapat memberikan kesembuhan. Waktu paruh adalah jangka waktu sampai kadar obat dalam darah menurun menjadi separuh dari harga asalnya ( Mutschler, 1991 ) atau kadang juga didefinisikan sebagai waktu yang diperlukan oleh tubuh untuk menetralisir obat tersebut. Waktu paruh dari berbagai jenis antibiotik dapat dilihat pada Tabel
1 dibawah ini :
Hindari agar Ayam tidak Sakit
Beberapa hal yang perlu dilakukan atau dilaksanakan oleh peternak agar terhindar dari kerugian yang disebabkan karena ayam sakit:
1. Biosecurity yang ketat.
2. Down Time atau masa istirahat kandang yang cukup, minimal 14 hari.
3. Usahakan umur ayam dalam satu farm seragam.
4. Waktu dan aplikasi vaksin yang tepat dan akurat.
5. Lalu lintas karyawan diperketat, sebaiknya jangan berpindah dari satu kandang kekandang lain.
6. Lakukan uji sensitivitas antibiotik secara berkala, agar antibiotik yang sudah resisten tidak terpakai.
7. Jaga kebersihan didalam dan diluar farm.
8. Pemberian pakan yang teratur.
9. Pemberian vitamin, terutama pada satu hari sebelum vaksin, pada saat vaksin dan satu hari setelah vaksin, karena dampak reaksi post vaksinasi yang berat dapat mengakibatkan ayam menjadi sakit.

Pemberian Antibiotik Pada Ayam
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemberian antibiotik pada ayam :
1. Antibiotik yang diberikan harus disesuaikan dengan kondisi ayam, apakah untuk pencegahan atau untuk pengobatan
2. Pilihlah antibiotik yang cocok, dalam hal ini memiliki daya kerja untuk membunuh
mikroorganisme patogen atau sesuaikan dengan spekrum antibiotik tersebut.
3. Berikan antibiotik sesuai dengan waktu paruh yang dimiliki oleh antibiotik tersebut
yang dipilih.
4. Berat badan dan konsumsi air minum mutlak harus diketahui agar antibiotik yang diberikan sesuai dosis yang dibutuhkan.
5. Perhatikan waktu henti obat dan lama pemberiannya.
6. Kemampuan diagnosa yang akurat agar tidak salah dalam pemberian dosis, dalam artian dilihat tingkat morbiditas.
7. Perhatikan umur ayam yang akan diobati.



Kesimpulan
Dari beberapa hasil survey yang dilakukan ditemukan bahwa umumnya farm yang tingkat kebersihannya rendah sangat banyak terjadi kasus penyakit, akan tetapi farm yang kondisi lingkungannya bersih dan manajemen yang bagus sangat jarang terjadi kasus penyakit. Sanitasi yang baik sudah menentukan 80 persen tingkat keberhasilan dalam hal budidaya unggas.
(Oleh : By : Syahrir Akil,
Technical Service and Development, PT.
CPI) Jakarta

Tabel 1. Waktu Paruh Berbagai Jenis Antibiotik.
NAMA ANTIBIOTIKA WAKTU PARUH
AMPICILLIN 10 – 15 MENIT
PENICILLIN 1 JAM
CHLORAMPHENICOL 1,2 JAM
OXYTETRACYCLINE 4,2 JAM
TYLOSIN 5 JAM
KEL. SULFA > 6 JAM
TRIMETHOPRIM > 6 JAM
DOXYCICLINE 16 – 18 JAM
ERYTROMYCIN 8 – 9 JAM


BULETIN CP. MARET 2008 Nomor 99/Tahun IX

Paradigma Baru pada Manajemen Brooding


ADA satu pengalaman menarik yang penulis alami saat musim hujan. Saat itu menjelang tengah malam sekitar pukul 23.15 WIB yang diawali hujan saat sore hari. Penulis melihat ayam broiler umur 5 hari mengalami panting atau megapmegap di dalam kandang. Suhu terukur saat itu adalah 300C. Penulis ingat betul, umur tersebut
semestinya ayam masih berada pada fase brooding yang justru memerlukan suhu tinggi. Bila kita perhatikan suhu terukur tersebut, mestinya masih kurang dari 340C, tetapi pada kenyataannya ayam mengalami panting. Pengalaman menarik seperti ini barangkali sering juga dialami peternak-peternak kita. Hanya saja tidak diketahui faktor apa yang menyebabkan ayam tersebut panting. Menurut arahan dan literature yang kita dapatkan di Indonesia, suhu yang harus dicapai pada masa brooding adalah kisaran 33 sampai 350C dan menurun 0,50C setiap harinya. Karena pada masa tersebut thermoregulasi ayam masih belum berfungsi secara sempurna untuk menjaga
stabilitas panas tubuhnya.

Suhu Efektif
Dari hasil kajian literatur yang dikombinasi dengan pengalaman lapangan, sudah semestinya kita mengubah paradigma lama dalam manajemen brooding. Selama ini kita masih terpaku pada target pencapaian suhu brooding yang maksimal. Kita perlu secara sadar untuk mencoba memahami suhu efektif yang benar-benar dirasakan ayam. Berbeda dengan suhu terukur, suhu efektif merupakan suhu yang benar-benar dirasakan oleh ayam. Suhu efektif berasal dari suhu terukur yang dikombinasi dengan kelembaban relative (%RH) terukur. Artinya, bila pada alat ukur suhu tercatat 300C, maka suhu yang benarbenar dirasakan oleh ayam belum tentu 300C. Sebagai contoh pada saat bersamaan dengan itu, % kelembaban relatif (%RH) terukur adalah 85% maka suhu yang benar-benar dirasakan oleh ayam adalah lebih tinggi dari 300C. Tetapi bila saat itu % kelembaban relatif (%RH) terukur adalah 55 sampai 60% maka suhu yang benar-benar dirasakan oleh ayam adalah sama, yaitu 300C. Inilah yang dinamakan suhu efektif, yaitu suhu yang dirasakan dari kombinasi suhu dan % kelembaban relatif. Sedangkan suhu terukur atau ambient temperatur merupakan suhu
yang terbaca pada pengukuran menggunakan alat ukur termometer.

Heat Stress Index
Bila kita lebih jauh membicarakan kombinasi suhu dan % kelembaban relatif (%RH),
maka kita akan masuk pada satu pengertian dasar yaitu Heat Stress Index. Heat Stress Index didefinisikan sebagai suatu index yang menjadi ukuran tingkatan dimana ayam masih dapat beradaptasi atau tidak terhadap kondisi cuaca. Heat stress index yang masih dapat ditolerir oleh ayam adalah 160, artinya apabila heat stress index melebihi angka 160 maka ayam akan mengalami panting atau megap-megap. Sebaliknya bila angka heat stress index di bawah 160 maka ayam masih dapat beradaptasi. Semakin bertambahnya umur ayam, standar heat stress index semakin menurun. Heat stress index standar anak ayam umur sehari (DOC) adalah 155 sedangkan umur 35 hari adalah 140. Ayam akan mulai mengalami panting bila Heat Index di atas 155, dan kelembaban merupakan bagian utama dari permasalahan ini. Pada suhu yang sama dengan kelembaban yang lebih tinggi, maka secara fisiologis ayam akan merasakan suhu yang lebih tinggi dari pada suhu yang terukur. Heat stress index didapatkan melalui kalkulasi suhu dan % kelembaban relatif (%RH) dengan menjumlahkan suhu dalam satuan Fahrenheit dengan % kelembaban relatif (%RH) terukur. Contoh di atas, pada suhu 300C (860F) dengan % kelembaban relatihf (%RH) terukur adalah 85%, maka heat stress index adalah 171 jauh di atas 160. Maka sudah semestinya apabila ayam saat itu mengalami panting. Sekarang, yang menjadi pertanyaan adalah pada suhu berapa kita semestinya memperlakukan ayam agar tidak mengalami panting. Untuk menjawab pertanyaan ini kita memerlukan angka standar heat stress index berdasarkan umur ayam. Selain itu kita harus mengukur terlebih dahulu berapa % kelembaban relative (%RH). Dari dua sumber data ini maka kita dapat mengetahui
pada suhu berapa ayam akan merasakan suhu yang nyaman bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Kesalahan awal memperlakukan anak ayam dapat menyebabkan pencapaian performance yang tidak maksimal. Umumnya, kesalahan manajemen brooding ini sering tidak nampak karena kekeliruaan persoalan brooding dianggap masih masalah yang sepele. Oleh karena itu mulai saat ini mari kita sama-sama memperbaiki paradigma dalam manajemen brooding. Kita jangan hanya terpaku pada target pencapaian suhu brooding, tapi amati juga faktor kelembaban relatifnya

Tabel Standar Suhu dan Kelembaban Saat Brooding
Umur (hari) Suhu % Kelembaban Heat Index
oC oF
1 32 90 65 155
2 32 90 65 155
3 32 90 65 155
4 31 88 65 153
5 31 88 65 153
6 31 88 65 153
7 30 86 65 151
8 30 86 65 151
9 30 86 65 151
10 30 86 65 151
11 30 86 65 151
12 30 86 65 151
13 30 86 65 151
14 30 86 65 151
Keterangan :
Heat Index didapat dari rumus berikut : Heat Index = Suhu (OF) + % Kelembaban

Pengaruh Heat Index terhadap performance
Heat Index < 150 : tidak menyebabkan permasalahan performance
Heat Index 155 : merupakan batas atas terjadinya penurunan performance
Heat Index 160 : penurunan feed intake, peningkatan water intake, dan
penurunan performance
Heat Index 165 : awal kejadian kematian dan kerusakan permanen pada
paru-paru dan system peredaran darah
Heat Index 170 : dapat menyebabkan tingginya kematian

Sopyan Haris, Technical
support, CPI Surabaya
Sumber : Technical Focus, publication of Cobb Vantress, Inc.

BULETIN CP. MARET 2008 Nomor 99/Tahun IX

Menentukan Kualitas Air

AIR merupakan komponen penting dalam kehidupan,.Bagi makhluk hidup air merupakan salah satu bahan nutrisi. Fungsi air bagi tubuh adalah untuk pengaturan temperatur badan, pengangkutan bahan nutrisi lainnya dan turut juga dalam berbagai reaksi kimia dalam tubuh. Kebutuhan air pada unggas seringkali kurang diperhatikan.
Pemberian air terkadang hanya 2 kali dari makanan yang dikonsumsi (contoh : 1 kg pakan yang diberikan, maka air minum adalah 2 liter air).
Pemberian air minum perlu diperhatikan, terutama pada kondisi panas. Ayam akan minum lebih banyak (lebih dari 2 kali). Berikut konsumsi air berbagai unggas (untuk 100 ekor unggas) :
a. Broiler :
- Umur < 3 minggu = 2– 10 liter/hari
- Umur > 3 minggu =10 – 30 liter/hari
b. Layer : 18 – 30 liter/hari tergantung pada level produksi telurnya.
c. Itik :
- Umur < 4 minggu = 3– 12 liter/hari
- Umur > 4 minggu = 12 – 33 liter/hari
d. Angsa :
- Umur < 4 minggu = 3 – 25 liter/hari
- Umur > 4 minggu = 25 – 35liter/hari
e. Kalkun :
- Umur < 4 minggu = 2 – 11liter/hari
- Umur > 4 minggu = 11 – 60liter/hari

Konsumsi air dapat dipengaruhi oleh jenis makanan, laju pertumbuhan dan produksi, status penyakit dan temperatur lingkungan. Pada dasarnya air harus selalu tersedia terus menerus.
Kualitas air dalam suatu peternakan sudah seharusnya dipertimbangkan. Pengukuran kualitas air dapat dilakukan dengan berbagai parameter, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. TDS (Total Dissolved Solids) meliputi semua mineral yang larut dalam air. TDS dapat mempengaruhi unggas tetapi tergantung pada mineral yang terkandung dalam air tersebut. TDS yang > 1500 ppm (mg/liter) tidak dapat diterima unggas di bawah umur 3 minggu, > 3000 ppm tidak baik untuk anak ayam dan anak itik, > 4000 ppm dapat meningkatkan kasus wet dropping pada ayam betina dan kalkun, > 7000 ppm tidak bias diterima oleh semua spesies unggas.
2. Salinitas adalah kadar garam yang terkandung dalam air. Salinitas sering digunakan sebagai parameter mengukur kualitas air yang dapat dipertukar dengan TDS, karena TDS juga mencakup garam mineral yang terkandung didalamnya.
3. Sodium (Na). Air yang tinggi kandungan sodiumnya dapat menyebabkan litter basah dan dapat menyebabkan dehidrasi Penelitian juga memperkirakan bahwa tingginya level sodium dapat menyebabkan ascites pada broiler dan kalkun. Level sodium >500 ppm perlu diperhatikan tetapi dapat diatasi dengan menurunkan kadar garam dalam pakan.
4. Kesadahan air. Mineral kalsium dan magnesium penyebab utama kesadahan air. Magnesium dapat mempengaruhi palatabilitas air. Kesadahan air akan membentuk kerak air di dalam pipa paralon (pipa air).
5. Sulfat. Sulfat dapat memberikan efek sebagai pencuci perut pada unggas dan dapat menyebabkan litter basah jika konsentrasinya >500 ppm. Konsentrasi > 500 ppm dalam air tidak layak diberikan pada unggas, jika > 1500 ppm dalam air tidak baik untuk anak ayam. Level > 3000 ppm tidak dapat diterima oleh unggas.
6. Nitrat dan nitrit. Keberadaan nitrat dan nitrit dapat diindikasikan bahwa air tersebut telah tercemar oleh bakteri (kontaminasi kotoran hewan atau manusia). Nitrit lebih berbahaya dengan dua komponennya. Dalam jumlah yang banyak dapat menganggu darah dalam mengangkut oksigen dan bersifat racun. Level maksimum nitrat yang direkomendasikan cukup bervariasi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi < 300 ppm Nitrat masih bias ditoleransi unggas, namun beberapa penelitian yang lain menyarankan bahwa level maksimum nitrat adalah 50 ppm.
7. Besi.Besi dapat diperoleh karena pencemaran dari peralatan atau kotoran lain. Besi dapat mempengaruhi rasa namun umumnya tidak terlalu beresiko pada kesehatan unggas, tetapi secara tidak langsung merupakan suatu ancaman terhadap kesehatan unggas. Pengukuran kualitas air sebaiknya dilakukan lebih dari 1 parameter pengukuran untuk menentukan bahwa air tersebut layak atau tidak bagi unggas.

BULETIN CP. SEPTEMBER 2006 Nomor 81/Tahun VII

Roli Sofwah Hakim
(Sumber : www.agriorganics.com/
poultry.html)

Antara peluang dan ancaman bisnis ayam broiler

Ayam broiler atau lebih di kenal ayam potong adalah jenis unggas yang telah mengalami seleksi gen bertahun tahun.Sehingga hanya dalam waktu produksi 35 sampai 40 hari sudah layak di konsumsi.Hal ini menyebabkan selama masa produksi memerlukan perlakuan khusus. Baik dari jenis makanannya (konsentrat) , pencegahan penyakit (vaksinasi& obat2an) maupun saat masa panen(distribusi).
Sejak bisnis ayam potong berkembang di Indonesia selama pengamatan & pengalaman penulis selalu terjadi masalah klasik setiap tahunnya.Yaitu:
1. Fluktuasi harga input( Day Old Chik,pakan,obat obatan).
2. Fluktuasi harga out putnya( harga jual daging hidup).
3. Dari segi pemeliharaan munculnya bermacam2 penyakit pada saat pergantian musim sering terjadi.
3 hal inilah yang sering menjadi kendala utama dalam bisnis ayam broiler. Dalam dunia ekonomi fluktuasai harga input dan output sangat di pengaruhi oleh permintaan dan penawaran. Beberapa hal yang memepengaruhi permintaan daging ayam broler antara lain:
1. Budaya masyarakat Indonesia yang menganggap daging masih merupakan menu special. Adanya momen lebaran, natal, tahun baru, ataupun bulan banyak masyarakat melangsungkan pesta pernikahan biasanya akan terjadi kenaikan permintaan daging. Tetapi setelah momen itu selesai atau memasuki tahun ajaran pendidikan yang baru biasanya akan terjadi pemurunanan permintaan daging broiler.
2. Kebiasaan masyarakat yang suka mengkonsomsi daging segar juga sangat mempengaruhi permintaan. Beda dengan di Negara-negara maju yang sudah terbiasa mengkonsumsi daging beku.
3. Adanya isu penyakit flu burung juga berpengaruh pada penurunan permintaan.

Beberapa hal di atas itulah yang biasa digunakan para peternak untuk membentuk penawaran.Yaitu menentukan jumlah ayam yang akan di pelihara untuk dipanen 40 hari ke depan. Apakah sesuai dengan kapasitas kandang atau kurang.Celakanya belum adanaya komunikasi secara baik antara perusahaan penyedia bibit ayam umur sehari(breeding) dengan peternak ayam broiler menyebabakan over produksi. Yang berimbas pada anjloknya harga jual daging ayam hidup di tingkat peternak.Akibatnya kerugian lah yang akan di derita oleh peternak.Secara rinci dapat penulis jelaskan beberapa pertimbangan yang digunakan peternak dalam membuat penawaran adalah sebagai berikut: Momen hari-hari besar seperti yang dijelaskan diatas sampai sekarang masih di gunakan para peternak sebagai patokan jumlah populasi ayam broiler yang akan di pelihara. Harga DOC.Karena belum bisa memproduksi bibit secara mandiri, maka peternak sangat tergantung pada perusahaan breeding sebagai penyedia bibit ayam broiler.Tidak adanya kontinyunitas pemeliharaan dari peternak juga tidak adanya kontrak harga beli DOC antara peternak dan perusahaan breeding menyebabkan harga DOC pun di pengaruhi demand dan suplay.Sebagai gambaran, pada saat permintaan DOC oleh peternak meningkat harga beli bisa mencapai Rp 3700/ekor. Tetapi disaat permintaan menurun harga beli bisa dibawah Rp 500/ekor.(Asumsi harga ini sekitar tahun 2000-2003.).

Harga pakan ayam..Perlunya pengetahuan mengenai konsentrasi ransum pakan yang sesuai dengan kebutuhan ayam broiler menyebabakan peternak sangat tergantung pada pakan konsentrat dari pabrik dalam budidaya ayam
broilernya.Bila harga beli konsentrat mengalami kenaikan akibat naiknya bahan baku pakan, peternakpun akan berfikir ulang dalam memulai budidayanya.Kekawatiran peternak apabila kenaikan pakan tanpa diiringi harga jual daging ayam di pasaran, tentunya peternak akan merugi. Harga Obat-obatan( vaksinasi & vitamin).Walaupun hanya sekitar 10% -15% biaya obat obatan dalam pembudidayaan ayam broiler tetap saja akan menjadi bahan pertimbangan peternak.Karena bila terjadi serangan penyakit yang vital biaya pengobatan pun akan naik.
Pergantian musim atau pancaroba.Perubahan musim penghujan ke musim kemarau atau sebaliknya, biasanya akan disertai datangnya penyakit baik yang disebabkan virus,bakteri maupun jamur.Terjadinya penurunan daya tahan tubuh ayam pada saat peubahan musim karena frekuensi suhu yang menyolok menyebabkan ayam akan mudah terserang penyakit. Dengan pertimbangan di atas biasanya peternak akan menghentikan sementara budidayanya.

Kata ekonom kalau mau untung besar ya harus berani mengambil resiko yang besar pula.Statmen ini tak jauh beda pada bisnis budidaya ayam broiler jika ingin meraup keuntungan yang besar.Karena didalam resiko yang besar itu terdapat pula peluang yang besar.Dari uraian diatas ada beberapa peluang yang bisa diambil.
1. Bila para peternak beramai ramai memelihara ayam broiler untuk dipanen pada saat lebaran tiba,maka sebaiknya kita memelihara untuk dipanen pada awal puasa atau pertengahan puasa.
2. Salah satu yang bisa digunakan sebagai indikasi perkiraan permintaan daging ayam broiler pada 40 hari sampai 60 hari ke depan adalah harga beli DOC.Bila harga DOC turun bisa dipastikan permintaan DOC oleh peternak juga turun. Logikanya kebutuhan daging untuk 60 hari kedepan tidak ada pasokan, karena peternak sudah memanen sebelumnya.Dengan asumsi harga jual daging stabil kita bisa mulai memelihara pada saat harga DOC turun.
3. Mahalnya harga pakan konsentrat dapat kita siasati dengan pencampuran bungkil jagung dengan pakan jadi untuk menekan biaya produksi.Dengan pertimbangan penambahan bungkil jagung berbanding denagn bobot ayam hal ini dapat kita lakukan.
4. Disaat para peternak mengosongkan kandangnya karena perubahan musim,disinilah kita beranikan untuk mengisi kandang ayam kita.Tentunya harus kita bekali dengan pengetahuan yang memadai tentang pemeliharaan ayam broiler yang intensif.Hal ini berkaitan dengan perlunya perlakuan pemeliharaan khusus disaat perubahan musim agar ayam tidak mudah terserang penyakit.

Contributed by Sigid Yuwono
Thursday, 12 June 2008
Last Updated Saturday, 28 June 2008

probiz.wgtt.org
http://probiz.wgtt.org

PERLUNYA BROILER DIPUASAKAN

TEMPERATUR lingkungan terutama di musim kemarau merupakan permasalahan yang menjadi perhatian bagi peternak karena temperatur lingkungan yang tinggi dapat meningkatkan FCR dan kematian. Temperatur dalam kandang terutama pada sistem “Open House” sangat dipengaruhi oleh lokasi farm. Lokasi tersebut harus memiliki sumber air yang mudah diperoleh serta perlu juga diperhatikan kecepatan angin dalam kandang.

Ayam merupakan hewan homeothermis atau berdarah panas dengan temperatur tubuhnya 40.6oC dan 41.7oC. Temperatur tubuh yang tinggi ini membuat ayam memiliki kemampuan terbatas dalam menyesuaikan diri dengan temperatur lingkungan. Oleh karena itu ayam akan merasa sangat tertekan jika suhu lingkungan lebih tinggi dari temperatur ideal baginya yaitu 19-27oC. Ayam memiliki kemampuan terbatas dalam mengurangi panas tubuhnya. Pengeluaran panas dilakukan melalui sistem respirasi karena ayam tidak memiliki kelenjar keringat, sehingga kerja jantung dan angka respirasi akan menjadi lebih tinggi (biasa disebut dengan “panting’). Stres panas ini juga bisa mempengaruhi fungsi fisiologis tubuh ayam. Perubahan fungsi fisiologis ini dapat berupa adaptasi ayam terhadap temperatur lingkungan yang ekstrim, contohnya : ayam akan mengurangi konsumsi pakan dan meningkatkan konsumsi air minum (agar produksi panas dalam tubuhnya / Heat Increment berkurang sehingga dapat membuang panas dengan jalan panting). Sekitar 60 % panas tubuh akan di buang melalui mekanisme panting.

Mekanisme panting ini akan dilakukan ayam terutama pada kandang yang kelembabannya rendah. Jika temperatur lingkungan terlalu panas maka ayam akan mengurangi aktifitasnya, sayap menjadi lunglai dan akan terjadi perubahan keseimbangan hormon.
Salah satu konsekuensi akibat stress panas maka ayam akan menurunkan konsumsi pakan, sehingga konsumsi nutriennya (asam amino, lemak, mineral maupun vitamin) juga akan turun. Oleh karena itu perlu menyiasati agar ayam dapat tercukupi kebutuhan nutriennya pada kondisi lingkungan yang panas.

Puasa ayam di siang hari secara fisiologis akan lebih baik dilakukan juga dengan pemberian air minum secara adlibitum. Interval puasa dapat dilakukan 6 – 8 jam sebelum terjadinya awal stres panas, kemudian terjadi lagi stres panas selama 6 jam sesudahnya, sehingga total interval puasanya menjadi 12 jam (masih dapat ditolelir). Pemberian pakan pada siang hari kurang efisien karena hasil metabolisme zat makanan pada jumlah tertentu harus dibuang. Pemberian vitamin C dan elekrolit (6 jam sebelum awal terjadinya stres panas) juga sangat dianjurkan serta dapat dilakukan juga penyiraman atap kandang dengan air atau dengan menambah kipas.
(Bagus Hamidi, R & D Feed Technology, PT. CPJF Jakarta).

BULETIN CP. APRIL 2006 No 76/Tahun VII

KONTROL KELEMBABAN LITTER

Manajemen lingkungan dalam kandang perlu diperhatikan. Salah satu diantaranya adalah mempertahankan kelembaban litter pada tingkat yang dapat memberikan kenyamanan bagi ayam. Untuk menjamin tingkat kelembaban litter yang nyaman, maka perlu diperhatikan beberapa tips berikut :
1. Monitor ventilasi kandang.
Kelembaban yang tinggi akan menyebabkan litter menggumpal, licin dan lengket. Pada kondisi ini litter menjadi jenuh oleh air sehingga mengurangi kemampuan menyerap air. Sehingga menyebabkan amonia yang tinggi dalam kandang, lalat, bulu ayam kotor, memar pada dada, kaki luka, dll. Area yang sering terjadi biasanya disekiar tempat air minum. Sehingga daerah rawan ini harus sering diaduk atau diganti untuk mencegah berbagai problem.
2. Hindari kasus wet dropping, terutama dengan memperhatikan nutrisi pada pakan, konsumsi air minum atau adanya agen penyakit. dengan kadar garam yang tinggi dapat menyebabkan wet dropping, demikian juga jika kualitas air minum , perlu di cek kandungan mineralnya khususnya sulfat dan magnesium. Sejumlah agen penyakit dapat juga menyebabkan kotoran menjadi basah. Salah satunya adalah infeksi cocci. Penyebab penyakit ini adalah coccidia yang menyerang dan menginfeksi usus ayam. Untuk itu kontrol cocci melalui penggunan anticocci pada pakan sangat penting digunakan.
3. Hindari pakan berjamur.
Hal-hal yang dapat menyebabkan pakan berjamur adalah pakan terkena air/basah, kualitas lemak pakan yang jelek atau tengik, sehingga pakan mudah ditumbuhi jamur. Jamur yang tumbuh ini dapat melakukan metabolisme dan juga memproduksi mikotoksin. Sifat dari mikotoksin adalah dapat mengiritasi saluran pencernaan dan menyebabkan adanya perubahan patologi pada ginjal. Keadaan ini menyebabkan konsumsi air minum meningkat, sehingga kotoran menjadi basah. Kontrol mikotoksin dapat dilakukan dengan memperhatikan kadar air pakan, menjaga kondisi lingkungan tempat menyimpan pakan agar selalu kering, pakan tetap segar, kebersihan peralatan (termasuk tempat pakan dan peralatan pembuat pakan), pemberian penghambat tumbuhnya jamur (anti mold), seperti : asam organik ( propionat, benzoat, asam asetat), garam dari asam organik (kalsium propionat) dan tembaga sulfat.
4. Kontrol lingkungan kandang.
Temperatur dan kelembaban kandang berpengaruh pada konsumsi air minum. Jika temperatur yang tinggi, ayam mengkonsumsi air minum lebih banyak dan litter menjadi basah. Bila kelembaban juga tinggi, problem menjadi lebih parah dan akan lebih sulit untuk mempertahankan litter tetap kering.
5. Perhatikan sistem air minum
Pastikan sistem air minum berjalan dengan baik, apakahl ada kebocoran atau tidak serta tekanan air yang sesuai pada sistem nipple.

Nah, agar temperatur dan kelembaban dalam kandang dapat diatur, cahaya juga dapat dikontrol, penyakit lebih mudah dicegah maka sistem ”closed house” mutlak dibangun. (Gatut Wahyudi, Technical Service CP. Prima, Semarang)

BULETIN CP. APRIL 2006 No 76/Tahun VII

Ayam Pedaging Kadar Lemak Rendah

M Sobri, Kembangkan Ayam Pedaging Kadar Lemak Rendah, Daging Broiler Terasa Seperti Ayam Kampung

Tuesday, 05 February 2008

Malang, Penyakit jantung koroner dan obesitas merupakan momok yang menakutkan masyarakat. Untuk menyiasati agar ayam broiler tidak menjadi ancaman bagi kesehatan karena kadar lemaknya yang tinggi, Muchammad Sobri SPt MP, dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan ayam pedaging dengan kadar lemak rendah. Ayam broiler yang diternakkan Sobri ini berasal dari bibit yang sama dengan ayam pedaging yang diternakan oleh peternak lainnya yang ada di Malang. Hanya saja proses penggemukan ayam broiler itu yang berbeda dengan ayam lain.

Perbedaan mendasarnya terletak dari sisi kadar lemak yang ada dalam tubuh ayam sendiri. Di sini saya sengaja tidak menggunakan kosentrat yang di jual dipasaran tetapi menggunakan pakan yang di ramu sendiri, ungkap Sobri ketika Surya berkunjung ke kandang ayam yang dikelolanya sendiri, Senin (4/2). Menjadikan ayam broiler rendah lemak memang terdengar agak meragukan, mengingat seluruh ayam potong yang dijual di pasar tradisional maupun moderen memiliki kandung lemak yang sangat tinggi. Sehingga banyak ahli gizi yang menyarankan agar masyarakat mengurangi konsumsi ayam broiler untuk menjaga kadar kolesterol dalam tubuh.
Memang tak bisa dipungkiri seluruh ayam pedaging di kawasan tropis seperti Indonesia banyak lemaknya. Kadar lemak yang tinggi dalam tubuh ayam memang disengaja untuk menambah nafsu makan ayam sehingga dalam waktu 35 - 45 hari sudah bisa dipanen,” ungkap lelaki kelahiran Kendal 19 Januari 1972 itu.

Namun banyaknya efek kesehatan yang ditimbulkan karena kadar lemak dalam tubuh ayam yang tinggi ini membuat Sobri terpacu membuat pakan khusus agar mengurangi kadar lemak dalam tubuh ayam. Hasilnya melalui pakan yangdiolah sendiri, Sekretaris jurusan peternakan UMM itu mampu menurunkan kadar lemak menjadi 4 % dari total lemak daging yang ada. Otomatis ini juga menurunkan kolesterol dalam tubuh ayam menjadi 100 mg per 100 gram daging, jelas dosen nutrisi unggas itu.

Bukan hanya sekadar rendah lemak saja, daging ayam yang dihasilkan menjadi lebih kenyal dan jika dimasak terasa seperti ayam kampung. Lama penggemukan ayam hampir sama dengan ayam broiler lainnya dan bobot saat panen sama dengan ayam dengan kadar lemak tinggi. “Dan yang paling penting biaya produksi mulai dari pakan hingga sanitasi kandang sama dengan jika pakan dibeli di pasaran,” beber Sobri.

Agar ayam pedaging yang dihasilkan lebih sehat lagi, Sobri mulai mengurangi penggunaan antibiotik yang membuat kadar residu kimia dalam tubuh ayam tinggi. Dimana akan berdampak terhadap ketahanan tubuh manusia bila memakan ayam dengan kadar antibiotik tinggi. Untuk itu saya mulai menggunakan bakteri lactobacillus yang berfungsi melawan bakteri jahat dalam tubuh. Sehingga saat dikosumsi manusia menjadi lebih aman karena residu antibiotik sudah tidak ada lagi, tandasnya./Renni Susilawati

Surya Online

http://www.surya.co.id/web

Tinjauan Produksi Broiler dengan Persentase Pemberian Ransum yang Berbeda Antara Siang dan Malam Hari

Khaira Nova1), Tintin Kurtini1), dan Nining Purwaningsih1)
1) Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung
Jln. Soemantri Brojonegoro no 1, Bandar Lampung 35145

Abstract

The present experiment was conducted to investigate (1) the effects of different percentage of ration between day and night toward broiler production and (2) the best level of percentage of ration given during the day and night toward broiler production. This research was arranged with 5 treatments and 4 replications, in which each experimental unit consisted of 5 broilers. The data were analyzed by using Analysis of Variance in 5% significant degree. The result of this research showed that the different percentage of ration during the day and night affected (P< 0,05) body weight gain and water consumption, but did not significantly affect feeding consumption and feeding convertion. These results suggested that the ration which was given 30% during the day and 70% at night is the best treatment in influencing body weight gain.

Key Words: Broiler Production, Percentage of Ration, Day and Night

Dokumen lengkap
http://docs.google.com/Doc?id=df73gpx9_0czb942j8

Biosekuriti dan Sanitasi Kunci Pengendalian Penyakit Gumboro


Penyakit IBD (Infectious Bursal Disease) atau yang biasa dikenal dengan gumboro pada unggas, ternyata tidak hanya dapat diselesaikan dengan pemberian vaksin Gumboro. Para ahli sepakat, pengendalian kasus gumboro, kuncinya ada di biosekuriti dan sanitasi lingkungan

Berdasarkan penelitian para tenaga ahli di lapangan Kasus Gumboro bersifat musiman, artinya pada musim tertentu akan mewabah apabila di wilayah atau kandang tersebut penerapan standar pemeliharaannya rendah. Pengendalian kasus gumboro yang paling kritis sejatinya ada di manajemen kandang, utamanya biosekuriti. Pada kandang dengan biosekuriti ketat, bisa dipastikan kasus gumboro bisa jauh ditekan. Meski vaksinasi yang tepat, tetapi pelaksanaan biosekuriti atau sanitasi lingkungan kandang yang rendah akan menjadi pemicu. Manajemen sanitasi tetap menjadi syarat mutlak dalam kesehatan kandang yang merupakan kunci pengendalian penyakit

Gumboro. Salah satu contoh adalah sinar matahari yang banyak, itu menjadi nilai plus yang bisa digunakan sebagai sarana pengendalian berbagai penyakit. Virus IBD tergolong dalam virus yang tidak beramplop (tidak berselubung). Dan sebagaimana karakter virus tak beramplop biasanya tidak mudah dimatikan. Diperlukan desinfektan tertentu untuk dapat menghancurkan virus. Tips yang dapat digunakan untuk disinfeksi kandang ayam yang pernah tercemar virus gumboro.

Disarankan penggunaan formalin 10 % (1 bagian formalin 38 % dicampur ke dalam 9 bagian air) atau dengan 0,25% larutan soda api (2,5 gram soda api kedalam 1 liter air). Larutan disiramkan pada permukaan tanah yang baru, artinya tanah kandang apabila belum disemen. Kemudian sekitar 2 - 3 m tanah seputar/keliling kandang harus di-scrap (dikikis) sedalam 3 - 5 cm, karena tanah tersebut sudah tercemar virus gumboro. Setelah di-scrap, disiram dengan larutan formalin 10% dan/atau larutan soda api 2,5% baru ditaburkan kapur gamping di seluruh permukaannya. Selain itu alas kaki harus dilepas dantidak boleh dibawa masuk ke dalam kandang, tanah hasil scrapping dibuang jauh dari kandang, ranting, sampah dan daun dibakar. Kesemuanya, dinilai cukup tuntas untuk kontrol virus gumboro pada kandang yang pernah terkena wabah gumboro. Virus gumboro banyak ditularkan ke anak ayam terutama melalui alas kaki (litter).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan virus gumboro bisa bertahan hidup di lingkungan tanah yang lembab lebih dari 3 tahun. Maka, situasi tanah di sekitar kandang broiler/layer berkorelasi positif pada tingkat kejadian gumboro. Litter yang lembab dan tercemar yang bercampur feces sangat mudah terkontaminasi virus. Pemberian vaksinasi semata tanpa dibarengi perbaikan biosekuriti dan sanitasi, tidak akan pernah mampu menekan kejadian dan keparahan IBD. Sehingga pemberian vaksin pada anak ayam harus juga diimbangi dengan pengelolaan biosekuriti dan sanitasi baik dan benar.

Sumber : Majalah Trobos
Editor : Anik Lastiati, Drh.
Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur - Situs Resmi
http://www.disnak-jatim.go.id/web

SYNDROMA AYAM KERDIL


SINDROMA KERDIL KADANG MASIH USIL Masih kerap terdengar bila kita melakukan kunjungan lapangan ke peternak ayam pedaging (broiler), adanya keluhan mengenai ketidak seragaman ayam yang dipeliharanya. Menurut penuturan mereka, pada saat doc tiba kondisinya terlihat seragam, tetapi setelah ayam mulai menginjak usia di atas 14 hari, baru terlihat adanya ayam yang terlambat pertumbuhannya.Pertumbuhan yang tidak seragam pada ayam broiler memang banyak penyebabnya seperti :
- Doc berasal dari Bibit Muda atau Bibit Tua Sekali
- Multi strain dalam satu flock / kandang
- Kurang tempat pakan dan tempat minum
- Kepadatan ayam di kandang yang terlalu tinggi
- Penyakit infectious seperti Coccidiosis Sindroma Kekerdilan pada Broiler ( Runting and Stunting Syndrome )
Pada umumnya para peternak berpendapat bahwa beberapa penyebab yang menyebabkan ayamnya tidak seragam seperti karena doc, multistrain dalam satu kandang, kurang peralatan makan dan minum, kepadatan ayam dalam kandang dan penyakit coccidiosis, mereka sudah dapat mengatasinya di lapangan. Tetapi untuk sindroma kekerdilan atau runting and stunting syndrome, para peternak masih meraba-raba penyebabnya, karena kejadian di lapangan kadang ada dan kadang tidak ada / hilang dengan sendirinya. Sindroma Kekerdilan pada Broiler mempunyai berbagai ragam nama lain seperti : Malabsorption Syndrome, Runting Stunting Syndrome, Reovirus
Malabsorption, Pale Bird Syndrome, Helicopter Disease, Brittle, bone Disease Apa itu sindroma kekerdilan pada broiler ? dan apa saja penyebabnya? Sindroma kekerdilan didefinisikan sebagai : Sekelompok ayam (umumnya terjadi 5-40% populasi ) yang mengalami laju pertumbuhan yang kurang pada kisaran usia 4-14 hari.
Dimana setelah pada awalnya pertumbuhan tertekan, kemudian kembali normal, tetapi tetap lebih kecil dari yang normal. (Nick Dorko, 1997). Bila kondisi di atas dialami peternak broiler maka beberapa kerugian sudah nampak di depan mata seperti : tingginya ayam culling; tingginya fcr; rataan berat badan di bawah standar; berat badan yang sangat bervariasi, hal mana akan menjadi masalah bila ada kontrak dengan slaughter house/ rumah potong ayam, masalah dengan penjualan karena banyaknya ayam yang kecil. Pertanyaannya adalah apakah kejadian kekerdilan pada broiler ini hanya merupakan sindroma saja ataukah merupakan penyakit yang sangat banyak penyebabnya ? Multifactorial Causative Disease ?Beberapa ahli penyakit ayam menyatakan bahwa runting and stunting syndrome terdiri atas tiga bentuk yaitu Enteritic; Pancreatic dan Proventricular (yang mana hal tersebut lebih didasarkan kepada organ yang diserangnya), yang paling penting sindroma kekerdilan ini merupakan sindroma penyakit yang disebabkan oleh banyak faktor. PENYEBAB SINDROMA KEKERDILAN Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya yaitu : Penyebab berasal dari Pembibitan Penyebab berasal dari Penetasan / Hatchery Penyebab berasal dari Manajemen Produksi Penyebab berasal dari Pakan / Nutrisi Penyebab berasal dari Lingkungan Penyebab berasal Penyakit
1. Penyebab berasal dari Pembibitan.
Beberapa hal yang berasal dari Pembibitan yang dapat menyebabkan doc yang dihasilkan mengalami sindroma kekerdilan antara lain :
- Telur tetas kecil (telur tetas yang berasal dari usia induk < 35 minggu dan atau biasanya pada saat puncak produksi)
- Maternal antibodi Reo-virus yang diturunkan rendah, padahal DOC perlu Maternal Antibodi yang tinggi
- Akan lebih parah apabila induknya positif Salmonella enteritidis
- Walaupun demikian kekerdilan bukan merupakan penyakit yang diturunkan
2. Penyebab berasal dari Penetasan / Hatchery.
Beberapa hal yang berasal dari Penetasan / Hatchery yang dapat menyebabkan doc yang dihasilkan mengalami sindroma kekerdilan antara lain :
Ø Waktu koleksi telur tetas yang terlalu lama
Ø Tidak dilakukannya grading telur tetas yang akan dimasukkan ke mesin tetas
Ø Bercampurnya telur tetas yang berasal dari usia induk yang sangat jauh berbeda
Ø Terlalu lama proses penanganan di ruang seleksi sehingga doc mengalami stress
Ø Kurang representatifnya alat angkut doc (chick van) dari Hatchery ke Peternak / kandang pemeliharaan.
3.Penyebab berasal dari Manajemen Produksi
Manajemen Produksi juga dapat menjadi penyebab terjadinya sindroma kekerdilan seperti : Biosecurity yang buruk Farm terdiri dari beberapa usia (multi ages) Kurang baiknya kualitas doc yang dipelihara Penanganan doc yang kurang baik terutama waktu periode brooding Cara pemberian, kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan tidak benar

4.Penyebab berasal dari Pakan / Nutrisi Kandungan yang terdapat pada pakan jika kurang atau berlebihan kadangmenimbulkan pertumbuhan yang kurang baik bagi ayam yang dipelihara misalnya :
Ø Gejala sering seperti ayam yang terserang mycotoxicosis, khususnya AflatoxicosisØ Penggunaan Bungkil Kacang Kedelai yang berkualitas rendah
Ø Penggunaan Canola Meal dan Protein Hewani lebih daripada 8%
Ø Tidak ada atau rendah kandungan Natrium (khusus di Asia)
Ø Penggunaan vitamin yang kurang, khususnya pada pakan Breeder.

5. Penyebab berasal dari
Lingkungan. Menempatkan ayam pada kondisi lingkungan yang kurang kondusif akan juga mengakibatkan ayam terkena
sindroma kekerdilan, seperti :
Ø Lingkungan kandang yang bersuhu dan kelembaban terlalu tinggi
Ø Liingkungan kandang yang terlalu padat populasi ayamnya dan terdiri dari berbagai usia
Ø Lingkungan kandang merupakan daerah endemic penyakit yang bersifat imunosupresif.

6. Penyebab berasal dari Penyakit.Ada beberapa penyakit yang dapat memicu
timbulnya sindroma kekerdilan, dimana penyakit tersebut umumnya menimbulkan stress dan khususnya bersifat immunosupresif, seperti :
• Infeksi Reo virus
• Infeksi Mareks Disease, hal ini dapat terjadi terutama di Asia karena Broiler di Asia tidak divaksinasi
• Chicken Anemia Virus, vaksinasi tidak dilakukan di beberapa negara• ALV – J, diduga ada korelasi positif dengan sindroma kekerdilan
• Infectious Bursal Disease / Gumboro, beberapa negara hanya memakai strain klasik untuk vaksinasinya• Avian Nephritis Virus
• Reaksi yang berlebihan dari vaksinasi ND dan IB Penyebab utama yang paling berperanan adalah Reo virus dengan spesifikasi sebagai berikut : √ Virus tidak berselubung / amplop,
tahan panas dan dapat hidup :
Ø pada 600 C selama 8-10 jam
Ø pada 560 C selama 22-24 jam
Ø pada 370 C selama 15-16 minggu
Ø pada 220 C selama 48-51 minggu
Ø pada 40 C selama lebih dari 3 tahun
Ø pada - 630 C selama lebih dari 10 tahun

PENULARAN PENYAKIT Penularan dapat terjadi secara horizontal (Robertson & Wilcox, 1984 dan Van Der Heide, 1977) Melalui jalur respirasi (Roessler, 1986) Penularan secara vertikal dengan suatu percobaan dengan cara inokulasi induk usia 15 bulan, ternyata pada doc hasil tetasannya (17 – 19 hari post inokulasi) mengandung virus reo (Menendez, Van Der Heide dan Kalbac, 1975)GEJALA KLINIS Biasanya mulai terlihat pada usia 4-8 hari dengan ciri-ciri : Malas bergerak Bulu kusam Coprophagia (faeces / litter eating) Bila di uji gula darahnya Hypoglycaemic Hanya sebagian populasi yang terkena dengan kategori :
Ø 5 - 10 % populasi dengan kategori RINGAN
Ø 10 - 30 % populasi dengan kategori BURUK
Ø 30 % populasi dengan kategori

BENCANA / MALAPETAKA Biasanya terlihat pada usia 2 minggu :
Ø Bulu sekitar kepala dan leher tetap “ Yellow Heads
Ø Bulu primer sayap patah / dislokasi “ Helicopter Birds Stress Banding
Ø Tulang kering / betis berwarna pucat
Ø Jika diperiksa kotorannya masih utuh / makanan hanya lewat saja " Helicopter Bird"

"Tulang Kering Pucat " Bulu sekitar leher dan kepala masih kuning “ YELLOW usia ayam di bawah ini adalah sama ) PATOLOGI ANATOMI
Ø Perubahan terutama terjadi pada usus seperti : pucat, tipis, berisi material cair sampai berlendir
Ø Kadang ada radang proventriculus
Ø Ada degenerasi pada pancreas
Ø Makanan pada usus bagian belakang masih utuh "Perubahan pada Pancreas" "Usus Tipis dan Pucat" Usus Belakang" "Pembesaran Proventriculus " "Dinding Proventriculus Tebal "

PENGENDALIAN PENYAKIT
1.Pembibitan
Ø Induk harus dapat memberikan bekal maternal antibodi yang tinggi
Ø Hindari terinfeksi dengan Salmonella enteriditis
Ø Perbesar telur tetas dengan cara tunda awal produksi dini (pengaturan lighting), berat badan betina harus masuk berat standar, kebutuhan Kcal / protein / ayam terpenuhi. Tambahkan protein / asam amino pada pakan periode petelur dengan Methionine / Cysteine

2. Hatchery.
Ø Hindari menetaskan telur tetas yang kecil
Ø Perpendek waktu koleksi telur tetas
Ø Jangan menetaskan telur tetas yang berbeda usia / ukuran dalam satu mesin
Ø Percepat proses seleksi doc dan secepatnya didistribusikan
Ø Pergunakan alat pengangkut doc dari hatchery sampai peternak dengan alat angkut yang representatif, terutama lengkapi dengan Ventilator

3. Farm Broiler.
Ø Laksanakan proses biosecurity dengan baik dan benar, agar farm dapat seoptimal mungkin terbebas dari serangan infeksi penyakit pemicu terjadinya kekerdilan
Ø Penggunaan desinfektan yang mengandung antiviral seperti GLUTAMAS dan SEPTOCID sangat dianjurkan
Ø Usahakan satu unit farm diisi oleh ayam yang satu usia, karena jika ada serangan kekerdilan ayam yang ber-usia paling muda yang paling parah terkena infeksi
Ø Jika mendapat doc kecil / bibit muda / doc berasal dari telur tetas kecil, maka tatalaksana brooding harus sempurna; berikan pada minumnya multivitamin yang mengandung vitamin A, D dan E seperti VITAMAS; perhatian difokuskan kepada suhu sekitar brooding; pemberian pakan yang intensif dan mudah dijangkau ayam, demikian juga dengan air minum harus selalu tersedia dalam keadaan segar
Ø Bila kekerdilan sudah menyerang ayam di kandang, maka lakukan langkah :
1. Ayam yang hanya mencapai 40% dari berat badan standar dipisahkan / diculling
2. Lakukan desinfeksi area kandang secara rutin dengan GLUTAMAS atau SEPTOCID, dosis berikan sesuai petunjuk pembuatnya
3. Ayam yang ber-berat badan > 40% dari berat badan standar dan Normal berikan minum yang mengandung
MASABRO atau HYPRAMIN – B, sesuai petunjuk pembuatnya
4. Pakan sebaiknya tetap menggunakan pakan starter sampai panen
5. Sebaiknya ayam di panen pada berat 1.0-1.2 kg saja
Ø Periksakan pakan secara periodik untuk kontrol kandungan mycotoxin
Ø Pastikan pakan kandungan bahan bakunya seimbang dan sesuai dengan peruntukan usia ayam

Sumber :

Kontribusi Dari Drh Arief Hidayat

Welcome to Mensana Aneka Satwa,Produsen Obat Hewan,Vaksin,Antibiotik,Vitamin
http://www.mensana-id.com